Berputarnya Rol Film Kita: Refleksi Dan Proyeksi Kebangkitan Sinema Indonesia

Di tengah era digital dengan kebebasan pilihan hiburan ataupun komunikasi, film lokal dengan berbagai jenis genre dan kisah yang hendak diceritakan  masih memiliki tempatnya tersendiri di antara masyarakat Indonesia. Setiap harinya, bioskop-bioskop memutarkan berbagai tayangan film dan hampir setiap saat seseorang akan menemui terdapat poster film Indonesia terpampang di dinding. Barangkali tidak semua dari kita merupakan seorang yang memiliki antusiasme tinggi terhadap dunia perfilman, tetapi tidak dapat dimungkiri bahwa keberadaan film Tanah Air akan menjadi citra kita di mata dunia dan perkembangannya akan memiliki dampak khusus bagi relasi antara masyarakat Indonesia dengan dunia. Melalui tulisan ini, penulis ingin mengapresiasi kiprah sinema kontemporer sekaligus mencoba untuk melihat bagaimana momentum tersebut bisa berkembang lebih lanjut.

Sejarah perfilman Indonesia sejatinya merupakan lembaran panjang yang hampir berusia satu abad. Namun, tulisan ini hendak memulai konteks perfilman kontemporer Indonesia dari era 1990-an. Mengapa dekade tersebut? Di antara pembaca yang lahir pada masa reformasi, suatu bioskop tanpa adanya satupun film Indonesia merupakan sesuatu yang jarang terjadi, tetapi hal tersebut merupakan fenomena lumrah pada era 90-an ketika layar perak nasional hampir selalu didominasi oleh film impor. Kekalahan persaingan dengan film luar dan munculnya televisi swasta mendorong eksodus rumah produksi untuk beralih ke produksi serial drama ketimbang film lepas (Paramaditha, 2017). Memperburuk “Era Kegelapan” sinema Indonesia, mayoritas produksi film nasional yang bertahan kala itu kerap memakai tema vulgar, kekerasan, dan eksploitasi seksualitas sehingga film Indonesia menjadi sangat identik dengan stigma negatif. Pemerintah Indonesia pada masa tersebut juga bersikap abai terhadap perubahan budaya global dan cenderung tidak memberikan dukungan signifikan terhadap perfilman nasional, sehingga secara perlahan jumlah bioskop di Indonesia mengalami penurunan (Panuju & Juraman, 2019).

Lalu apa hal yang memelopori sinema Indonesia untuk kembali hidup seperti sekarang? Walaupun liberalisasi sejak era Reformasi memiliki andil bagi perkembangan dunia perfilman Indonesia, pembuka jalan bagi kembalinya perfilman Indonesia tidak datang dalam suatu tontonan luar biasa megah, melainkan berasal dari produksi film-film indie seperti “Kuldesak” yang dibuat mulai tahun 1996 dan ditayangkan pada 1998.  Film bergenre drama komedi hitam tersebut mengisahkan bagaimana sekelompok anak muda berjuang di tengah kerasnya kehidupan ibukota seraya mencoba mengikuti hobinya masing-masing. Menariknya, terdapat alegori khusus yang mana salah satu karakter utama bernama Aksan dikisahkan memiliki intensi menjadi produsen film, tetapi mendapat penolakan dari orang tuanya meskipun mereka termasuk keluarga mapan. Entah korelasi kisah Aksan dengan perfilman Indonesia tersebut dilakukan secara sengaja atau tidak, kritik sosial yang disampaikan melalui Kuldesak beserta komunitas film indie lainnya merupakan momen lepas landas bagi sinema Indonesia untuk meninggalkan label lama sebagai pusat perindustrian film bernuansa eksploitatif dan dimulainya era baru bagi kreativitas sineas nasional. Memudarnya efek buruk dari krisis finansial yang melanda Indonesia pada akhir 1990-an turut membuka jalan bagi terbentuknya rumah produksi baru dan memungkinkan produksi “film-film idealis” yang mencoba menggali ulang pesan moral dan penggambaran budaya atau kekayaan alam Indonesia. Dari momen inilah muncul film-film legendaris seperti Pertualangan Sherina (2000), Pasir Berbisik (2001), dan Ada Apa Dengan Cinta (2002).

Cuplikan film Kuldesak. (Republika)

Apakah dekade hilang tahun 1990-an mengakibatkan perfilman Indonesia untuk selalu tertinggal dari sinema luar? Singkatnya, tidak. Fenomena masa kegelapan sinema nasional ini juga pernah terjadi di beberapa negara asing seperti Korea Selatan. Serupa dengan Indonesia, Korea Selatan pada dekade 1990-an mengalami permasalahan serius perihal membanjirnya impor film Barat pasca deregulasi proses pendistribusian film asing. Pada saat itu pula, masyarakat dan pemerintah Korea Selatan juga belum melihat bagaimana perfilman bisa memajukan negara mereka di dalam kancah global, sehingga paradigma pembangunan mereka masih terpaku dalam pembangunan industri teknologi dan manufaktur. Momen “Kuldesak” Korea sendiri datang bukan dari film indie, melainkan dari satu laporan dari penasehat kepresidenan bahwa laba dari satu film “Jurassic Park” adalah sama dengan penjualan 1,5 juta mobil Hyundai. Secara perlahan, industri film domestik menjadi prioritas dari pemerintah dan menjadi incaran konglomerat chaebol yang mulai menanamkan modal mereka ke dalam industri yang hampir mati tersebut. Walaupun partisipasi perusahaan chaebol tidak berlangsung lama karena krisis finansial akhir dekade 1990-an, upaya investasi tersebut berhasil menciptakan prospek baru bagi sineas muda dan secara permanen membangun sumber daya manusia yang kompetitif untuk menciptakan film berkualitas (Jukneviciute, 125-126). 

Kalau begitu apakah Indonesia perlu meniru Korea Selatan dalam melibatkan pihak konglomerat? Melihat keberhasilan Korea Selatan yang dalam waktu singkat berhasil melakukan transformasi di bidang perfilman, tentulah sangat menggoda bagi kita untuk mengimitasi langkah negara tersebut. Walaupun baik buruknya langkah tersebut masih belum dapat dijawab pasti, kita patut bersikap hati-hati terhadap upaya kapitalisasi berlebih dalam upaya mengejar ketertinggalan sinema Indonesia. Bila kembali menelaah perkembangan di Korea Selatan, krisis finansial merupakan momen keberuntungan, suatu “Deus ex Machina” bagi sineas di negara tersebut untuk bisa mengeksplorasi ide tanpa harus terikat dengan syarat atau ketentuan perusahaan besar. Hal tersebut menjadi penting karena pada akhirnya bukan chaebol yang menghasilkan kedewasaan sinema Korea, melainkan pelaku sineas. Perusahaan bisa saja paham tentang apa yang pasar perlukan, tetapi hanya sineas saja yang bisa memahami nilai artistik dan psikologi sosial dari audiens.

Kini lebih dari dua dekade sejak impian Aksan dalam Kuldesak, perindustrian film Indonesia mampu bergerak secara jauh lebih leluasa dan luas dibandingkan masa 1990-an. Memasuki abad ke-21, masyarakat Indonesia sudah termanjakan oleh berbagai genre dan kisah film domestik hingga ke titik generasi muda jarang mengetahui masa kegelapan yang pernah terjadi di industri perfilman domestik. Kritik dan cemoohan tentu saja masih bertebaran di sana-sini, tetapi kita perlu merefleksikan dan mengapresiasi bahwa kondisi layar bioskop Indonesia sudah tidak seusang dan sesuram dua hingga tiga dekade yang lalu. Di tengah maraknya globalisasi media dan digitalisasi informasi, Indonesia akan semakin terbanjiri dengan masuknya film asing, tetapi penulis masih merasa optimis bahwa kondisi perfilman Indonesia sudah memasuki masa remaja, yakni memahami betul tantangan dunia luar dan di saat bersamaan masih mencari jati dirinya tersendiri. Untuk itu, bisa disimpulkan bahwa perfilman negara ini barangkali tidak tertinggal sejauh yang kita bayangkan dulu, hanya saja masih sulit untuk menjawab apakah iklim perfilman Indonesia mampu menciptakan karya yang kompetitif, tetapi juga tidak eksploitatif. Barangkali kita memerlukan momen “Kuldesak” baru untuk bisa menjawabnya.

Daftar Pustaka

Barker, T. (2019). Indonesian Cinema after the New Order: Going Mainstream, HKU Press. Hong Kong: HKU Press. https://www.academia.edu/38129662/Indonesian_Cinema_after_the_New_Order_Going_Mainstream

Jukneviciute, L. (2011, January).The soft power implications of the new South Korean cinema: Approaching audiences in East Asia and Lithuania, Acta Orientalia Vilnensia 12(1), 121-137. https://www.researchgate.net/publication/331019750_The_soft_power_implications_of_the_new_South_Korean_cinema_Approaching_audiences_in_East_Asia_and_Lithuania

Panuju, R., & Juraman, S. R. (2019, January). Politics of Film Needed by National Film Industry in Indonesia: Proceedings of the 1st Annual International Conference on Social Sciences and Humanities (AICOSH 2019) (pp. 128-131). http://dx.doi.org/10.2991/aicosh-19.2019.28 

Paramaditha, I. (2017).Review: Film Studies in Indonesia: An Experiment of a New Generation. Bijdragen tot de Taal-, Land – en Volkenkunde,  173(2), 357-375. https://www.jstor.org/stable/26281596 

Pawito, P. (2008). Politics and Culture In Indonesian Cinema. The Indonesia Journal of Communication Studies, 1 (1). https://media.neliti.com/media/publications/63141-EN-politics-and-culture-in-indonesian-cinem.pdf

Republika. (2015, December 15). Kuldesak, Wujud Pemberontakan Perfilman Indonesia. Ameera. https://ameera.republika.co.id/berita/pka3mx328/kuldesak-wujud-pemberontakan-perfilman-indonesia 

HIQuarters, Meet the Author!

Divisi Penelitian dan Pengembangan HMHI UI

Divisi Penelitian dan Pengembangan Himpunan Mahasiswa Hubungan Internasional adalah divisi yang bertujuan untuk menghadirkan konten penelitian dan menjadi wadah untuk kreativitas dan pengembangan diri mahasiswa.

Divisi Penelitian dan Pengembangan HMHI UI
Divisi Penelitian dan Pengembangan HMHI UI

Divisi Penelitian dan Pengembangan Himpunan Mahasiswa Hubungan Internasional adalah divisi yang bertujuan untuk menghadirkan konten penelitian dan menjadi wadah untuk kreativitas dan pengembangan diri mahasiswa.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *