‘Britpop’ Sebuah Momentum saat Britania Kembali Mengekspor Budaya Pop

Sebuah periode yang menggambarkan titik balik kebangkitan Britannia Raya menuju perubahan dan pembaharuan di berbagai bidang mulai dari sosial,budaya,seni hingga politik pada awal 90-an hingga akhir 90-an. “Cool Britannia” (sebutan lain dalam menggambarkan periode ini) adalah masa paling keren dalam hidup mereka kata orang-orang Britannia. Lantas, apa yang membuat periode tersebut mendapat titel “Cool Britannia”?

Bagi mereka para Britons—sebutan bagi penduduk Britania—tahun 80-an adalah masa-masa stagnansi dalam berbagai bidang, mengapa demikian? 11 tahun sudah Partai Konservatif menguasai parlemen Inggris yang mungkin cukup menjenuhkan bagi mereka, terlebih para anak muda yang terkekang oleh status quo. “Tak ada masyarakat, yang ada hanyalah pria, wanita individu, dan keluarga” kira-kira kalimat yang Thatcher ucapkan tersebut sudah cukup menggambarkan bagaimana konservatif amat serius mengekang kebebasan individu dengan membiarkan kapitalisme dan modernisasi menjadi satu-satunya vaksin bagi virus krisis politik dan ekonomi yang melanda Britania Raya pasca Perang Dunia Kedua. Penerapan sistem neoliberalisme ala Thatcher atau “Thatcherisme”, pencekalan buruh, dll lagi-lagi memang menjadi menu andalan para elit konservatif yang tanpa mereka sadari di sisi lain memicu amarah dan pemberontakan terutama dari mereka anak muda dan para working class.1

Berbagai amarah dan pemberontakan tersebut dapat kita telaah dari berbagai gerakan, salah satunya adalah kemunculan berbagai band punk yang merepresentasikan jiwa-jiwa yang memberontak. “Anarchy in The UK” ujar Sex Pistols atau lirik satire nan ironi ala The Clash “London Calling”. Memang, lagi-lagi medium seni menjadi satu-satunya elemen ruang publik yang cukup nyaman bagi mereka yang ingin terus memberontak tanpa perlu berteriak di depan gedung parlemen. Berbagai dinamika politik yang terjadi di Inggris pada akhirnya memang menjadi pelatuk akan sebuah perubahan terkhusus dari mereka anak-anak muda di Inggris yang dulu kerap melakukan ritual eskapismenya lewat tenggakan pil ekstasi dan heroin untuk “bebas” dari belenggu pemerintahan si “wanita besi”. Namun, angin perubahan itu nampaknya memang segera berhembus di awal tahun 90-an.

Konser salah satu band skena independen dari Manchester ‘The Stone Roses’ di Spike Island 1990 dianggap merupakan sebuah selebrasi kebebasan dan bagi mereka para penonton yang didominasi anak muda

“Datang dan menikmati konser sambil mengisap ganja” setidaknya begitulah para pengamat musik menggambarkan bagaimana suasana konser The Stone Roses yang dihelat di Spike Island pada tahun 1990. Bagi para pengamat musik, konser ini tak hanya berarti sebagai sebuah pertunjukan belaka melainkan merupakan momentum yang mana anak muda di Inggris merasakan kembali kebebasan yang telah lama hilang dan kemudian oleh banyak media di Inggris disebut sebagai “Cool Britannia”. “Cool Britannia” menjadi simbol lahirnya kultur baru di Inggris yang penuh pembaharuan dan kebebasan. “This American Satelites Won” sebuah bagian dari lirik lagu “Waterfall” karya The Stone Roses yang menggambarkan Inggris akan menciptakan orisinilitas mereka di berbagai aspek terlebih dalam aspek industri budaya pop yang bertahun-tahun “dikuasai” oleh Amerika Serikat.

Awal 90-an, lahirlah Grunge sebuah sebutan genre musik yang berakar dari punk di Amerika Serikat. Namun, alih-alih membahas politik sebagaimana kebanyakan lagu Punk, Grunge lebih sering membahas mengenai sisi emosional dan keinginan “memberontak” dari mereka para anak muda di Amerika Serikat. Grunge menjadi sebuah genre yang sangat populer di Amerika Serikat bahkan menyebar ke berbagai penjuru dunia tak terkecuali Inggris. Nirvana, Pearl Jam, The Smashing Pumpkins, dll menjadi roda penggerak dari genre ini yang sangat populer dan dianggap sebagai sebuah “Teen Spirit” sebagaimana lagu Nirvana yang berjudul “Smells Like Teen Spirit”. Namun, di saat Nirvana kala itu sedang berada dalam tingkat popularitas yang sangat tinggi, Kurt Cobain secara tiba-tiba meninggal karena overdosis pada April ’94. Kejadian ini secara tidak langsung seolah-olah juga menjadi titik akhir dari grunge dan lambat laun popularitasnya kian menurun. Awal 90-an di Inggris banyak band yang pada saat itu memilih untuk “menghindari” Grunge dan bereksperimen dengan berbagai macam genre musik yang sempat populer di Inggris pada tahun 60-an.2

pinterest.com

Kurt Cobain dan Gitarnya

invaluable.com

The Smiths “The Queen Is Dead” Poster

Pada akhir 80-an, banyak band-band seperti The Smiths, The Stone Roses, Joy Division, Slowdive, dll yang bereksperimen dengan berbagai genre yang kebanyakan dipengaruhi oleh musik 60-an, seperti genre Shoegazing yang dipengaruhi Psychedelic dan Noise Rock atau Jangle Pop yang dipengaruhi musik pop 60-an. Band-band tersebut bisa dianggap sebagai kelompok yang menumbuhkan sisi orisinilitas Inggris dalam musik rock yang cukup populer di Inggris, namun tidak di Amerika Serikat. Hingga pada awal 90-an, band-band seperti Suede, Blur, dan Pulp yang juga masih dipengaruhi musik rock Inggris era 80-an mulai mendapat tempat kembali di Industri musik Inggris yang sempat dikuasai grunge. Dengan berbagai perpaduan musik yang secara kental mengandung sisi “ke Inggris an”, seperti misalnya musisi dengan celana baggy—yang identik dengan skena indie dari Manchester—dan melodi yang catchy secara umum popular disebut sebagai Britpop oleh para jurnalis musik di Inggris pada saat itu.3 Single dari Suede berjudul “The Drowners” yang dirilis pada tahun 1992 dan “Popscene” dari Blur disebut sebagai titik dimana Britpop berubah menjadi sebuah genre yang populer di Inggris dan perlahan-lahan menghapus pengaruh dari grunge. Radiohead di tahun 1993 merilis single mereka yang berjudul “Creep” dengan pengaruh grunge yang cukup kental seketika menjadi sangat populer di Amerika Serikat walaupun di album selanjutnya mereka tidak lagi melakukan eksperimen di genre grunge. Walaupun kental dengan grunge-nya, “Creep” seolah-olah menjadi sebuah kunci yang membuka pintu bagi band-band Inggris kembali masuk ke berbagai klasemen musik di Amerika Serikat.

Pasca meninggalnya Kurt Cobain, Oasis band asal Manchester merilis album debut mereka bertajuk “Definitely Maybe” pada 1994 dan dianggap sebagai sebuah momentum oleh media di Inggris dimana britpop pada akhirnya menjadi produk budaya pop yang cukup segar untuk diimpor ke berbagai negara. Dengan berbagai ciri khas mereka, band-band britpop secara perlahan dikenal di seluruh dunia, tak terkecuali di Amerika Serikat. Britpop menjadi sebuah pondasi dari fenomena “Cool Britannia” yang kebanyakan liriknya menggambarkan konflik kelas, kebebasan, sentimen terhadap feodal, dan narasi kesetaraan adalah selebrasi untuk merayakan lahirnya semangat dan perubahan di dekade yang baru.4

HIQuarters, Meet the Author!

Diboy
Student at Universitas Indonesia

Seonggok daging yang tidak hanya punya nama namun juga seonggok daging yang terus berpikir dan berjalan menapaki landai terjalnya jalan berbatu bernama kehidupan. Menulis bagi saya merupakan media membebaskan diri dari dunia yang dipenuhi kebanalan dan pragmatisme sistem yang dibuat oleh mereka para penghamba dari efisiensi. Berpikir di luar rule books kadang kala terasa seperti terjun bebas, namun kalau saya beruntung saya akan mendarat di atas bukit yang dipenuhi harumnya edelweiss dan sejuknya cemara.

References

  1. “Jarvis Cocker on His Forward-Thinking New Album: “‘Cool Britannia’ Made Me Throw up,’” NME, 23 Juli 2020, https://www.nme.com/features/jarvis-cocker-jarv-is-beyond-the-pale-interview-peak-district-2709140, diakses 8 September 2021.
  2. Andrew Bennett and Jon Stratton, Britpop and the English Music Tradition (London: Routledge, Taylor & Francis Group, 2016), hlm 49-54.
  3. John Harris, Britpop!: Cool Britannia and the Spectacular Demise of English Rock (Cambridge, MA: Da Capo Press, 2004), hlm 201.
  4. John Harris, 295.
Diboy
Diboy

Seonggok daging yang tidak hanya punya nama namun juga seonggok daging yang terus berpikir dan berjalan menapaki landai terjalnya jalan berbatu bernama kehidupan. Menulis bagi saya merupakan media membebaskan diri dari dunia yang dipenuhi kebanalan dan pragmatisme sistem yang dibuat oleh mereka para penghamba dari efisiensi. Berpikir di luar rule books kadang kala terasa seperti terjun bebas, namun kalau saya beruntung saya akan mendarat di atas bukit yang dipenuhi harumnya edelweiss dan sejuknya cemara.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *