Death on the Nile: Tragedi Dualisme dan Instabilitas Sudan

Pecahnya konflik yang terjadi di Republik Sudan sejak 15 April 2023 masih terus berkembang tanpa adanya kepastian akhir dari konflik. Pertempuran yang terjadi di negeri tersebut berakar dari perlombaan kepentingan antara dua kelompok militer yakni Rapid Support Force (RSF) melawan Sudanese Armed Forces (SAF) yang mendominasi politik Sudan. Di tengah bergejolaknya situasi di Sudan, kajian ini ingin mengangkat akar dari permasalahan dan konsekuensi yang timbul terhadap Sudan dan negara di sekitarnya.

Republik Sudan, sebagai negara terbesar ketiga di Afrika selama beberapa dekade terakhir, kerap dihadapi oleh konflik dan instabilitas yang timbul dari perang, kudeta, dan gejolak sipil lainnya. Pada saat kajian ini ditulis, konflik bersenjata kembali bergejolak, dari ibukota Khartoum sebelum menyebar ke berbagai daerah Sudan dan memicu jatuhnya banyak korban jiwa. Mengetahui konteks dan dampak konflik ini menjadi sangat krusial untuk memahami penderitaan Sudan serta bagaimana negara-negara lain akan bertindak seiring dengan memburuknya kondisi negara tersebut.

Demonstrasi mendukung pemerintahan sipil. (Sumber: CNN)

Latar Belakang Konflik

Eskalasi di Sudan yang terjadi saat ini merupakan hasil dari perlombaan kepentingan antara dua kelompok bersenjata terbesar republik tersebut, yakni Sudanese Armed Forces (SAF) dan Rapid Support Forces (RSF). Akar dari dualisme kekuatan bersenjata ini dapat ditarik kembali ke masa kediktatoran Omar al-Bashir yang berkuasa secara absolut di Sudan dari tahun 1989 hingga 2019. Selama tiga dekade tersebut, pemerintahan Bashir melakukan berbagai tindakan represif meliputi genosida terhadap kelompok minoritas di Darfur yang mengakibatkan lebih dari 200.000 warga sipil terbunuh serta jutaan lainnya mengungsi (Vyver, 2015). Rezim tersebut juga memperluas kekuasaannya dengan menggunakan kekuatan kelompok milisi Janjaweed yang terbukti loyal terhadap pemerintah dan turut berperan dalam melakukan kekerasan terhadap warga sipil dan pihak oposisi. Bashir yang didukung oleh Janjaweed kemudian mendirikan RSF sebagai lembaga pertahanan resmi negara yang dipimpin oleh Mohamed Hamdan–dikenal juga sebagai Hemeti. Dalam perkembangannya, RSF berhasil menjadi kekuatan militer terbesar kedua di Sudan dengan estimasi jumlah personel sampai dengan 150.000 pasukan (Peltier & Dahir, 2023).

Tiga dekade kepemimpinan al-Bashir harus terhenti setelah gelombang aksi protes masyarakat Sudan pecah melawan rezim tersebut dan pihak-pihak militer, termasuk SAF dan RSF, sepakat untuk menumbangkan kediktatoran Bashir. Meskipun rezim lama berhasil ditumbangkan, proses peralihan demokrasi di Sudan harus kembali ke titik nol setelah Hemeti beserta pemimpin SAF Jenderal Abdel Fattah al-Burhan mengambil alih pemerintahan transisi pada Oktober 2021 (Ricket, 2021). Kudeta 2021 tersebut berhasil menempatkan militer di puncak kepemimpinan Sudan dengan Burhan sebagai pemimpin pemerintahan dan Hemeti selaku wakilnya. Akan tetapi persaingan kekuasaan antara Hemeti dan Burhan memperburuk relasi kedua kelompok bersenjata terbesar Sudan, terlebih dengan adanya penggabungan RSF dan SAF di bawah otoritas Burhan (Magdy, 2023). Kecurigaan antara Hemeti dan Burhan memuncak yang berujung pada pertempuran bersenjata. Ironisnya, konflik pecah satu setengah tahun setelah mereka bekerja sama untuk merebut pemerintahan Sudan.

Rentetan Konflik

Pada 15 April 2023, RSF mengerahkan kekuatan bersenjata serta melakukan penyerangan terhadap istana presiden, stasiun TV, bandara, serta markas-markas militer di Khartoum. Sebagai aksi balasan, SAF melakukan serangan balasan dengan mengerahkan kekuatan penuh untuk mengambil alih kawasan strategis dari tangan RSF. Laporan dari Khartoum menggambarkan situasi ibukota Sudan yang mencekam dengan suara ledakan dan baku tembak yang silih berganti terdengar sedangkan warga setempat bergegas mencari tempat berlindung. Insiden yang terjadi di ibukota tersebut dalam waktu singkat menyebar ke seluruh negeri dan Sudan jatuh ke dalam keadaan perang saudara tanpa jalan keluar yang pasti. Meskipun SAF memegang keunggulan dalam kepemilikan alutsista, latar belakang RSF yang bertahun-tahun beroperasi sebagai kelompok paramiliter di daerah pedesaan memberikan keunggulan di pedalaman Sudan. Upaya-upaya untuk mewujudkan gencatan senjata serta dialog masih belum membuahkan hasil. Kedua belah pihak masih bersikukuh lawan mereka sebagai kelompok yang bertanggung jawab atas memburuknya keadaan di Sudan.

Pasukan keamanan Sudan berpatroli di jalanan. (Sumber: MEE)

Satu pekan sejak pertempuran berlangsung, jumlah korban jiwa akibat pertempuran di Sudan telah mencapai 413 orang dengan mayoritas korban merupakan warga sipil. Strategi pengeboman oleh kedua belah pihak yang saling bertikai kerap menimbulkan banyak korban sipil berjatuhan serta memutus akses komunikasi, air bersih, maupun fasilitas kesehatan Memburuknya pertempuran dikhawatirkan akan menghambat proses penyaluran bantuan kepada sekitar 7,6 juta masyarakat Sudan dan memperparah malnutrisi yang sudah menjadi masalah akut di beberapa kawasan negara tersebut (Abdelrazek, 2023). Laporan dari World Food Programme menyebutkan bahwa tiga relawan mereka terbunuh sehingga pengiriman bantuan akan dihentikan sementara. Perserikatan Bangsa-Bangsa memperingatkan akan eksodus pengungsi dari Sudan menuju negara tetangga seperti Chad yang telah menerima 20.000 pengungsi dari Darfur.

Sudan dan Kepentingan Internasional

Pecahnya konflik antara RSF dan SAF telah menarik perhatian dari dunia internasional yang melihat celah keuntungan maupun ancaman seiring dengan perkembangan eskalasi Sudan. Di tengah persaingan politik kedua angkatan bersenjata hingga 2023, baik Hemeti maupun Burhan sudah menjalin kontak erat dengan pihak-pihak eksternal untuk memperkuat pengaruh pribadi dan kelompok masing-masing. Hemeti dilaporkan pernah bekerja sama dengan Libyan National Army (LNA) di Tobruk, Libya dalam hal pengiriman bantuan pasukan kepada otoritas Tobruk untuk melawan pemerintah Tripoli. Di lain pihak, Burhan dengan latar belakang pelatihan militernya di Mesir cenderung memilih untuk menjalin hubungan erat dengan Presiden el-Sisi Mesir, terlebih karena mereka pernah berlatih di akademi militer yang sama (Walsh, 2023). Meskipun Mesir sejatinya memiliki hubungan yang baik dengan kelompok LNA Libya, kedua pihak disinyalir memilih untuk mendukung pihak yang berlawanan di Sudan (Faucon, Said, & Malsin, 2023). Mesir sendiri mulai terseret ke dalam konflik setelah pasukannya yang ditugaskan di Sudan ditahan oleh pihak RSF. Sebagai respons terhadap tindakan RSF, pemerintah Kairo mendukung SAF melalui pengiriman tentara, intelijen, dan pesawat tempur. Secara kontras, LNA dituding melakukan pengiriman bantuan militer kepada Hemeti meskipun otoritas SAF membantah keterlibatan LNA dalam menyokong RSF (Ahram Online, 2023).

Jenderal Abdel Fattah al-Burhan dan Mohamad Hamdan. (Sumber: Africa Reports)

Selain Mesir dan Libya, negara lain yang kerap dikaitkan dengan konflik di Sudan adalah Ethiopia. Sebagai negara yang berbatasan langsung dengan Sudan, Ethiopia memiliki hubungan yang kompleks dengan Sudan dan kerap memiliki sengketa, termasuk dalam kepemilikan wilayah Al-Fashaga. Meskipun demikian, pemerintah Addis Ababa telah membantah adanya intervensi militer ke Sudan ataupun mendukung pihak yang bertikai. Entah narasi Ethiopia dapat dibuktikan atau tidak, hanya waktu yang dapat menjawab. Bagaimanapun juga, Ethiopia jelas memiliki kekhawatiran dengan konflik Sudan sebab mereka sendiri baru saja berhasil mengatasi perang saudara yang terjadi antara pihak pemerintah pusat dengan beberapa kelompok militer di kawasan seperti Tigray. Jika kelompok RSF sebagai kelompok bersenjata di luar pemerintahan yang sah resmi bisa menekan pemerintah pusat, keberhasilan mereka berpotensi menginspirasi berbagai kelompok bersenjata di Ethiopia untuk menekan pemerintah pusat. Untuk itu, Ethiopia sampai sekarang menghindari pemakaian kekuatan melawan Sudan dengan harapan konflik tetangga mereka tidak akan memperumit politik Ethiopia (Addis Standard, 2023).

Refleksi dan Kesimpulan

Pertanyaan yang masih sangat sulit untuk dijawab secara pasti adalah bagaimana konflik di Sudan ini bisa berpengaruh terhadap negara-negara di Afrika Utara dan Tanduk Afrika, dua kawasan yang identik dengan instabilitas. Indikasi sementara yang menunjukan sudah ada pihak internasional yang ingin menjaga kepentingannya di Sudan menggambarkan bahwa bila konflik Sudan tidak ditangani dengan hati-hati, Sudan dapat menjadi ladang perang proksi baru. Zona abu-abu lain yang belum dapat dijawab secara pasti adalah apa masa depan demokrasi di Sudan. Walaupun mayoritas masyarakat internasional menekankan pentingnya pengembalian pemerintahan sipil di Sudan, idealisme itu akan sangat sulit diterapkan bila konflik ini mengalami kebuntuan. Dengan skenario kemenangan SAF, Sudan kemungkinan besar akan menempuh jalan yang serupa dengan Mesir, proses demokratisasi gagal dan rezim militer baru terbit dengan alasan stabilitas nasional. Bila RSF berhasil mendapat kemenangan di Khartoum sekaligus menumbangkan Burhan, latar belakang mereka sebagai aktor pelanggar HAM di Darfur akan berpotensi menimbulkan gejolak sipil. Namun di tengah semua duel politik dan militer di republik tersebut, korban terbesar konflik adalah harapan demokrasi masyarakat Sudan yang nampaknya harus terkubur di tengah ketidakpastian yang mendera negara mereka.

Referensi

Abdelrazek, O. (2023, April 17). World Food Programme halts Sudan operations, 3 workers killed. Reuters. Retrieved from https://www.reuters.com/world/africa/world-food-programme-halts-operations-sudan-after-3-employees-killed-2023-04-16/

Faucon, B., Said, S., & Malsin, J. (2023, April 19). Libyan militia and Egypt’s military back opposite sides in Sudan conflict. The Wall Street Journal. Retrieved from https://www.wsj.com/articles/libyan-militia-and-egypts-military-back-opposite-sides-in-sudan-conflict-87206c3b

Gozzi, L., & Davies, A. (2023, April 24). Sudan fighting: diplomats and foreign nationals evacuated. BBC News. Retrieved from https://www.bbc.com/news/world-africa-65363586

Magdy, S. (2023, April 17). What sparked the violent struggle to control Sudan’s future?. Associated Press. Retrieved from https://apnews.com/article/sudan-clashes-military-rapid-support-forces-444d37ec93ccc813b2ba4abba24aca5c

Peltier, A., & Dahir, A.L. (2023, April 17). Who are the Rapid Support Forces, the paramilitaries fighting the Sudan’s armies?. The New York Times. Retrieved from https://www.nytimes.com/2023/04/17/world/africa/paramilitary-rsf-explainer.html

PM Abiy Ahmed warns parties working to incite war between Ethiopia, Sudan, refutes reports of Ethiopian forces incursion into Sudanese border. (2023, April 20). Addis Standard. Retrieved from

News: PM Abiy Ahmed warns parties working to incite war between Ethiopia, Sudan, refutes reports of Ethiopian forces incursion into Sudanese border

Ricket, O. (2021, October 29). Sudan coup: where is Hemeti?. Middle East Eye. Retrieved from https://www.middleeasteye.net/news/sudan-coup-where-is-hemeti

Ott, H. (2023, April 21). Sudan fighting rages despite ceasefire calls as death toll climbs over 400. CBS News. Retrieved from https://www.cbsnews.com/news/sudan-crisis-2023-fighting-continues-ceasefire-calls-death-toll-over-400/

Sudan army’s chief says Haftar denies supporting RSF; no confirmation on Wagner’s involvement (2023, April 23). Ahram Online. Retrieved from https://english.ahram.org.eg/News/496267.aspx

Vyver, J. D. (2015). The Al Bashir Debacle. African Human Rights Law Journal, 15 (2), 559-579. http://dx.doi.org/10.17159/1996-2096/2015/v15n2a16

Walsh, D. (2023, April 23). As war rages in Sudan, countries angle for advantage. The Japan Times. Retrieved from https://www.japantimes.co.jp/news/2023/04/23/world/sudan-clashes-countries-diplomacy/

HIQuarters, Meet the Author!

Divisi Penelitian dan Pengembangan HMHI UI

Divisi Penelitian dan Pengembangan Himpunan Mahasiswa Hubungan Internasional adalah divisi yang bertujuan untuk menghadirkan konten penelitian dan menjadi wadah untuk kreativitas dan pengembangan diri mahasiswa.

Divisi Penelitian dan Pengembangan HMHI UI
Divisi Penelitian dan Pengembangan HMHI UI

Divisi Penelitian dan Pengembangan Himpunan Mahasiswa Hubungan Internasional adalah divisi yang bertujuan untuk menghadirkan konten penelitian dan menjadi wadah untuk kreativitas dan pengembangan diri mahasiswa.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *