Demam Tambang: Pandangan Retrospektif Mineral dalam Geopolitik

Dewasa ini, konflik antara negara-negara acapkali terjadi akibat perebutan sumber daya alam. Negara yang kekurangan sumber daya berupaya merebut sumber daya alam dari negara lain yang memilikinya melalui cara diplomasi ataupun konfrontasi. Umumnya, sumber daya mineral merupakan sumber daya yang paling diperebutkan di antara sumber daya alam lainnya mengingat sifatnya yang langka dan tidak dapat diperbaharui. Artikel ini berupaya untuk mengkaji hal tersebut dengan meninjau artikel dari tahun 1967 karya John Ario Katili, guru besar geologi di ITB. Bagaimanakah pandangan beliau terhadap peranan sumber daya mineral dan bagaimanakah pengaruhnya terhadap dinamika geopolitik di Indonesia, Asia Tenggara, dan dunia pada masa itu?

Sumber mineral merupakan sumber daya alam (SDA) yang diproduksi melalui proses geologis dari bumi. Sifat sumber mineral yang langka, tidak dapat diperbaharui, serta peranannya dalam membangun kekuatan material suatu negara, membuat sumber mineral menjadi faktor vital dalam memahami power yang dimiliki sebuah negara. Dalam tulisan ini, penulis akan meninjau karya John Ario Katili yang berjudul “Sumber² Mineral dan Hubungan Internasional.” Artikel ini ditulis pada tahun Mei 1967 dalam jurnal Karya Wira Jati.

Latar Belakang

Prof. John Ario Katili merupakan seorang geolog, akademisi, politikus, dan diplomat dari Indonesia yang dikenal sebagai “Bapak Geologi Indonesia”. Sosok kelahiran Gorontalo, 9 Juni 1929 ini menempuh pendidikan tingginya di jurusan Geologi, Fakultas Ilmu Pasti dan Ilmu Alam Universitas Indonesia Bandung (FIPIA UI Bandung) dan lulus pada tahun 1955. Setelah itu, ia menjalani pendidikan doktoral di jurusan dan universitas yang sama, dan lulus pada tahun 1960 (ketika FIPIA UI Bandung telah berubah menjadi Institut Teknologi Bandung). Katili dikukuhkan sebagai guru besar geologi pada tahun 1961. Ia kemudian menjabat sebagai dekan dan pembantu rektor di ITB. Selain di ITB, Katili juga bekerja sebagai dosen dan konsultan di Sekolah Staf dan Komando Angkatan Darat (Seskoad) dan Lembaga Ketahanan Nasional (Lemhannas). Setelah berkarya di ITB, Katili bertugas di Departemen Pertambangan sebagai Direktur Jenderal Pertambangan Umum (1973—1984) dan Direktur Jenderal Geologi (1984—1989). Kedekatannya dengan Habibie, juniornya di ITB, mendorong pengangkatannya sebagai Wakil Ketua DPR pada tahun 1992 dan duta besar Indonesia untuk Rusia pada tahun 1999.

Gelar “Bapak Geologi Indonesia” disematkan kepadanya bukan tanpa alasan. Selama hidupnya, Katili berjasa dalam mengembangkan geologi, baik secara akademis maupun praktis. Buku pertama Katili yang ditulis pada tahun 1953, berjudul 3.000 Djuta Tahun Sedjarah Bumi,, menjadi salah satu bacaan favorit siswa sekolah menengah pada masanya. Selain itu, buku Geologi yang ditulis bersama dosennya di ITB, Dr. Marks, menjadi salah satu buku mengenai geologi yang paling komprehensif dengan ketebalan 900 halaman.

Kendati berkutat dalam disiplin ilmu pasti, Katili juga memiliki ketertarikan tersendiri dengan cabang ilmu sosial humaniora. Tulisan-tulisan Katili banyak dipengaruhi oleh sastrawan H.B. Jassin, yang juga berasal dari Gorontalo. Buku dan artikel yang ditulisnya tidak melulu hanya membahas mengenai teori geologi maupun geofisika, melainkan juga manajemen SDA dan ekonomi mineral. Artikel “Sumber² Mineral dan Hubungan Internasional” merupakan kontribusi dari Katili terhadap ilmu Hubungan Internasional. Selain artikel ini, Katili juga menulis sejumlah literatur terkait dengan geopolitik, yakni Sumber Alam untuk Masa Depan Indonesia (1972) dan Sumberdaya Alam dan Perubahan Global (1986).

Rangkuman

Katili memulai dengan menjelaskan peranan potensi sumber alam dan kemajuan industri terhadap suatu negara. Sumber alam berperan penting dalam menopang kedudukan negara sebagai suatu adidaya, sehingga negara-negara adidaya seperti Amerika Serikat dan Uni Soviet, yang menurut Katili memiliki industri yang maju tetapi sumber daya terbatas, akan dikalahkan oleh negara lainnya yang memiliki sumber alam lebih besar. Mineral, yang merupakan salah satu dari tiga jenis sumber alam, memiliki pengaruh terbesar di antara yang lainnya dan memegang peran penting dalam Perang Dunia I dan II.

Sumber daya mineral memengaruhi hubungan internasional dalam apa yang Katili namakan sebagai konsep have dan have not. Negara have not, yang tidak memiliki sumber daya cukup untuk memenuhi kebutuhannya akan tergantung dengan negara lain untuk memenuhi kebutuhan sumber alam. Hal ini mendorong terjadinya berbagai interaksi internasional seperti investasi dan kerja sama untuk memperoleh keuntungan melalui sumber daya alam. Namun, di saat yang bersamaan, SDA juga mendorong timbulnya konflik dan okupasi, seperti Ruhr, daerah penghasil batu bara di Jerman yang diduduki Prancis pasca-Perang Dunia I dan ekspansi imperialisme Jepang ke wilayah-wilayah kaya mineral di Asia Timur hingga Asia Tenggara. 

Katili mengkaji dampak kepemilikan sumber daya mineral lebih dalam dengan mengamati Perang Dunia I dan II serta konflik yang terjadi setelahnya. Katili mengutip ahli yang menyatakan bahwa negara-negara besar dalam Perang Dunia I dan II merupakan negara-negara produsen batu bara dan bijih besi terbesar. Sebab-sebab terjadinya invasi, pendudukan, konflik, atau kebijakan luar negeri—menurut Katili—dapat ditelusuri kembali pada faktor kepemilikan sumber daya mineral.  

Terkait dengan hal kepemilikan ini, Katili membandingkan antara dua adidaya dunia pada masa itu, yakni Amerika Serikat yang memiliki mineral dalam jumlah besar tetapi harus mengimpor mineral, dan Uni Soviet yang kaya mineral tetapi belum dieksplorasi seluruhnya. Katili pesimis terkait dengan kapabilitas sumber daya alam Amerika Serikat serta menganggap bahwa AS dan sekutunya akan segera mengekspor sumber daya alam dari Uni Soviet beserta dengan sekutunya.

Dari tulisannya, Katili menyimpulkan sendiri pengaruh sumber daya mineral, yakni sebagai penentu kalah dan menang dalam perang, alat untuk memaksakan kehendak politik, dan sumber kemakmuran, kejayaan, dan kekuatan suatu negara. Dengan mempertimbangkan pengaruh variabel sumber daya mineral, Katili menganalisis ancaman dari negara-negara di sekitar Asia Tenggara secara umum dan sekitar Indonesia secara khusus. Amerika Serikat, Uni Soviet, Australia, tidak akan menjadi ancaman karena negara-negara tersebut telah memiliki sumber daya alam yang cukup. Di lain pihak, Katili menganggap bahwa Republik Rakyat Tiongkok dan Jepang akan menjadi ancaman karena kekurangan sumber daya mineralnya. Kedua negara tersebut akan berupaya untuk melakukan drang nach Süden (ekspansi ke arah selatan) melalui Semenanjung Malaya ke Pulau Sumatera, sebuah wilayah yang digambarkan sebagai sebuah jembatan emas karena potensi mineral yang dimilikinya. Katili mendorong pembentukan Union of SE Asia sebagai wadah untuk mempersatukan negara Asia Tenggara dalam menghadapi ancaman tersebut.

Analisis

Artikel Katili ditulis pada masa awal berdirinya Orde Baru, beberapa bulan setelah Presiden Soeharto dilantik menggantikan Presiden Sukarno. Pada masa ini, terjadi transisi politik dari kebijakan luar negeri yang isolasionis dan pro-Blok Timur ke kebijakan luar negeri yang lebih terbuka terhadap asing dan pro-Blok Barat. Keterbukaan ini menimbulkan permasalahan terkait kedaulatan Indonesia terhadap sumber daya yang dimilikinya. Keran investasi yang dibuka oleh rezim Soeharto melalui UU Penanaman Modal Asing mendorong perusahaan-perusahaan asing seperti Freeport, ALCOA, Billton Mij, INCO, Kennecott, dan US Steel, untuk menancapkan kukunya ke dalam limpahan sumber alam Indonesia.

Pembentukan ASEAN (yang dulu bernama Union of SE Asia) juga menjadi topik yang disorot Katili. Negara-negara di wilayah Asia Tenggara memperoleh kemerdekaan mereka pasca-Perang Dunia ke-II sebagai dampak dari dekolonisasi. Kondisi dari negara-negara ini pasca-kemerdekaan tidaklah mulus dan harus menghadapi ancaman dari berbagai aspek. Ancaman-ancaman ini berupa konflik primordial, serangan dari luar kawasan Asia Tenggara, maupun serangan dari sesamanya, yang mengancam kedaulatan terhadap sumber daya mineral yang dimiliki. Keberadaan suatu organisasi regional, yang menekankan kooperasi dan non-kekerasan, akan menjamin kestabilan dan ketahanan dari negara-negara ini, sehingga memungkinkan untuk mengelola sumber daya alam yang dimiliki secara kooperatif. 

Dari sudut pandang teoretis, pemikiran Katili memiliki kemiripan dengan paradigma realisme yang menekankan peran power untuk mempertahankan eksistensi suatu negara. Sebagaimana dikemukakan oleh pemikir realis Hans J. Morgenthau, national power yang dimiliki oleh suatu negara terdiri dari sembilan elemen, yakni geografi, sumber daya alam, kapasitas industri, kesiapan militer, jumlah penduduk, karakter bangsa, moral bangsa, kualitas diplomasi, dan kualitas pemerintahan. Dua dari sembilan elemen ini, yakni sumber daya alam dan kapasitas industri, serupa dengan pemikiran Katili mengenai peranan potensi sumber alam dan kemajuan industri untuk memajukan suatu negara. 

Konsep have dan have not yang dikemukakan oleh Katili seiras dengan pemikiran world system theory yang diajukan oleh Immanuel Wallerstein. Wallerstein menganggap bahwa negara-negara kaya, yang terletak di pusat (core) akan mengeksploitasi negara-negara miskin yang terletak di sekitarnya (periphery). Negara-negara core merupakan negara-negara Barat yang kekurangan sumber daya alam, sehingga terdorong untuk mencari sumber daya alam di wilayah lain. Negara-negara periphery yang sebagian besar terletak di Afrika dan Asia, memiliki sumber daya alam yang melimpah, tetapi tidak mampu mempertahankannya. Sumber daya dari negara periphery akhirnya dieksploitasi oleh negara core. Menurut Katili, negara-negara “haves not ingin mensecure [mengamankan] sumber² alam yang tak dimilikinya” yang terdapat pada negara-negara have, sehingga memunculkan konflik antarnegara. Kegiatan yang digambarkan oleh Katili sebagai sebuah international movements

of minerals juga dapat terjadi melalui aliansi maupun perjanjian.

Meski berhasil memaparkan korelasi antara sumber daya alam dengan power dari suatu negara, Katili kurang tepat dalam memprediksi peristiwa geopolitik masa depan. Sebagaimana tertulis, Katili berpendapat bahwa “Negara²…world leaders sekarang, seperti Amerika Serikat dan Uni Sovjet [sic]…tak akan dapat mempertahankan kedudukan mereka sebagai world-power…” karena kurangnya sumber daya alam. Meski Uni Soviet akhirnya runtuh, Amerika Serikat hingga saat ini masih menjadi salah satu—bahkan menurut sejumlah ahli satu-satunya—negara adidaya.

Sebagai sebuah negara adidaya, Amerika Serikat mengalami peningkatan konstan dalam impor sumber daya alam. Menurut lembaga Survei Geologis Amerika Serikat, ketergantungan Amerika Serikat terhadap impor mineral dari luar negeri meningkat sebesar 250% dari tahun 1954 hingga 2016. Di tengah kekurangannya, Amerika Serikat memiliki keunggulan dalam bidang industri. Industri yang canggih dalam mengolah sumber daya mineral membuatnya tetap dapat mempertahankan kedudukannya sebagai negara adidaya. Seperti yang dikemukakan oleh David Jablonsky dari U.S. Army War College,  sumber daya alam tidak serta-merta menjadi sumber power apabila tidak disertai kemampuan yang memadai untuk mengolah dan mempertahankannya.

REFERENSI

“2016 U.S. Net Import Reliance | U.S. Geological Survey.” Accessed October 31, 2023. https://www.usgs.gov/media/images/2016-us-net-import-reliance.

Brayshay, Mark. “Capitalism and the Division of Labor.” In International Encyclopedia of Human Geography (Second Edition), edited by Audrey Kobayashi, 23–41. Oxford: Elsevier, 2020. https://doi.org/10.1016/B978-0-08-102295-5.10453-6.

Chirot, Daniel. “World Systems Theory.” In International Encyclopedia of the Social & Behavioral Sciences (Second Edition), edited by James D. Wright, 748–52. Oxford: Elsevier, 2015. https://doi.org/10.1016/B978-0-08-097086-8.32172-9.

Frankel, Jeffrey A. “Chapter 2. The Natural Resource Curse: A Survey of Diagnoses and Some Prescriptions.” In Commodity Price Volatility and Inclusive Growth in Low-Income Countries. International Monetary Fund. Accessed October 31, 2023. https://www.elibrary.imf.org/display/book/9781616353797/ch002.xml.

Kardulias, P. Nick, and Thomas D. Hall. “World-Systems Analysis: Traditions and Schools of Thought.” In Reference Module in Social Sciences. Elsevier, 2023. https://doi.org/10.1016/B978-0-323-90799-6.00185-3.

Katili, John A. “Sumber2 Mineral Dan Hubungan Internasional.” Karya Wira Jati, no. 24 (Mei 1967): 48–65. https://books.google.co.id/books?id=0CYsAAAAIAAJ&pg=RA3-PA48.

Keling, Mohamad Faisol, Hishamudin Md Som, Mohamad Nasir Saludin, Md. Shukri Shuib, and Mohd Na’eim Ajis. “THE DEVELOPMENT OF ASEAN FROM STRATEGIC APPROACHE.” Asian Social Science 7, no. 7 (July 3, 2011): p169. https://doi.org/10.5539/ass.v7n7p169.

Kompas. “Pakar Geologi J.A. Katili Meninggal Dunia.” June 20, 2008.

“Risk and Reliance: The U.S. Economy and Mineral Resources | U.S. Geological Survey.” Accessed October 31, 2023. https://www.usgs.gov/news/featured-story/risk-and-reliance-us-economy-and-mineral-resources.

Sempa, Francis P. . “Hans Morgenthau and the Balance of Power in Asia.” The Diplomat. Accessed October 31, 2023. https://thediplomat.com/2015/05/hans-morgenthau-and-the-balance-of-power-in-asia/.

Seran, Gotfridus Goris. “Kekuatan Politik Menuju Suksesi.” Mimbar Kekaryaan, n.d. https://books.google.co.id/books?id=lObeLtqtaNMC&pg=RA4-PA24.

WALHI. “Menilik Kembali Sejarah Dan Regulasi Industri Pertambangan Di Indonesia – Bagian 3,” August 12, 2021. https://www.walhi.or.id/menilik-kembali-sejarah-dan-regulasi-industri-pertambangan-di-indonesia-bagian-3.

HIQuarters, Meet the Author!

Jeromi Mikhael

Jeromi Mikhael is an international relations student with a keen interest in post-1945 Indonesian history, Indonesia’s defence policy, as well as the foreign affairs of African and Slavic countries. He is curious in researching new ideas and concepts as well as following the recent news on foreign affairs.

Jeromi Mikhael
Jeromi Mikhael

Jeromi Mikhael is an international relations student with a keen interest in post-1945 Indonesian history, Indonesia’s defence policy, as well as the foreign affairs of African and Slavic countries. He is curious in researching new ideas and concepts as well as following the recent news on foreign affairs.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *