Di Bawah Bayang Uni Eropa: ASEAN dan GCC

Berbicara dunia internasional tentu tak pernah terlepaskan dari dinamika yang terdapat di dalamnya. Dinamika yang terjadi tidak hanya antar aktor negara melainkan juga antar organisasi internasional. Diantara sekian banyak organisasi internasional yang eksis hingga saat ini yaitu GCC, ASEAN, dan Uni Eropa. Di samping perkembangan yang sangat pesat, ketiga organisasi tersebut juga kadangkala mengalami guncangan stabilitas baik dari sisi internal maupun eksternal. Namun, Uni Eropa kerap kali dijadikan contoh sebagai salah satu organisasi yang berhasil dan terbaik lewat kesuksesannya dalam mengonsolidasikan kekuatan negara untuk kekuatan institusi yang pada akhirnya membuat sebuah integrasi. Dalam tulisan ini, Mariska Kumalayati mencoba untuk menelaah lebih dalam terkait dengan komparasi antara GCC, ASEAN, dan Uni Eropa serta berbagai dinamika yang terjadi di dalamnya.

Ketika memikirkan sebuah institusi yang paling baik dan terorganisasi, kemungkinan besar yang muncul adalah Uni Eropa. Institusi lain, terutama yang regional, seperti Gulf Cooperation Council (GCC) dan Association of Southeast Asian Nations (ASEAN) sering dibandingkan dengan Uni Eropa. Tulisan ini akan membahas dinamika dalam GCC, ASEAN, dan Uni Eropa serta perbandingannya. Pada bagian berikutnya, penulis akan menyampaikan analisis serta menutup tulisan dengan kesimpulan dan opini penulis.

Gedung Berlaymont sebagai kantor pusat European Commision di Brussels (Sumber: Eurac Research)

GCC beranggotakan negara-negara di Semenanjung Arab, yakni Arab Saudi, Oman, Kuwait, Qatar, Uni Emirat Arab (UEA), dan Bahrain yang berbentuk kepulauan. GCC terbentuk pada tahun 1981 dengan tujuan untuk membangun integrasi ekonomi dan memajukannya. Selain itu, mereka juga mengharapkan adanya integrasi dalam bidang keamanan yang sampai saat ini terus diusahakan. Integrasi yang terjadi diharapkan bisa mengeluarkan negara-negara anggota dari keterpurukan setelah konflik panjang dan memberikan kestabilan yang akan mempermudah perkembangan dan kemakmuran negara.

Meskipun ada usaha integrasi di dalam GCC, ada banyak juga penghalang. Pertama, masih ada konflik perebutan wilayah di antara anggota. Walau sebagian besar sudah diselesaikan melalui jalur tinta di atas kertas, negara anggota masih mengangkat isu tersebut untuk kepentingannya yang kemudian berkaitan dengan penghalang kedua. Penghalang kedua dalam GCC adalah situasi konfliktual di Timur Tengah, terutama dari Iran yang dekat secara geografis dengan negara GCC. Karena tujuan utama negara adalah memastikan keberlangsungan negaranya, keamanan nasional menjadi prioritas utama, apalagi di tengah situasi yang belum damai. Masing-masing masih berjaga-jaga dengan ketat, bahkan dengan satu sama lain, sehingga sulit untuk membangun integrasi. Selain itu, masalah ketiga adalah kesenjangan power di antara negara anggota. Dengan tingkat kewaspadaan negara anggota yang tinggi akibat situasi regional, sensitivitas terhadap power juga tinggi. Tidak bisa dimungkiri, Arab Saudi memegang power tertinggi di kawasan dalam berbagai aspek. Sebagai contoh, dalam kasus krisis diplomasi dengan Qatar, Arab Saudi mampu mendorong sebagian besar negara anggota untuk memblokade Qatar atas dugaan dukungannya terhadap kelompok teroris dan kedekatannya dengan Iran. Kesenjangan power ini yang membuat negara anggota ragu untuk menundukkan dirinya di bawah GCC.

Uni Eropa memiliki landasan hukum yang kuat dan mengikat anggotanya. Uni Eropa dengan demikian sering menjadi panutan bentuk institusi internasional karena mampu mengonsolidasikan kedaulatan negara untuk kepentingan institusi. Uni Eropa pun juga memiliki latar belakang yang mendorong bentuk institusinya saat ini. Negara anggota Uni Eropa telah melalui begitu banyak perang dan konflik seperti GCC saat ini. Karena dampak masif dan merugikan dari perang, Uni Eropa bertekad untuk menjaga perdamaian dan rela mengintegrasikan diri mereka. Di Eropa, keadaannya cukup damai dan kekuatan massa memiliki pengaruh yang masif sehingga mudah untuk terjadi integrasi. 

Konferensi Tingkat Tinggi ke-43 GCC di Riyadh, Arab Saudi (Sumber: Kuna)

Di sisi lain, ada ASEAN dengan bentuk institusinya yang tidak mengikat. ASEAN dalam Treaty of Amity and Cooperation in Southeast Asia mengakui untuk tidak melakukan intervensi terhadap kedaulatan negara anggotanya. Hal tersebut menjadikan ASEAN unik sekaligus bertentangan dengan konsep institusi yang mengharapkan konsolidasi kedaulatan. Keputusan itu bisa diambil karena ada dukungan dari latar belakang negara anggota ASEAN. Seluruh negara ASEAN kecuali Thailand pernah berada di bawah okupasi negara lain. Thailand pun tetap berada di bawah pengaruh yang kuat dari negara asing walau tidak pernah diokupasi. Hal tersebut membuat negara anggota ASEAN lebih sensitif terhadap kedaulatan. Mereka belum lama mendapatkan kedaulatan dan tidak siap bila harus menguranginya untuk ASEAN. Kemudian, negara ASEAN masih lemah dibandingkan negara-negara besar yang mengelilinginya, seperti Tiongkok, India, Rusia, Korea Selatan, Jepang, Amerika Serikat, Australia, dan banyak lagi. Dengan tekanan demikian dan latar belakang negara-negara ASEAN yang baru merdeka, kepentingan nasional masih menjadi prioritas. Dari aspek masyarakatnya pun juga ada yang menghambat integrasi ASEAN. Masyarakat negara anggota belum semua memiliki kesadaran dan mengakui bahwa mereka adalah bagian dari ASEAN.

Kantor Sekretariat ASEAN dengan bendera negara-negara anggota di Jakarta    (Sumber: The Jakarta Post)

Uni Eropa kerap menjadi contoh dari institusi internasional yang berhasil dan terbaik. Beberapa tulisan pun banyak mengarahkan kritik terhadap ASEAN dan GCC karena berdasarkan pada standar yang seakan telah diletakkan Uni Eropa. Namun, berdasarkan pemaparan pada paragraf sebelumnya, bisa dilihat perbedaan signifikan antara situasi dan latar belakang ASEAN, GCC, dan Uni Eropa. Sayangnya, kesadaran beberapa literatur terdahulu akan perbedaan di antara ketiganya tidak menjelaskan mengapa tidak baik untuk menyamakan standar ASEAN dan GCC dengan Uni Eropa. Penyamaan bisa saja terjadi, tetapi tidak dalam waktu yang cepat. Percepatan dengan langkah yang salah justru akan membuat langkah mundur. Selain itu, dari bentuk institusi masing-masing, ada kelebihan dan kekurangan yang perlu diperhatikan. Strategi terbaik adalah strategi yang dibuat berdasarkan medan dan keadaan pemain. Keragaman dinamika dan bentuk institusi ini menjadi kontribusi yang baik juga bagi ilmu hubungan internasional. Penyamaan akan membatasi penelitian mengenai bentuk institusi internasional yang ternyata bisa lebih bervariasi.

ASEAN dan GCC sering dibandingkan dengan Uni Eropa, tetapi melihat dinamika yang terjadi di ASEAN dan GCC justru bisa membuka mata pada kompleksitas dan potensi bentuk institusi internasional baru. Mungkin institusi internasional tidak harus sesuai  dengan  standar banyak pemikir barat seperti halnya Uni Eropa. Diperlukan pemahaman yang komprehensif untuk dapat melihat keuntungan serta keunikan dari institusi regional selain Uni Eropa. Hal seperti inilah yang menarik untuk dipelajari dari dunia internasional dan sosial secara umum. Institusi Internasional penuh dengan kompleksitas yang seringkali membuat kita berandai-andai dan bertanya.

REFERENSI

Al-Makhawi, R. (1990). The Gulf Cooperation Council: A Study in Integration [PhD Thesis, Universitas Salford].

Berkofsky, A. (2005). Comparing EU and Asian Integration Processes – The EU a role model for Asia? EPC Issue Papers 23, 1-22.

Bindabel, W. (2020). M&A Open Innovation, and Its Obstacle: A Case Study on GCC Region. Journal of Open Innovation: Technology, Market, and Complexity 6 (4),1-17.

Bojarcyzk, B. (2013). The Gulf Cooperation Council – regional integration mechanism. Annales UMCS, Politologia 20 (1), 69-85.

Global Fire Power (2023). Middle East Military Strength. globalfirepower.com.            https://www.globalfirepower.com/countries-listing-middle-east.php.

Guzansky, Y. (2015). Defence Cooperation in GCC. Dalam The Arab Gulf States and Reform in the Middle East: Between Iran and “Arab Spring”. (30-38). London: Palgrave Macmillan.

Kechichian, J. A. (1985). The Gulf Cooperation Council: Search for Security. Third World Quarterly 7 (4), 853–881.

Kurlantzick, J. (2012). ASEAN’s Future and Asian Integration. The Council on Foreign Relations, 1-25.

Sudan, F. K. (2020). Regional Institutions in Europe and Southeast Asia: Lessons for Economic Integration in South Asia. ADBI Working Papers 1090.

Yong, O. K. & Wai, K. S. (2016). ASEAN and the EU: Different Paths to Community Building. Centre for Multilateralism Studies 19, 1-2.

HIQuarters, Meet the Author!

Mariska Kumalayanti

Mariska Kumalayanti atau biasa dipanggil Mariska adalah mahasiswa S1 semester 5 jurusan Ilmu Hubungan Internasional di Universitas Indonesia. Ia lahir pada tanggal 10 Maret 2003. Selain menekuni ilmu hubungan internasional, ia juga sedang menekuni dunia sastra dan seni.

Mariska Kumalayanti
Mariska Kumalayanti

Mariska Kumalayanti atau biasa dipanggil Mariska adalah mahasiswa S1 semester 5 jurusan Ilmu Hubungan Internasional di Universitas Indonesia. Ia lahir pada tanggal 10 Maret 2003. Selain menekuni ilmu hubungan internasional, ia juga sedang menekuni dunia sastra dan seni.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *