Aubrey, Bene, Caren and Gisel: Girlbossing Our Way Through W20

Pada seri HI-Call kali ini, Redaksi HI-Quarterly berbincang-bincang dengan kuartet mojang yang berkesempatan untuk ikut berkontribusi dalam salah satu rangkain acara terbesar berskala internasional. Dengan tampuk presidensi yang dipegang oleh Indonesia, tentunya kesempatan emas ini membuka peluang bagi kaum muda untuk ikut campur tangan dalam prosesnya. Tak terkecuali mahasiswa hubungan internasional yang memang mempelajari disiplin ilmu yang secara khusus berfokus pada peristiwa global seperti G20. Simak pengalaman Aubrey, Bene, Caren dan Gisel berpetualang di salah satu Engagement Group G20, yaitu W20.
Dari kiri ke kanan: Aubrey, Gisel, Caren, dan Bene.

Hai, boleh dong perkenalan diri dan ceritakan pengalamannya di G20 ini secara singkat!  

Namaku Aubrey Firaekayoga, HI 2020. Aku ikut membantu G20 dalam Engagement Group W20, tepatnya di Rural Women and Women with Disability (Perempuan Pedesaan dan Perempuan Penyandang Disabilitas) Working Group (WG). Sebagai volunteer dalam Komite W20, jobdesc-ku antara lain, menjadi asisten koordinator Rural Women and Women with Disability WG, membuat notula di setiap rapat Rural Women and Women with Disability WG; meneruskan informasi penting dari komite kepada delegates; mengumpulkan dan menyiapkan segala dokumen yang dibutuhkan untuk penyusunan communiqué/komunike, 4th Plenary Meeting Manokwari, dan W20 Summit Toba; mengakomodasi segala masukan delegates terkait komunike; dan mendampingi delegates saat W20 Summit Toba.

Halo! Nama aku Benedicta (Bene) dari angkatan 2020. Working Group (WG) aku di W20 adalah Discrimination and Equality. Sebelumnya, aku jelasin dulu WG itu kayak dapurnya W20; tempat menyatukan pendapat dari delegates, menyusun communiqué dari baseline draft sampai final draft, serta menentukan strategi/approach agar communiqué terlihat appealing bagi pemimpin-pemimpin negara G20. Sesuai namanya, WG aku berfokus untuk menghapus isu diskriminasi dan mewujudkan kesetaraan perempuan di negara-negara anggota G20. Sebagai volunteer di Discrimination and Equality WG, jobdesc aku seputar membuat notula rapat, memastikan kelengkapan dokumen, membantu persiapan side event, dan tracking progress pembuatan communiqué.

Perkenalkan, nama aku Caren dari HI UI 2020. Tahun ini, aku berkesempatan untuk mengambil bagian dari Presidensi G20 Indonesia, lebih tepatnya di Women 20 (W20) yang merupakan salah satu Engagement Group (EG) dalam G20. Sebagai volunteer, aku dan teman-teman diberikan tugas di bagian Sekretariat W20 yang jobdesc-nya enggak jauh-jauh dari urusan kesekretariatan, yakni membuat notula hasil rapat, mengurus dan memastikan kelengkapan berbagai dokumen yang berkaitan dengan draf communiqué, memantau surel hingga meneruskan informasi ke delegates, dan yang paling penting siap siaga jika ada rapat mendadak:D Secara khusus, aku juga ditugaskan untuk membantu ibu koordinatorku di Health Working Group yang berfokus pada gender equitable health response. Selain itu, aku juga membantu persiapan hingga pelaksanaan acara di W20 Summit kemarin.

Halo, aku Gisella dari HI 2020 yang berkesempatan untuk berpartisipasi dalam salah satu Engagement Group Presidensi G20 Indonesia, yaitu W20! Sebagai salah satu volunteer, aku ditempatkan di Sekretariat W20 dan secara spesifik berfokus pada isu “Mencapai Inklusi Ekonomi dengan Mendukung UMKM yang Dimiliki dan Dikelola oleh Perempuan”. Lingkup pekerjaan selama proses volunteer ini dinamis banget, maksudnya bisa mendadak dipanggil untuk ikut rapat, mendadak merekap data, 24/7 memantau surel, bahkan bisa juga senggang 😀 Untuk jobdesc sebagai volunteer inklusi ekonomi dan dukungan terhadap UMKM perempuan, pekerjaannya mencakup secara rutin mengecek dan membalas surel dari delegates dari berbagai belahan dunia, merekap data penyusunan communiqué dari baseline draft hingga final draft, melakukan notula selama rapat berlangsung untuk mencatat masukan dari delegates maupun informasi penting lainnya, hingga mengatur acara W20 Summit pada hari-h.

Dapat informasi lowongan dari mana dan bagaimana proses seleksinya hingga akhirnya diterima sebagai bagian dari W20?

Kami mendapat informasi dari salah satu dosen HI UI, yaitu Mbak Evi Fitriani. Saat itu, beliau menginformasikan bahwa W20 sedang membutuhkan volunteer sesegera mungkin. Terkait persyaratannya, kami diminta untuk mengirim CV, Cover Letter, dan transkrip nilai. Seperti pada umumnya, berkas persyaratan yang dikirim oleh pendaftar kemudian diseleksi terlebih dahulu. Setelah menunggu kurang lebih 10 hari, kami berempat dinyatakan lolos seleksi dan langsung dihubungi oleh Komite W20 untuk meeting pertama kalinya guna membahas scope of work kami nantinya.

Awalnya, apa yang membuat tertarik untuk ikut berkontribusi bagi W20?

Aubrey: Singkatnya, working with and for women has always been my passion. Dalam perkuliahan seringkali aku menyusun tugas dengan mengusung topik terkait perempuan. Saat mengetahui Departemen HI UI akan berkontribusi besar dalam keberlangsungan Presidensi G20 Indonesia 2022, dan adanya EG W20 yang membutuhkan volunteer, aku langsung mendaftarkan diri karena menurutku itu merupakan peluang langka dan sejalan dengan passion-ku. 

Bene: Aku selalu tertarik untuk berkontribusi dalam mendukung kesetaraan gender. Ini karena isu diskriminasi perempuan masih nyata dan dapat ditemukan di berbagai negara. Lalu, sebenarnya aku sudah lama ingin berkontribusi di G20 atau salah satu EG-nya. Ketika aku mengetahui bahwa W20 membuka pendaftaran untuk volunteer, aku langsung mendaftar. Tema W20 Indonesia 2022, “Recover Together, Equally” menurutku sangat menyoroti pentingnya kesetaraan, keamanan, dan kesejahteraan bagi perempuan. Oleh karena itu, aku melihat W20 sebagai kesempatan yang tepat untuk aku berkontribusi secara nyata untuk mengeliminasi diskriminasi perempuan dan mewujudkan kesetaraan gender.

Caren: Bisa dibilang aku daftar last minute banget, enggak kayak teman-teman lainnya yang mungkin sudah mempersiapkannya dari jauh-jauh hari dan tentunya lebih matang. Awalnya, aku takut enggak kepegang karena semester 4 cukup padat ditambah kesibukan aku yang lainnya. Tapi, di hari terakhir batas pendaftaran, aku mutusin buat daftar karena menurutku ini adalah kesempatan emas yang enggak bakal datang kedua kalinya dan sayang aja kalau aku enggak berani buat nyoba. Kenapa di W20? Karena aku sendiri punya ketertarikan besar terhadap isu-isu yang berkaitan dengan kesetaraan gender dan ingin menyaksikan sendiri bagaimana proses lahirnya W20 Communiqué 2022.

Gisel: Sebenarnya aku sudah lama tertarik dengan isu-isu yang berhubungan dengan kesetaraan gender. Titik awal ketertarikan aku terhadap isu ini muncul ketika aku secara enggak sengaja melihat berita tentang tenaga kerja Indonesia di luar negeri—yang utamanya perempuan—mengalami berbagai ungkapan verbal hingga tindak kekerasan fisik. Lalu, aku dihadapkan dengan kesempatan pembukaan posisi volunteer di W20 Indonesia. Melihat peluang ini, aku sendiri merasa keputusan untuk mendaftar sebagai volunteer di W20 Indonesia merupakan “langkah” nyata yang harus aku ambil dan akan menjadi batu loncatan bagi aku dalam berkontribusi langsung dalam mewujudkan kesetaraan gender, terutama dengan keterbatasan aku selama ini yang hanya menyuarakan isu-isu terkait via media sosial tanpa kontribusi nyata.

Apakah pengalaman volunteer di W20 ini memberatkan hingga mengganggu proses perkuliahan?

Aubrey: Tidak dapat dipungkiri bahwa menjadi volunteer memiliki tantangannya tersendiri. Terlebih karena aku harus membantu WG dengan dua topik berbeda (Rural Women dan Women with Disability). Jadwal rapat mingguannya kerap terbentur dengan agenda perkuliahan lain seperti kelas, kerja kelompok, mengerjakan tugas, dan rapat organisasi lain. Bahkan aku perlu membantu menyiapkan berbagai substansi untuk 4th Plenary Meeting Manokwari sambil mengerjakan Ujian Akhir Semester (UAS). But, all I can say is it was all worth it

Bene: Menurutku, pengalaman bekerja di W20 tidak memberatkan apalagi sampai mengganggu proses perkuliahan. Ini karena waktu kerja volunteer W20 yang cukup fleksibel. Rata-rata W20 meetings seperti WG meetings atau head of delegates meetings dilaksanakan jam 8 malam karena menyesuaikan dengan time zone delegates yang berbeda-beda. Sebenarnya pernah sih jadwal UAS bentrok dengan kegiatan W20 (waktu itu aku dan Aubrey kebagian jobdesc mengurus persiapan side event Plenary Manokwari). Kalau kayak gini balik lagi ke kemampuan time management. Yang jelas aku berusaha menyelesaikan tugas-tugas kuliah terlebih dahulu sehingga ketika ada kegiatan W20 aku bisa bantu semaksimal mungkin. Selain itu, ibu koordinator dan kakak-kakak sekretariat juga sangat baik hati dan pengertian sehingga aku diberi kesempatan untuk memprioritaskan perkuliahanku.

Caren: Buat aku pribadi, enggak begitu memberatkan apalagi sampai mengganggu proses perkuliahan. Menurutku, ini tergantung seberapa pintar kita dalam mengatur waktu antara kehidupan akademik, organisasi, dan volunteering, serta bagaimana kita bisa menyesuaikan diri dengan sistem kerja di W20 itu sendiri. Sebagai contoh, seperti yang sudah dibilang Bene, di sini rapat itu selalu diadakan di malam hari karena perbedaan waktu di antara delegates yang tersebar di berbagai negara. Waktu selesainya pun beragam, tergantung agenda rapat pada hari tersebut, pernah sampai malam banget—sekitar pukul 11. Jadi, kalau ada tugas yang harus diselesaikan harus dikerjakan sebelum waktu rapat dengan cara dicicil atau senyamannya kita aja. Kalau pengalamanku bekerja secara offline di W20 Summit kemarin, mungkin itu cukup berat ya karena jobdesc-nya banyak, hehe. Tapi, seberat-beratnya juga pasti bisa dilalui dan semuanya bakal terbayarkan kok dengan pengalaman berharga dan ilmu baru yang kita dapat! 😀

Gisel: Menurut aku, pengalaman menjadi volunteer di W20 Indonesia sama sekali tidak mengganggu ataupun memberatkan proses perkuliahan. Mengapa demikian? Posisi volunteer yang ditawarkan oleh W20 Indonesia sendiri memiliki working hours yang fleksibel meskipun dalam beberapa kondisi sempat terjadi bentrok jadwal antara kuliah dan kegiatan volunteer W20. Dalam hal ini, kemampuan aku dalam mengalokasikan waktu menjadi poin penting. Terlebih lagi, kesempatan menjadi volunteer membuat aku lebih semangat dalam menjalani perkuliahan karena aku jadi dituntut untuk lebih cepat menyelesaikan tuntutan akademis sebelum mengerjakan pekerjaan sebagai volunteer. Perihal kondisi adanya jadwal yang bentrok, ibu-ibu pendamping dan keseluruhan working environment selama proses volunteer sangatlah baik, perhatian, dan pengertian mengenai adanya tuntutan akademis aku sebagai mahasiswa sehingga terkadang diberi kesempatan untuk tetap memprioritaskan akademis.


Adakah pengalaman unik atau mungkin skill baru yang didapat dari kesempatan bekerja di W20?

Aubrey: Skill lain yang aku dapatkan adalah ketelitian dan kecekatan. Banyak surel yang perlu dikirim kepada delegates, dan kami harus memastikan bahwa informasi yang tersampaikan benar dan tepat waktu. Hal tersebut secara tidak langsung mendorongku untuk memperbaiki time management skill-ku agar tidak ada tanggung jawab yang dikorbankan. Selain kemampuan time management yang meningkat, menjadi volunteer dalam W20 membuatku merasa menjadi ‘lebih HI’ HAHAHA.  Aku dapat menyaksikan secara langsung bagaimana sebuah komunike dibahas dan dirancang oleh banyak delegates dari berbagai negara–bagaimana mereka saling membawa kepentingan dan perspektif negara asal mereka agar tercantum dalam komunike. Meski panjang dan rumit, proses tersebut membantuku memahami satu bagian kecil yang menjadi fondasi dari sebuah institusi yang besar. 

Bene: Pengalaman unik selama bekerja sebagai volunteer di W20 adalah pada hari pertama Summit di mana jobdesc aku adalah ikut mendampingi Chairwoman W20, Ibu Uli Silalahi, selama event UMKM dan opening ceremony W20 Summit. Nah, dua event tersebut juga turut dihadiri oleh figur penting lainnya seperti Menteri Pariwisata, Bapak Sandiaga Uno dan Menteri PPAA, Ibu Bintang Darmawati. Aku senang karena dengan diberi jobdesc mendampingi bu Uli (which is an honor already by itself), aku juga berkesempatan melihat Bapak Sandiaga Uno dan Ibu Bintang dari jarak dekat for quite some time ahihi. Kemudian dari kesempatan volunteer di W20, aku mengembangkan skill time management, di mana aku belajar untuk membagi waktu kuliah, volunteer di W20, kepanitiaan, hingga waktu hiburan. Aku juga menjadi terbiasa dengan jam kerja yang fleksibel dan cenderung dadakan, sehingga sudah tidak kaget lagi ketika W20 ada jadwal meeting mendadak. 😀

Caren: Wah, bisa dibilang banyak banget. Kalau pengalaman unik aku ada, baik yang online maupun offline. Pertama, di salah satu rapat pas baru masuk ke Zoom dan aku belum rename namaku jadi “W20 Secretariat”, aku sempet disapa “Hi, Caren! How are you?” oleh Ibu Uli Silalahi (Chair W20) karena dikira delegate, terus aku jawab pakai bahasa Inggris juga WKWK pada ketawa, deh. Kedua, pas W20 Summit di Toba kemarin. Di hari ketiga, kebetulan aku lagi hectic banget sampai makan aja buru-buru gitu dan lokasi tempat makan sama ruangan aku jauh. Nah, pas lagi makan tiba-tiba ada delegate dari Indiabeliau salah satu speaker di webinar yang aku pegang—video call aku karena enggak paham cara pakai virtual background di Zoom dengan kondisi aku masih ngunyah makanan dan ternyata suara aku sepanjang telepon kedengeran seruangan karena dia sudah join Zoom dan on mic 😀 Untung webinar-nya belum dimulai, hahaha. Selain itu, pernah juga berdua Gisel diminta untuk bantu jualan ulos ke delegates (multitalented ya HAHA><). Terlepas dari berbagai pengalaman unik di atas, aku juga banyak mendapatkan skill baru selama bekerja di sini, terutama dalam time management, inisiatif, ketelitian, problem-solving, tahan banting, dan istilahnya kalau zaman sekarang, kerja yang sat-set-sat-set

Gisel: Pengalaman unik selama proses volunteer di W20 ini adalah saat W20 Summit di Toba yang mana aku dan Caren diberi tugas untuk menjaga booth yang menjual kain-kain khas Indonesia Timur tepat di belakang Bapak Sandiaga Uno yang sedang menyampaikan kata sambutan dan presentasi beliau >< pssst kami berhasil menjual 1 buah kain, lho. Selain itu, selama proses volunteer ini aku juga memperoleh skill, secara spesifik aku berkesempatan untuk mengembangkan kemampuan aku dalam manajemen waktu. Dengan beban workload yang fleksibel tapi cukup banyak, kemampuan aku dalam mengalokasikan waktu akademis, hiburan, dan organisasi terus menerus berkembang setiap harinya.

Selama meluangkan waktunya untuk volunteer di W20, apa memori paling berkesan sepanjang pengalaman tersebut?

Aubrey: Tentunya yang paling berkesan adalah kesempatan membantu dalam acara puncak W20 yakni W20 Summit Toba pada 19–21 Juli 2022. Pengalaman tersebut merupakan work trip luar kota pertamaku di mana aku bertemu dengan delegates W20 dari berbagai  negara, serta bertemu orang-orang hebat lain seperti Chair, dan Co-Chair W20 2022, serta banyak tokoh inspirasional lain. Selain itu, pengalaman tersebut juga diisi dengan kesempatan bagiku untuk melakukan networking dengan perempuan-perempuan sukses yang memberikan banyak informasi mengenai berbagai peluang yang dapat berguna bagi kehidupan akademik dan karierku kedepannya. All in all, I’m very grateful for this experience as a whole.

Bene: Memori paling berkesan dari W20 buatku pastinya adalah ikut W20 Summit di Danau Toba, Sumatra Utara. Di acara tersebut aku bisa bertemu dengan berbagai delegates W20 secara langsung (sebelumnya hanya bertemu melalui Zoom). Semua delegates sangatlah inspiratif dan tulus berusaha mewujudkan kesetaraan gender. Salah satu delegate yang menurutku keren adalah Pam Rajput dari India yang umurnya mungkin sudah di atas 80 tahun, tetapi ia masih semangat ikut Summit untuk mendukung kesetaraan gender. Selama Summit, aku juga berkesempatan untuk bertemu bahkan mengobrol dengan figur-figur inspiratif lainnya, serta tentunya menikmati pemandangan Danau Toba yang indah. Selain itu, memori paling berkesan berikutnya adalah orang-orangnya. Mulai dari ibu koordinator yang super ramah dan memperlakukan aku seperti keluarga, hingga anggota sekretariat lainnya yang selalu siap membantu memberi sense of welcoming yang sangat berkesan buatku saat bekerja di W20.

Caren: Secara keseluruhan, memori yang paling berkesan buatku adalah ketika aku bisa bertemu secara langsung, bahkan bekerja dengan perempuan-perempuan hebat dari berbagai belahan dunia, dan menyaksikan sendiri jalannya diskusi hingga akhirnya W20 berhasil menghasilkan communiqué. Tentunya pengalaman selama proses volunteer di W20 ini menjadi pelajaran yang sangat berharga, tak terlupakan, dan menjadi bekal penting untuk kehidupan karierku di masa depan. Selain itu, aku senang sekali karena dikelilingi oleh ibu-ibu koordinator dan kakak-kakak sekretariat lainnya yang super baik, perhatian, dan selalu siap siaga membantuku jika mengalami kesulitan.

Gisel: Memori paling berkesan dari W20 tentunya kesempatan untuk terlibat langsung dan ngerasain gimana sih ikut ke W20 Summit di Toba, Sumatra Utara. Selama Summit ini berlangsung, aku banyak banget ketemu individu-individu keren yang sangat inspirasional dan juga diberi kesempatan untuk mengobrol. Hal yang membuat kesempatan untuk ikut ke Toba ini menjadi memori paling berkesan itu karena selama di sana, aku bener-bener merasa senang dan diterima dengan hangat oleh sekretariat lainnya dan ibu-ibu koordinator. Working environment yang fleksibel, pemandangan Danau Toba yang tersaji 24/7, dan banyak candaan yang dilontarkan bersama pada akhirnya menjadi suatu paket lengkap memori yang enggak akan dilupakan oleh Gisella! 😀

HIQuarters, Meet the Author!

HI Quarterly adalah majalah elektronik yang dikelola langsung oleh Divisi Hubungan Masyarakat Himpunan Mahasiswa Hubungan Internasional FISIP UI.

Redaksi HI Quarterly
Redaksi HI Quarterly

HI Quarterly adalah majalah elektronik yang dikelola langsung oleh Divisi Hubungan Masyarakat Himpunan Mahasiswa Hubungan Internasional FISIP UI.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *