Mahasiswi HI UI Sekolah Lagi di Sekolah Staf Presiden?

Lagi-lagi Redaksi HI-Quarterly berkesempatan untuk mewawancarai mahasiswa-mahasiswa berprestasi dari HI UI. Edisi kali ini sedikit unik karena Quinta dan Fannie menerima kesempatan langka nan bergengsi untuk ikut bersekolah di Kantor Staf Presiden. Bersaing dengan puluhan ribu peminat lainnya, mereka berdua berhasil diterima dan belajar langsung bersama tidak lebih dari 3 lusin peserta lainnya. Bagaimana perjuangan dan juga pengalaman mereka dalam Sekolah Staf Presiden? Mari kita simak!
Sumber: dokumentasi pribadi

Apa itu Sekolah Staf Presiden dan apa yang membuat kamu awalnya tertarik untuk bergabung?

Quinta: Sekolah Staf Presiden adalah program inkubator kepemimpinan nasional yang diselenggarakan oleh Kantor Staf Presiden Republik Indonesia untuk melatih para negarawan muda menjadi calon-calon pemimpin masa depan. Ketertarikanku untuk mengikuti program ini dilatarbelakangi oleh aspirasiku untuk mempelajari kebijakan publik, serta memiliki karier di bidang tersebut kelak. Selain itu, aku juga ingin mengembangkan kemampuan untuk berpikir secara kritis dan memperluas koneksi melalui Sekolah Staf Presiden.

Fannie: Sekolah Staf Presiden (SSP) merupakan program yang memberikan negarawan muda kesempatan untuk melihat, mempelajari, dan mengalami langsung cara mengelola negara. Aku tertarik mengikuti SSP karena aku ingin menyelami lebih dalam isu-isu dalam negeri, proses pengambilan kebijakan, maupun problem-solving skala nasional di Indonesia. Waktu itu, aku juga berpikir bahwa ikut program seperti SSP dapat mempertemukanku dengan lebih banyak orang dengan passion yang sama dalam memajukan Indonesia.

Bagaimana pengalaman kamu dalam proses persiapan mendaftar hingga selesai seleksi?

Quinta: Tahap pertama dalam proses pendaftarannya adalah seleksi berkas. Aku berusaha untuk mempersiapkan esai, surat rekomendasi, dan CV dengan baik. Lalu, setelah lolos seleksi berkas, tahapan selanjutnya adalah wawancara secara luring. Sebelum wawancara, aku banyak membaca terkait berbagai program presiden dan kebijakan pemerintah Indonesia yang sudah, sedang, atau akan berlangsung. Selain itu, aku berusaha untuk melatih kepercayaan diriku untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan yang mungkin akan dilemparkan. Alhamdulillah, berkat latihan dan persiapan yang matang, semua proses seleksi dapat dilewati dengan lancar.

Fannie: Pertama, aku menyiapkan CV, jawaban isian singkat, dan esai sesuai dengan ketentuan yang tersedia. Untuk surat rekomendasi sendiri, aku enggak submit karena tidak diwajibkan. Menuju tahap kedua (wawancara), aku melakukan riset mengenai SSP, Kantor Staf Presiden (KSP), dan program-program nasional pemerintah Indonesia saat ini. Waktu riset, aku sampai dengerin podcast yang mengundang salah satu orang dari KSP šŸ˜€ Aku juga tanya-tanya ke salah satu kakak tingkat (bukan di HI UI) yang pernah magang di KSP. Lalu, dari semua hasil riset, aku coba latihan dan persiapkan jawaban dari pertanyaan yang most likely akan ditanyakan.

Apa pengalaman atau memori paling berkesan yang kamu dapatkan dari Sekolah Staf Presiden?

Quinta: Ada banyak memori menarik yang aku dapatkan selama mengikuti Sekolah Staf Presiden, tapi salah satu yang paling berkesan adalah ketika kami pertama kali tiba di Bina Graha, gedung yang menaungi para staf presiden; setara dengan West Wing di istana kepresidenan Amerika Serikat. Saat itu, aku terharu karena bisa berada di tempat yang sangat high-level, di mana tidak semua orang dapat memiliki kesempatan untuk masuk ke dalamnya. Aku berharap memori ini bisa menjadi salah satu upaya manifestasi aspirasi karier yang aku miliki di masa depan.

Fannie: Salah satu tugas yang diberikan ke peserta SSP adalah presentasi (secara berkelompok) debottlenecking atau mengurai sumbatan/masalah yang dihadapi oleh pemerintah Indonesia. Dalam proses menentukan masalah dan solusi, ada heated discussion (but in a good way, as in everyone has a good argument) di kelompokku. Semua orang memiliki pendapat dan perspektif masing-masing yang membuat kami cukup sulit untuk mencapai kata sepakat. Namun, menurutku, hal tersebut memang akan terjadi di kehidupan sehari-hari di tubuh pemerintah. Jadi, itung-itung aku dan kelompokku dapet simulasi lah, ya HAHA. Alhamdulillah, hasil presentasi kelompokku dapat pujian dan divalidasi oleh para tenaga ahli KSP. *Sebenarnya banyak banget pengalaman yang sangat berkesan.

Bagaimana pengalaman tersebut bisa berkontribusi bagi kamu sebagai mahasiswa HI?

Quinta: Layaknya proses pembelajaran di HI UI, Sekolah Staf Presiden juga mendorong kami untuk bisa berpikir secara kritis guna melakukan debottlenecking dari berbagai permasalahan yang dimiliki Indonesia, termasuk dalam konteks hubungan luar negerinya. Tentunya, hal ini sangat relevan dengan apa yang aku pelajari di perkuliahan dan akan memberikan perspektif baru terkait dinamika internasional dari sudut pandang negara kita.

Fannie: Pengalaman dan pembelajaran selama SSP mengingatkan akuā€”sebagai mahasiswa HIā€”untuk ga lupa mengikuti dinamika domestik di Indonesia. Hal ini dapat membekali aku untuk melakukan analisis yang lebih kritis terhadap kebijakan luar negeri maupun posisi Indonesia di panggung internasional. Selain itu, kerangka problem-solving yang diajarkan sebenarnya cukup umum untuk diimplementasikan di segala bidang sehingga dapat pula digunakan dalam melihat isu-isu HI.

Adakah value, skill baru atau mungkin kesempatan yang didapat setelah menyelesaikan Sekolah Staf Presiden?

Quinta: Tentu banyak sekali. Salah satu yang paling signifikan adalah aku dipercaya untuk menjadi tenaga magang di Kedeputian III Kantor Staf Presiden yang menaungi bidang perekonomian. Berkat kesempatan ini, ada banyak sekali hal berharga yang aku bisa pelajari. Selain itu, aku juga bisa terlibat langsung dalam proses pembuatan, pelaksanaan, dan pengawasan berbagai kebijakan maupun isu-isu strategis yang menjadi prioritas nasional Indonesia. Semua hal ini tentunya akan sangat bermanfaat bagi perkembangan diriku sebagai seorang mahasiswa.

Fannie: Mengikuti SSP meyakinkan aku dalam menentukan fokus studi dan aspirasi karier. Aku semakin tertarik dan committed untuk mempelajari faktor domestik dalam pengambilan kebijakan luar negeri Indonesia serta pengaruh struktur/politik internasional terhadap kebijakan publik di Indonesia dan dampaknya bagi masyarakat Indonesia. Dalam hal ini, SSP memberikanku network yang mumpuniā€”dari mulai sesama mahasiswa hingga praktisi di sektor publikā€”untuk bertanya maupun berdiskusi tentang bidang yang menjadi minatku. Salah satu contohnya adalah aku mendapatkan rekomendasi-rekomendasi tulisan akademik yang sangat memperkaya pengetahuankuā€”termasuk tentang pengaruh internasional dalam bidang agraria di Indonesia (ini sesuatu yang dulu ga pernah terpikirkan olehku).

Quinta (HI 2019) & Fannie (HI 2020)
Sumber: dokumentasi pribadi

HIQuarters, Meet the Author!

HI Quarterly adalah majalah elektronik yang dikelola langsung oleh Divisi Hubungan Masyarakat Himpunan Mahasiswa Hubungan Internasional FISIP UI.

Redaksi HI Quarterly
Redaksi HI Quarterly

HI Quarterly adalah majalah elektronik yang dikelola langsung oleh Divisi Hubungan Masyarakat Himpunan Mahasiswa Hubungan Internasional FISIP UI.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *