IISMA in Poland: Three Months of Wondrous Knowledge and Cultural Exchange

Pada edisi HI-Call kali ini, Redaksi HI-Quarterly menelusuri jejak Fadia di kota bersejarah tempatnya mengikuti program pertukaran pelajar besutan Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi RI, yakni Indonesian International Student Mobility Awards (IISMA). Di Warsaw, Fadia menikmati program IISMA yang diwarnai oleh pengalaman-pengalaman baru yang unik dan menyenangkan. Bagaimana kisah Fadia selama 3 bulan belajar di negeri orang? Dari masa persiapan, keberangkatan, hingga pelajaran hidup yang ia dapat ketika kembali ke Indonesia, semua itu akan diulas dalam edisi HI-Call ini.

Bagaimana persiapannya dari masa seleksi hingga persiapan keberangkatan? Apakah persiapan mendaftar hingga berangkat IISMA mengganggu kesibukan kuliah? 

Bisa dibilang aku memulai persiapan IISMA ini berarti hampir setahun, karena aku tau IISMA sejak batch 1 lagi berjalan. Aku banyak nanya ke kakak-kakak HI UI dan teman-teman di FISIP UI yang sebelumnya keterima IISMA tentang persiapan dan juga rangkaian seleksi apa saja yang akan dilewati. IISMA 2022 sendiri punya 3 rangkaian seleksi: (1) seleksi berkas; (2) tes kebangsaan Indonesia; (3) wawancara; dan (4) pengumuman! 😀 Langkah pertama yang paling penting menurutku adalah cari teman berjuang bareng karena kalian bisa belajar bersama dan saling bertukar informasi. Karena sejujurnya berkas yang perlu dikumpulkan banyak banget, sering ke-update di tengah-tengah persiapan, dan kadang deadline-nya mepet, jadi penting banget supaya kita enggak ketinggalan informasi. Untuk seleksi berkas yang dibutuhkan, kurang lebih ada score IELTS/TOEFL/DET (Duolingo English Test) sesuai minimum score yang host university minta. Aku sendiri punya target belajar untuk tes DET, yakni minimal 3 jam/hari selama satu minggu. Sebulan sebelum tanggal tes, aku naikin targetku jadi minimal 5 jam/hari. Target ini aku bikin serealistis mungkin, berhubung saat persiapan IISMA ini aku juga masih kuliah dan aktif dalam kegiatan maupun organisasi di kampus sehingga banyak waktu yang harus dibagi. Media yang aku pakai untuk pembelajaran biasanya dari nonton YouTube, website-website yang nyediain contoh soal, dan simulasi tes yang disediain sama website official Duolingo. Lanjut, di pengumpulan berkas juga kita disuruh bikin esai untuk menjawab 4 pertanyaan yang diberikan oleh IISMA. Setelah bikin esai, aku banyak minta masukan dari teman-teman dan kating supaya lebih bagus. Sesudah pengumpulan berkas, aku dapet email dari IISMA untuk tes online tentang pengetahuan seputar Indonesia. Berikutnya, kalau lolos tahap 2 kita akan dikirimkan jadwal wawancara. Untuk persiapan wawancara, aku banyak latihan ngomong sendiri dan ngobrol bareng teman-temanku pakai bahasa inggris. Di hari pengumuman, alhamdulillah aku diterima sebagai awardee IISMA!

Selanjutnya, ada juga tahap persiapan sebelum keberangkatan yang perlu dilakukan, seperti mengurus paspor, visa, asuransi, dll. IISMA juga memberikan materi pembekalan sebelum keberangkatan untuk mempersiapkan para awardees di host country nantinya. Meskipun banyak persiapan sebelum keberangkatan yang perlu diurus, tapi rasanya tetap fun ngejalaninya karena aku dan awardees University of Warsaw lainnya ngurus semuanya bareng-bareng. Apakah persiapan IISMA mengganggu perkuliahan atau tidak, itu sebenarnya tergantung manajemen waktu yang kita susun. Aku sendiri enggak merasa terganggu karena yang terpenting selalu selesaikan urusan perkuliahan yang utama, baru setelah itu ngurus persiapan IISMA.

Apakah universitas yang dituju merupakan pilihan pertama di IISMA? Kenapa memilih universitas tersebut?

Alhamdulillah, aku keterima di pilihan pertamaku, yaitu University of Warsaw! Dari dulu aku memang suka dengan Polandia dan pengen banget belajar di sana karena menurutku negaranya kaya dengan sejarah terutama sejarah Perang Dunia II. Begitu tau kalau IISMA menyediakan pilihan Polandia sebagai negara host university, aku seneng banget! Setelah aku riset lebih dalam, University of Warsaw juga merupakan universitas unggul di Polandia. Mata kuliah yang diberikan juga selaras dengan peminatan yang aku pilih di HI UI, yakni masyarakat transnasional (mastrans).

Bagaimana ekspektasi dan harapan awal sebelum menjalani IISMA dan realitas yang dialami?

Ekspektasi awal aku lebih ke ketakutan sih, “gimana kalau nanti aku enggak bisa bersaing sama mahasiswa luar negeri lainnya?”, “gimana kalau aku enggak bisa ngikutin pembelajaran di sana?” karena IISMA ini first experience aku untuk bisa belajar di perguruan tinggi luar negeri. Akan tetapi, dengan adanya materi pembekalan sebelum keberangkatan dari IISMA, ketakutan-ketakutan aku tersebut terjawab dan lumayan membantu meminimalisasi ketakutanku sih, jadi aku lebih siap buat menghadapinya. Sebelum berangkat aku juga berharap kesempatan exchange ini dapat kugunakan semaksimal mungkin. Aku mau cari teman foreigners sebanyak-banyaknya, mau mengenal budaya Eropa dan Polandia lebih dalam, dan mau belajar sejarah sebanyak mungkin secara langsung. 

Turns out, realitas yang aku jalani justru berbanding terbalik dengan ketakutanku. Pembelajaran di University of Warsaw seru banget! Selain dosennya yang baik dan terbuka, kita juga di-encourage untuk belajar dengan sistem focus group discussion yang membuatku bisa kenal dengan teman-teman sekelas. Banyak harapanku yang jauh lebih tercapai juga karena salah satu yang aku senangi dari Warsaw adalah terdapat banyak museum sejarah, bahkan depan dorm tempat tinggalku juga museum, lho. Apalagi Polandia ramah banget untuk mahasiswa dengan tersedianya tempat wisata, museum, public transport, dan tempat lainnya yang tersedia secara gratis atau memberikan discount setengah harga untuk mahasiswa. Warga lokalnya juga ramah-ramah sehingga enggak sulit bagiku untuk beradaptasi di Polandia, khususnya di kota Warsaw.

Adakah hal atau kejadian yang membuat pengalaman IISMA yang dijalani menjadi lebih unik dari pengalaman alumni IISMA lainnya?

Bersyukur banget karena University of Warsaw sangat suportif dan mengayomi kita para awardees IISMA. Dari kita sampai di bandara Warsaw, kita dijemput dan diantar ke dorm terus keesokan harinya diajari cara pakai public transport dan diajak keliling kampus. Kita juga diajak study trip ke 2 wilayah di luar kota Warsaw. Salah satu destinasi yang sampai sekarang masih bikin aku amazed adalah ketika mengunjungi kota yang paling bersejarah pada abad ke-20 di mana Perang Dunia II dinyatakan mulai, yakni kota Gdańsk. Setiap sudut kotanya historis dan punya cerita, aku ngerasa kayak melintasi waktu beneran hahaha, jadi makin berasa study tour-nya! Selain kota Gdańsk, kita juga berkesempatan untuk study tour mengunjungi rumah masa kecilnya komponis dan pianis terkenal dari Polandia, yakni Frédéric Chopin. Selain pihak kampus, para student council di University of Warsaw juga aktif menggelar events untuk perkumpulan mahasiswa. Jadi, selama exchange, aku enggak cuma belajar di dalam kelas saja, tapi sering kali memanfaatkan waktu untuk belajar dan mencari tahu hal-hal baru di luar kelas.

Apa kejadian atau momen berharga dari IISMA yang dapat dijadikan pelajaran hidup? 

Momen berharga pastinya bisa ngerasain perkuliahan di Eropa, orang-orangnya yang terbuka, sistem pembelajarannya yang juga terbuka dengan topik-topik yang aku pribadi minati dan jarang aku dapatkan perspektifnya di Indonesia, serta privilese untuk mempelajari banyak kultur dan budaya dengan orang lain. Kalau di kelas, meskipun dosen lagi ngomong, mahasiswa bisa saja langsung ngajuin pertanyaan dan dosennya akan tetap mendengar serta menjelaskan dengan sabar jawabannya. Bahkan, dosen-dosen juga sering kali ikut berpartisipasi dalam acara mahasiswa yang diadakan oleh student council. Jadi, serasa enggak ada gap yang jauh antara dosen dan mahasiswanya. Warga lokal Polandia juga ramah-ramah banget, mereka senang berbagi cerita tentang kultur negaranya dan juga suka mendengarkan kultur tentang Indonesia, jadi kita sama-sama belajar! Also, tiga bulan hidup di Polandia menurutku cukup untuk kita bisa mempelajari basic language dari host country. Pokoknya banyak banget hal yang bisa dipelajari melalui program exchange ini.

Adakah pesan khusus bagi anak-anak HI UI yang ingin ikut mencoba mengikuti IISMA?

Pesan buat teman-teman HI UI, kalau ada niat untuk mencoba IISMA atau exchange lainnya, don’t be hesitate to challenge yourself, just go for it! UI juga ngasih bantuan biaya untuk tes IELTS/TOEFL/DET kok, meskipun sifatnya reimburse. Aku selalu tanamkan dalam diri sendiri, menjadi mahasiswa adalah saat di mana kita bebas untuk mencoba dan explore diri. Kuncinya adalah kenali diri sendiri terlebih dahulu, ketahui ke arah mana kamu mau mencapai mimpimu. Insyaallah, Tuhan akan kasih jalan. Jangan malu untuk bertanya juga, ya! Aku yakin teman-teman HI UI yang menjadi awardees IISMA atau program exchange lainnya juga sangat terbuka untuk ditanya-tanya. So, feel free to reach me or reach us out 😀 Semangat semua!

Sumber: dokumentasi pribadi Fadia

HIQuarters, Meet the Author!

HI Quarterly adalah majalah elektronik yang dikelola langsung oleh Divisi Hubungan Masyarakat Himpunan Mahasiswa Hubungan Internasional FISIP UI.

Redaksi HI Quarterly
Redaksi HI Quarterly

HI Quarterly adalah majalah elektronik yang dikelola langsung oleh Divisi Hubungan Masyarakat Himpunan Mahasiswa Hubungan Internasional FISIP UI.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *