IDENTITAS POLITIK RUSSIA MELALUI BALLET PADA TAHUN 1900-1960

Abad ke-20 menjadi titik balik Rusia sebagai rising power dalam dunia internasional, dan bidang seni dan ekspresi kreatif—seperti tari balet, teater, dan opera—merupakan salah satu aspek penting dalam kebangkitan tersebut. Melalui tulisan ini, Neva Elena mengkaji lebih dalam mengenai utilisasi tari balet sebagai instrumen soft power Rusia pada rentang waktu 1900-1960.

Abad ke-20 menjadi titik balik Rusia sebagai rising power dalam dunia internasional. Kekuatan Rusia pada bidang seni dan ekspresi kreatif — seperti tari balet, teater, dan opera — merupakan salah satu aspek penting dalam kebangkitan tersebut. Tari balet, sebagai kesenian yang mengalami perjalanan kontestasi kultural panjang dengan negara-negara Eropa Barat, terutama memiliki peran penting dalam perkembangan seni Rusia. Meskipun mula-mula tari balet lahir di Prancis–Italia pada 1700-an sebagai hiburan kaum aristokrat, Rusia berhasil membawa namanya menjadi tersohor di antara negara-negara di dunia melalui tari balet. Bahkan, Rusia sukses menyebarkan tari balet ke negara-negara yang belum tersentuh oleh tari balet sebelumnya, seperti Filipina, Taipei, Jepang, India, hingga ke kawasan Amerika Latin, Afrika Selatan, Australia, dan Selandia Baru.

Konstruksi identitas politik Rusia melalui tari balet dapat ditinjau dari berbagai aspek, yaitu konteks politik domestik dan penyebaran tari balet sebagai soft power dan identitas Rusia. Bangkitnya Rusia sebagai rising power tidak terlepas dari Revolusi Rusia. Masa ini ditandai oleh kesulitan ekonomi dan kelangkaan bahan-bahan pokok. Hal ini menyebabkan pemerintah Uni Soviet berorientasi pada reformasi ekonomi sehingga pengembangan seni budaya ditinggalkan untuk sementara. Perdebatan mengenai pelestarian tari balet sebagai “warisan budaya sosialis” memunculkan kesepakatan umum bahwa tari balet memiliki potensi menjadi aset budaya Uni Soviet. Pada saat yang bersamaan, kaum Bolshevik menentang hal ini karena tari balet dinilai sebagai warisan budaya kaum borjuis.

Namun, setelah pengadopsian suatu proyek budaya baru oleh Partai Bolshevik, tari balet kembali dilihat sebagai aset yang potensial untuk menyebarkan propaganda yang sejalan dengan identitas politik Uni Soviet sebagai negara sosialis-komunis. Setelah Revolusi, tari balet, yang awalnya dilihat sebagai tontonan eksklusif kaum borjuis, menjadi sesuatu yang dapat diakses seluruh lapisan masyarakat karena adanya pemberian tiket gratis. Tari balet merupakan identitas yang mampu bertahan di tengah pergolakan domestik Uni Soviet.

Pada 1930, Soviet mendefinisikan keinginannya untuk menggunakan seni sebagai alat ideologi dan politik. Keinginan tersebut didasari oleh keinginan para kaum revolusioner yang hendak menunjukkan bahwa seni dan budaya Soviet mampu menjangkau akar rumput. Repertoire (tarian yang dipersiapkan untuk pertunjukan) pertama dalam tema revolusioner ini adalah The Red Poppy yang ditampilkan di Teater Bolshoi. Tarian ini kemudian dipromosikan Stalin sebagai “people’s art”.

Warisan ini bertahan hingga 1950-60-an; pemerintah Uni Soviet betul-betul menggadang-gadang tari balet sebagai objek kebanggaan nasional. Pemerintah mempromosikan tari balet secara aktif untuk membentuk kesadaran sosialis penduduknya. Hal ini dibuktikan melalui pendirian akademi-akademi balet, seperti Leningrad State Choreographic Institute dan Bolshoi Ballet. Dukungan pemerintah Uni Soviet terhadap tari balet juga dibuktikan oleh pendanaan Partai Komunis kepada tur-tur balet ke Eropa Barat, seperti tur Bolshoi Balet ke Inggris pada 1956.

Faktor-faktor domestik ini membentuk citra dan identitas tari balet sebagai kesenian yang mampu menjangkau akar rumput. Ini menjadi dasar bagi Uni Soviet untuk menggunakan tari balet sebagai agen soft diplomacy terhadap negara-negara lain. Logikanya, citra tari balet sebagai kesenian yang dapat menjangkau akar rumput tidak harus hanya ada di tingkat domestik, tetapi juga di tingkat internasional. Sebagai agen soft diplomacy, tari balet membawakan unsur budaya dan ideologi politik untuk memikat, memengaruhi, dan membentuk preferensi aktor lain.

Fenomena ini dapat dikaji menurut paradigma konstruktivisme; lebih rincinya, teori identitas Manuel Castells (2010). Menurut Castells, segala identitas merupakan hasil konstruksi sosial dalam konteks ruang dan waktu. Salah satu bentuk identitas menurut Castells adalah legitimizing identity. Legitimizing identity dibentuk oleh institusi dominan dalam masyarakat dengan tujuan memperluas dan merasionalisasikan dominasi dari institusi dominan terhadap aktor-aktor sosial. Legitimizing identity digunakan Rusia dalam melakukan dominasinya dalam tari balet terhadap aktor sosial, yaitu Eropa Barat. Respons aktor sosial yang menerima dan mereproduksi identitas Rusia dalam tari balet menjadi justifikasi terhadap dominasi legitimizing identity Rusia. Selanjutnya, menurut Castell, proses menghasilkan legitimizing identity melalui empat tahap: (1) kepentingan dominan membentuk legitimizing identity, (2) institusi dominan mulai memperkenalkan legitimizing identity, (3) legitimizing identity diterima dan direproduksi secara luas, dan (4) dominasi legitimizing identity.

“Target” soft diplomacy balet Rusia adalah negara-negara Eropa Barat, seperti Prancis dan Inggris. Populernya tari balet Rusia sebagai identitas Uni Soviet di Eropa Barat pada 1900-an tidak terlepas dari peran pemerintah Soviet yang membantu proses pementasan tari balet Rusia di panggung besar Eropa — contohnya, Sport Palaces di Eropa Barat — serta memberikan tiket pertunjukan dengan harga yang murah. Pendekatan oleh Uni Soviet juga dilakukan dengan pertemuan, kunjungan, bahkan konferensi pers dengan sejumlah penari balet Uni Soviet.

Proses penyebaran dan dominasi Rusia dalam tari balet ke Barat dilakukan oleh berbagai aktor yang dominan dalam tari balet Rusia, seperti Ballet Russes Company dan Bolshoi Ballet. Ballet Russes merupakan perusahaan balet di Rusia yang didirikan oleh Sergei Diaghilev pada 1909. Dengan membawa penari-penari ternama Rusia, seperti Anna Pavlova, Tamara Karsavina, Mikhail Fokine, dan Vaslav Nijinsky, Ballet Russes berhasil mengenalkan tari balet Rusia sebagai tarian yang fleksibel di negara-negara Eropa Barat. Diaghilev juga berhasil menggaet Picasso, Matisse, Jean Cocteau, Erik Satie, dan Coco Chanel dalam mempersiapkan pertunjukan Ballet Russes untuk tur dunia. Adapun Bolshoi Ballet Moscow (Bolshoit Theater) merupakan akademi tertua kedua di Rusia setelah Imperial Ballet School St. Petersburg. Akademi yang didirikan pada 1776 ini merupakan akademi terpandang karena terletak di Kota Moskow, kota yang diakui sebagai pusat politik dan budaya Rusia pada 1900-an.

Ketertarikan Eropa Barat, khususnya Prancis, terhadap kesenian Rusia, memiliki latar belakang historis. Rusia dan Prancis memiliki hubungan baik yang telah tertanam sejak masa Aliansi Prancis-Rusia (1894) dan Triple Entente (1907) bersama Inggris. Namun, menurunnya hegemoni Prancis setelah kegagalan Concert of Europe membuat Rusia yang tadinya kagum dengan Prancis sampai membuat slogan “make ballet Russian”. Kejadian ini dapat dilihat sebagai proses perpindahan dominasi tari balet dari Eropa Barat (Prancis–Italia) ke Rusia pada awal abad ke-20. Balet, yang ironisnya, merupakan produk Prancis, justru digunakan Rusia untuk memajukan kepentingan negaranya.

Hal ini direalisasikan dengan kolaborasi usaha Uni Soviet dengan Eropa pada 1906 melalui Salon d’Automne di Paris yang menawarkan Rusia untuk naik panggung di Eropa dan “memamerkan” karya seninya. Dari tawaran tersebut, Paris ditetapkan sebagai tujuan pertama tur dunia Ballet Russes di Eropa yang dilaksanakan pada 1909. Selain Paris, Ballet Russes juga merencanakan tur di London pada 1911 dengan membawakan kolaborasi antara tari balet Rusia dan opera. Pengambilan keputusan untuk menampilkan tari balet Rusia di Eropa Barat juga didasari oleh kenyataan saat itu bahwa tari balet ditolak di Eropa Barat selama beberapa dekade terakhir. Masa-masa awal abad ke-20 di Rusia yang tidak stabil juga menjadi alasan Diaghilev memantapkan diri untuk berkecimpung di Eropa Barat daripada di Rusia.

Tari balet Rusia yang dibawakan oleh Ballet Russes, sesuai dengan proyek budaya Soviet, menjadi seni yang dapat dimengerti oleh seluruh kewarganegaraan, menjangkau seluruh kelas sosial, dan menjadi lambang kebangkitan tari balet saat balet di Eropa berada di ambang kehancuran. Tur dunia oleh Ballet Russes berada di bawah naungan dan pendanaan pemerintah Soviet. Proyek budaya Soviet saat itu sejalan dengan ambisi dari ekshibisi Salon d’Automne di Paris yang memberikan kesempatan kepada publik di Eropa untuk pertama kali—setelah beberapa tahun menolak aktivitas kesenian—menikmati kesenian Rusia dari berbagai periode, termasuk tari balet.

Masyarakat di Eropa kagum akan pembawaan tari balet Rusia yang ditampilkan oleh Ballet Russes untuk pertama kalinya di Paris. Diaghilev secara khusus menciptakan repertoire The Firebird sebagai “export to the West” yang diakui secara sadar sebagai tari balet Rusia dengan memasukkan tradisi rakyat Rusia di dalamnya dan terlepas dari stereotip eksotis, ke-“timur”-an, dan primitif dari Eropa. Karya-karya yang dibawakan Diaghilev di Eropa Barat memberikan warna baru bagi kesenian Eropa, terutama tari balet, karena tari balet yang dibawakan Rusia dikemas dengan penguasaan teknik yang luar biasa serta penunjukkan nuansa dramatis melalui tarian balet, bukan melalui pantomim yang biasa ditunjukkan tari balet Eropa. Perbedaan pembawaan tari balet Rusia pada masa Ballet Russes yang berbeda dengan pembawaan tari balet oleh Prancis–Italia pada abad ke-18 membuat tari balet Rusia menjadi identitas unik yang melekat pada Rusia.

Perubahan tatanan politik Rusia menjadi Uni Soviet yang sosialis-komunis serta proyek budaya pada 1917 membukakan akses terhadap tari balet kepada masyarakat luas. Pemerintah Uni Soviet memberi dukungan, kepercayaan, dan dana kepada Bolshoi Ballet untuk memulai tur dunia ke London pada 1956. Tur Bolshoi Ballet di London juga menjadi salah satu bentuk persesuaian hubungan Uni Soviet dengan Inggris (Anglo–Soviet solidarity). Dengan alasan tersebut, pertunjukan Bolshoi Ballet di London melibatkan petinggi-petinggi Soviet, seperti wakil menteri kebudayaan. Oleh sebab itu, tur dunia ini merupakan pertunjukan tingkat resmi dan bersifat politik meskipun hanya menggunakan soft power Uni Soviet, yaitu tari balet.

Kesuksesan tur Bolshoi Ballet di Inggris tidak lepas dari ditampilkannya repertoire yang memukau. Tur tersebut mempertontonkan repertoire asli Rusia, seperti Swan Lake dan Sleeping Beauty, yang diciptakan oleh koreografer kondang, Marius Petipa. Tur tersebut juga menampilkan pertunjukan karya sastra Inggris seperti Romeo and Juliet dalam bentuk pertunjukan dramatis, gabungan seni pantomim dan tari balet. Kesuksesan ini menjadikan Bolshoi Ballet ikon dari power dan pencapaian budaya Uni Soviet. Meski Inggris secara tegas menolak ideologi sosialis-komunis, perkenalan tari balet Rusia sebagai identitas Soviet di Inggris membuktikan berhasilnya misi proyek budaya. Dalam hal ini, Soviet berhasil memproyeksikan citra tari balet sebagai kesenian yang menjangkau akar rumput dan tidak memandang kelas sosial.

Setelah sekian lama meredup, kehadiran tari balet Rusia mengharumkan kembali kesenian Eropa Barat dengan unsur-unsur pendukungnya, seperti kostum balet, tata panggung, tata lampu, dan repertoire Rusia. Desainer Ballet Russes dipekerjakan secara luas di Eropa untuk merancang busana-busana dengan nuansa baru dan modern. Warna-warna yang dipakai membawa estetika baru pada abad ke-20. Inovasi Diaghilev dalam penggunaan cahaya dan efek panggung juga dengan cepat diadopsi oleh semua teater terkemuka di Eropa, seperti Paris Opera. Repertoire-repertoire terkenal di panggung balet internasional, seperti Swan Lake, the Sleeping Beauty, dan Giselle yang dibawakan oleh aktor-aktor penyebar tari balet Rusia banyak dipertunjukan kembali, salah satunya di Paris. Hal itu disebabkan oleh pengemasan tari balet Rusia yang dapat menyampaikan pesan melalui teknik balet, tidak hanya melalui pantomim seperti yang dilakukan di Eropa. Selain itu, penari-penari generasi baru Eropa Barat yang pernah dilatih oleh Diaghilev mengadopsi sebagian dari tarian dari Ballet Russes untuk membangun tradisi tari nasionalnya.

Kesuksesan tari balet sebagai soft diplomacy di Inggris terjadi ketika Diaghilev berhasil menghubungkan Ballet Russes dengan impresario Inggris, Thomas Beecham. Karena melihat tari balet Rusia sebagai kesenian yang cantik, modis, substantif, dan memiliki penari yang disiplin, Beecham kerap menampilkan tari balet Rusia di London. Kesuksesan ini juga dapat dilihat dari pendirian Camargo Society oleh ekonom ternama, John Maynard Keynes, untuk melanjutkan warisan tari balet Rusia di London dan mengembangkannya menjadi tari balet ala Inggris. Selain itu, pendirian English National Ballet, pendirian sekolah balet, dan penerbitan buku-buku mengenai tari balet Rusia menjadi bukti bahwa Inggris telah menerima diseminasi nilai Soviet melalui tari balet sebagai agen soft power.

Dalam pandangan konstruktivis, fenomena menyebarnya tari balet Rusia sebagai agen soft diplomacy merupakan konstruksi identitas politik. Konstruksi ini merupakan gabungan peran pemerintah, masyarakat, dan aktor lainnya yang memiliki kepentingan kolektif terhadap kemajuan Rusia sebagai rising power dan institusi dominan dalam tari balet. Kepentingan kolektif tersebut diwujudkan melalui upaya memopulerkan tari balet Rusia, tidak hanya dalam ruang domestik, tetapi juga hingga ke ruang internasional.

Tari balet dikonstruksikan sebagai alat propaganda ideologi sosialis-komunis. Proyeksi citra tari balet sebagai kesenian yang menjangkau akar rumput sejalan dengan gagasan dasar sosialisme-komunisme mengenai kesetaraan bagi kaum proletar. Tari balet yang berasal dari Prancis dan Italia justru mampu membawa nama Rusia lebih tinggi daripada negara asalnya. Eropa Barat justru menerima dominasi dan legitimasi balet Rusia sesuai konsep legitimizing identity. Walaupun memang Prancis dan Inggris tidak pernah menerima ideologi Soviet, hal ini menjadi bukti bahwa kesenian Soviet mendapat pengakuan internasional.

Kepentingan dominan untuk menyebarkan ideologi Soviet membentuk legitimizing identity. Identitas ini diperkuat melalui pembentukan institusi dominan yang melibatkan masyarakat sipil, seperti sekolah balet. Selanjutnya, identitas tersebut disebarkan ke Eropa Barat dan diterima sebagai produk kesenian Soviet secara terbuka. Proses legitimizing identity Soviet menuju keajegan ini menjadi dasar bagi Soviet untuk melakukan dominasi soft power di Eropa Barat pada 1900–1960. Selain itu, walaupun ini bersifat nonmateriel dan tidak nyata, identitas dalam pandangan konstruktivis menyajikan pandangan baru dalam membaca relaksi antaraktor dalam hubungan internasional. Dalam hal ini, kajian tentang latar belakang sejarah, politik, dan budaya juga turut penting untuk memahami bagaimana identitas dikonstruksikan oleh interaksi sosial.

HIQuarters, Meet the Author!

Neva Elena

Neva Elena atau biasa dipanggil Elena adalah mahasiswa S1 Ilmu Hubungan Internasional Universitas Indonesia. Selain menekuni dunia akademis, Elena aktif dalam Himpunan Mahasiswa Hubungan Internasional UI sebagai Wakil Kepala Divisi Hubungan Masyarakat.

Neva Elena
Neva Elena

Neva Elena atau biasa dipanggil Elena adalah mahasiswa S1 Ilmu Hubungan Internasional Universitas Indonesia. Selain menekuni dunia akademis, Elena aktif dalam Himpunan Mahasiswa Hubungan Internasional UI sebagai Wakil Kepala Divisi Hubungan Masyarakat.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *