Invasi, Bukan Perang

Meluasnya konflik antara Israel dan Hamas turut menciptakan berbagai diskursus akademis di dalamnya. Diskursus ini menunjukkan kompleksitas konflik dan menyoroti pentingnya memahami isu kemanusiaan dan keamanan dalam konteks konflik internasional . Selain itu, konflik Israel-Hamas juga menunjukkan bagaimana isu kemanusiaan masih menjadi perhatian dalam ilmu hubungan internasional, meskipun seringkali tidak mendapat perhatian yang setara dengan isu keamanan . Hal tersebut konflik antara Israel dan Hamas tidak hanya menciptakan dampak politik dan kemanusiaan, tetapi juga menciptakan diskursus akademis yang mendalam tentang isu-isu tersebut. Lantas, bagaimana integral antara isu keamanan dan kemanusiaan di dalam konflik Israel-Palestina? Apakah isu keamanan patut disetarakan dengan isu kemanusiaan? Dalam tulisan ini, Rama Raditya akan mengupas dan meninjau secara lebih mendalam terkait dimensi keamanan dan kemanusiaan berdasarkan publikasi tulisan sebelumnya.

Peringatan: Tulisan ini merupakan opini dari I Gusti Agung Rama Raditya dan tidak mewakili pandangan dari redaksi HI-Chronicles.

Beberapa waktu lalu, ada sebuah tulisan memorial yang melakukan analisis tentang invasi ke Palestina oleh Israel. Memang, ini adalah sebuah fenomena internasional dan sebagai seorang akademisi hubungan internasional (HI), mengingat pada awalnya ilmu HI adalah ilmu tentang perang, sudah menjadi sebuah hal natural bahwa perang akan menjadi forte mereka. Namun, apakah hal ini dapat dibantah? Tentu. Ilmu HI pada dasarnya masih terus berkembang dan menganalisis isu-isu lain selain keamanan. Pada tahun 1945, setelah Perang Dunia II, dunia internasional mulai memperhatikan isu-isu kemanusiaan dengan adanya Pengadilan Nuremberg sebagai pelopor. Sejak saat itu, berbagai konvensi internasional menjadi penanda bahwa isu kemanusiaan menjadi perhatian bidang ilmu ini, dimulai dari Deklarasi Universal Hak Asasi Manusia (Duham) tahun 1948 hingga ke Statuta Roma tahun 1998 yang memelopori berdirinya International Criminal Court. 

Tulisan ini menjadi kritik pribadi saya terhadap tulisan sebelumnya. Saya tidak akan mengkritik seluruh topik bahasan dalam tulisan. Saya yakin ada banyak orang yang lebih ahli dalam bidang-bidang lain. Hal yang ingin saya soroti adalah meski ada berbagai konvensi dan kesadaran tentang isu-isu kemanusiaan, faktanya adalah isu ini masih menjadi sebuah segmentasi dari isu keamanan. Bahkan, sejatinya, dalam ilmu HI seringkali tidak membahas human rights, tetapi human security. Naif bagi seorang pengkaji ilmu HI untuk mengatakan isu kemanusiaan sama kedudukannya dengan isu keamanan.

Hal yang ingin saya bahas pertama adalah tentang kedudukan isu. Sebagai pengkaji hubungan internasional, pernyataan “semua isu kedudukannya sama” adalah omong kosong. Orang seharusnya paham bagaimana selama ini alasan keamanan dijadikan justifikasi untuk mengesampingkan isu kemanusiaan. Isu kemanusiaan jelas-jelas kedudukannya ada di bawah isu keamanan karena jika setara, seluruh mekanisme di PBB, mulai dari resolusi Majelis Umum PBB tentang gencatan senjata yang kemudian diveto oleh Amerika Serikat, sampai ke Afrika Selatan yang menuntut Israel ke ICJ dan permintaan Majelis Umum PBB untuk meminta pandangan hukum kepada ICJ tidak akan selama itu.

PBB juga secara tidak langsung melihati isu kemanusiaan kedudukannya tidaklah setara dengan isu keamanan. Seandainya PBB melihatnya sebagai setara, mereka tidak perlu menunggu hingga bulan Desember untuk membuat resolusi dan meminta pandangan ICJ. Jika setara, PBB akan langsung bertindak di tanggal 8 Oktober 2023, atau bahkan jauh sebelum itu. Bahkan, dari seluruh anggota Majelis Umum, tidak seluruhnya setuju tentang resolusi kemanusiaan ini. Kenyataannya, ada 150 negara yang setuju, 23 abstain, dan 10 menolak.

Contoh lain yang lebih dekat bahwa isu manusia dikesampingkan, ya, dapat dilihat dari tulisan yang dikritik ini. Dari tingkat internasional sudah membuktikan bahwa isu keamanan dan isu kemanusiaan tidaklah setara. Menurut saya, menganggap kedua isu kedudukannya sama hanyalah sebuah alasan untuk menjustifikasi keamanan. Dengan kata lain, nyawa manusia tidak lebih penting dari patok perbatasan.

Hal kedua yang ingin saya bahas adalah pernyataan bahwa fenomena ini adalah perang antara Israel-Hamas padahal pada kenyataannya jauh lebih kompleks. Sebagai akademisi yang memiliki pendekatan “keamanan”, seharusnya penulis tulisan tersebut bisa memahami bahwa diksi perang sendiri sulit untuk didefinisikan. Menyimpulkan fenomena ini adalah sebuah perang sangat mereduksi fenomena karena ini (1) bukan perang, ini genosida, dan (2) targetnya bukan lagi Hamas, tetapi seluruh warga Palestina di Gaza. Lagi-lagi, seperti yang saya jelaskan di atas, menyatakan isu kemanusiaan setara kedudukannya seperti isu keamanan sangatlah naif. Tulisan tersebut menjadi sangat kontradiktif. Ini bukan perang, ini genosida tersistematis.

Hal ketiga yang ingin saya bahas adalah dari mana ada interpretasi #FreePalestine menjadi justifikasi Hamas untuk menghancurkan Israel? Melalui narasi? Tidak pernah ada pernyataan tentang #FreePalestine sebagai sebuah propaganda untuk melakukan genosida kembali. Pendukung #FreePalestine bukanlah orang-orang hipokrit yang ingin membalas tindakan genosida dengan genosida. Selain itu, berargumen bahwa bahwa  “From the River to the Sea” sebagai sebuah bentuk dukungan penghancuran total dan didukung dengan argumen dari artikel dari NY Times? Saya rasa saya tidak perlu menjelaskan lebih lanjut. Saya yakin pembaca jauh lebih pintar untuk menginterpretasikan kedua hubungannya. 

Hal keempat adalah dengan ada pernyataan “seadil-adilnya”, di akhir nanti, apapun hasilnya tidak akan adil untuk Palestina. Perlu ditekankan bahwa Inggris yang memberikan lahan di Palestina. Mengucapkan adil untuk invasi ini sama saja menyatakan bahwa Palestina harus mengalah di tanah mereka sendiri akibat negara kolonial.

Hal terakhir yang ingin saya bahas adalah tulisan tersebut banyak menyebutkan opini pribadi, tetapi mengklaim sebagai fakta. Contoh nyatanya adalah di paragraf terakhir tentang tagar #FreePalestine. Kesimpulan bahwa from the river to the sea adalah sebuah penghancuran merupakan sebuah klaim pribadi. Klaim bahwa tagar tersebut adalah sebuah penghancuran tidak pernah berasal dari pihak-pihak yang menggunakan tagar tersebut. Pernyataan tersebut adalah opini pribadi, jangan membungkus sebagai sebuah fakta. Penulisnya seharusnya lebih paham tentang hal ini jika memang menyatakan seorang pengkaji hubungan internasional.

Referensi

Ayyash, M. M. (2023, November 2). A genocide is under way in Palestine. Al Jazeera. https://www.aljazeera.com/opinions/2023/11/2/a-genocide-is-under-way-in-palestine

ICJ. (2023). The General Assembly of the United Nations requests an advisory opinion from the court in its resolution A/RES/77/247 on Israeli practices affecting the human rights of the Palestinian people in the O. The General Assembly of the United Nations requests an advisory opinion from the Court in its resolution A/RES/77/247 on Israeli practices affecting the human rights of the Palestinian people in the O | INTERNATIONAL COURT OF JUSTICE. https://www.icj-cij.org/node/106313

Lederer, E. M. (2023, December 9). US vetoes UN resolution backed by many nations demanding immediate humanitarian cease-fire in Gaza. AP News. https://apnews.com/article/israel-palestinians-un-resolution-ceasefire-humanitarian-6d3bfd31d6c25168e828274d96b85cf8

Purba, K. (2023, October 14). This war is not against Hamas but against the Palestinian people – academia. The Jakarta Post. https://www.thejakartapost.com/opinion/2023/10/14/this-war-is-not-against-hamas-but-against-the-palestinian-people.html

UN. (2023, December 12). UN General Assembly votes by large majority for immediate … – un news. UN News. https://news.un.org/en/story/2023/12/1144717

HIQuarters, Meet the Author!

I Gusti Rama Raditya

I Gusti Agung Rama Raditya atau biasa dipanggil Rama adalah mahasiswa S1 Ilmu Hubungan Internasional Universitas Indonesia. Selain menekuni dunia akademis, beliau turut aktif dalam organisasi mahasiswa yaitu BEM FISIP UI (2023) dengan menjabat sebagai Koordinator Bidang Sosial-Politik.

I Gusti Rama Raditya
I Gusti Rama Raditya

I Gusti Agung Rama Raditya atau biasa dipanggil Rama adalah mahasiswa S1 Ilmu Hubungan Internasional Universitas Indonesia. Selain menekuni dunia akademis, beliau turut aktif dalam organisasi mahasiswa yaitu BEM FISIP UI (2023) dengan menjabat sebagai Koordinator Bidang Sosial-Politik.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *