Sepanjang Jalan Bertabur Dusta: Manipulasi Sejarah yang Mengantarkan Dinasti Marcos Kembali Berkuasa | Kajian Insidental #2

Ferdinand Romualdez “Bongbong” Marcos Jr berhasil memenangkan pemilu Filipina pada tahun 2022 dan akan menjadi presiden Filipina. Naiknya Bongbong Marcos tentu membuka luka lama Filipina, yaitu ketika ayahnya Marcos sr. memerintah Filipina dengan tangan besi. Kemenangan Marcos Jr. diwarnai oleh upaya penghapusan sejarah yang dilakukan ayahnya melalui serangkaian teknik disinformasi.
Sumber gambar: Nikkei Montage, ” The Marcos revival: How late Philippine dictator’s son went from exile to election favorite,” nikkeiasia.com, (2022). Dari https://asia.nikkei.com/Spotlight/The-Big-Story/The-Marcos-revival-How-late-Philippine-dictator-s-son-went-from-exile-to-election-favorite

Latar Belakang

Kemenangan Ferdinand Romualdez “Bongbong” Marcos Jr. dalam Pemilihan Umum Filipina pada 9 Mei 2022 lalu cukup mengejutkan dunia. Perhitungan suara akhir menyatakan kandidat presiden dari Partido Federal ng Pilipinas (PFP) tersebut memperoleh kemenangan telak dari rivalnya, Leni Robredo, dengan perolehan 31.629.783 suara atau 58.77% dari jumlah seluruh pemilih. Kemenangan ini diikuti capaian 32.208.417 suara atau 61.53% pemilih kepada wakil Marcos, Sara Duterte. Dengan demikian, pasangan yang diusung oleh Aliansi UniTeam ini pun dinyatakan sebagai pemenang kontestasi elektoral Filipina 2022, yang akan segera memangku jabatannya sesudah dilantik pada 30 Juni 2022 mendatang. 

Kemenangan Marcos Junior merupakan titik balik tertinggi yang berhasil diraih dinasti politik asal Ilocos Norte tersebut, sekaligus menjadi langkah rehabilitasi luar biasa terhadap noktah hitam keluarga di masa lalu, yang lekat dengan citra tangan besi Ferdinand Emmanuel Edralin Marcos Sr. yang menjabat sebagai Presiden ke-10 Filipina sejak 1965 hingga dipaksa mundur dalam sebuah revolusi damai pada 25 Februari 1986. Meski demikian, terdapat banyak catatan terhadap kemenangan ini, mulai dari kampanye yang dipenuhi disinformasi, serangan terhadap Leni Robredo, hingga polarisasi opini publik yang terjadi agresif di kanal-kanal media sosial. Ancaman kembalinya dinasti politik di tengah berbagai permasalahan nasional, hingga usaha rehabilitasi nama keluarga yang berpotensi memutihkan sejarah pemerintahan Marcos Senior akan menjadi fokus utama kajian ini.

Cerita Mengobral Nostalgia

Pernyataan pertama kemenangan diumumkan Bongbong Marcos di posko pemenangan Aliansi UniTeam di Kota Mandaluyong, Manila, pada Senin malam, 9 Mei 2022. Mengenakan busana merah, Marcos Junior menyapa para pendukungnya dengan pidato singkat yang juga disiarkan langsung melalui Facebook, “Saya harap Anda tidak akan lelah mempercayai kami. Kita punya banyak tugas menanti di masa depan, dan ini adalah kerja besar yang tidak bisa dilaksanakan satu orang. Ini adalah usaha kita semua,” ujar Marcos. Sewaktu mengucapkan pidato tersebut,  jumlah suara yang masuk sudah mencapai 95% pemilih, dan dalam perhitungan, Marcos telah mengantungi 30 juta dukungan melalui pemungutan suara yang dilaksanakan selama 13 jam sejak pukul 06.00 hingga 19.00 waktu setempat. Hasil telak ini jelas menandakan kemenangan ada di pihaknya. Meski demikian, dengan agak merendah, Marcos tetap meminta kepada semua pihak menunggu proses perhitungan rampung sebelum merayakan kemenangan secara meriah bersama-sama.

Pernyataan kemenangan Marcos tersebut tentu memicu kekecewaan yang meluas di kalangan pendukung Leni Robredo, wakil presiden petahana, sekaligus rival Marcos di Pemilihan Umum yang mengusung perbaikan tata kelola pemerintahan dan pemberantasan korupsi sebagai dua program unggulannya. Perasaan kecewa itu diekspresikan oleh para pendukung Robredo dalam unjuk rasa di depan kantor Komisi Pemilihan Umum Filipina di Manila, pada Selasa pagi, 10 Mei 2022. Massa melancarkan protes atas kemenangan Marcos Junior yang dinilai berbuat curang dengan memanfaatkan polarisasi opini publik masyarakat Filipina dan kampanye hitam terhadap Robredo yang cukup masif selama masa kampanye. Kemenangan Marcos juga sangat mengecewakan untuk 2 juta relawan pemenangan Robredo yang menginisiasi kampanye door-to-door yang belum pernah ada sebelumnya. Pula, metode penyebaran disinformasi yang telah dipergunakan Marcos dalam kampanye juga dinilai merupakan awal rencana merevisi memori kolektif Filipina akan pemerintahan Ferdinand Marcos yang korup dan sarat pelanggaran hak asasi manusia. Tak hanya itu, kemenangan Bongbong juga diwarnai corak nepotisme, dengan kakak perempuannya yang menjadi senator; sepupunya menjadi pembicara DPR Filipina; dan sanak-semendanya yang lain telah memangku jabatan-jabatan penting di provinsi asal mereka. 

Metode disinformasi yang dipraktikkan secara lihai oleh Bongbong ditengarai sebagai sebuah mesin raksasa yang memproduksi propaganda secara terstruktur dan dipersiapkan sejak 2014, dengan target merehabilitasi nama keluarga Marcos untuk memuluskan jalan Bongbong dalam pemilihan wakil presiden tahun 2016. Meski kalah, produsen informasi bertenaga penuh yang dijalankan oleh suatu pusat kendali tersebut berhasil menunaikan tugasnya dengan sangat baik. Tentu saja, Bongbong menyangkal menggunakan metode ini secara sistematis dan membangun citra bahwa semua dukungan yang diperolehnya “semata-mata murni suara rakyat”. Namun, investigasi independen berbagai media dan penyelidik independen justru mendapat kenyataan sebaliknya, terutama dengan kenaikan signifikan statistik Google Trends, konten video singkat yang menyasar anak-anak muda yang berhasil menembus FYP TikTok dan YouTube, hingga pemakaian anekdot dan mitos yang disebarkan mulut ke mulut. Adalah tepat belaka jika waktu 8 tahun membangun citra tersebut dinilai sangat efektif, karena distribusi propaganda maupun polarisasi yang sengaja diciptakan kini berhasil diolah menjadi bahan kampanye yang strategis. 

Kerangka besar propaganda yang diproduksi secara terstruktur dan sistemik tersebut mencakup dua bidang yang resiprokal. Pertama, mengobral nostalgia kejayaan era kepresidenan Marcos Senior, dan kedua, melambungkan capaian-capaian Marcos Senior kepada Filipina yang secara spiritual akan direplikasi Bongbong jika ia dipercaya rakyat mengemban jabatan presiden. Di bidang pertama, propaganda tersebut memotret kepemimpinan Marcos sebagai masa keemasan Filipina, di mana seluruh rakyat bisa menikmati hasil-hasil pembangunan dan Filipina menjadi negeri yang disegani, dan seluruh negeri aman dan tenteram. Infrastruktur dibangun merata dan memuaskan seluruh rakyat. Kesejahteraan diklaim selalu meningkat, sedang angka kemiskinan berhasil ditekan dan korupsi diberantas sampai ke akar-akarnya. Berkat kehebatan itu, Filipina diklaim telah masuk ke jajaran negara terkaya ketiga di dunia. Tentu saja, propaganda demikian mengaburkan fakta keluarga Marcos telah menggasak US$10.000.000.000 uang negara selama berkuasa dan digelapkan lewat berbagai rekening bank di seluruh dunia. Tak diceritakan pula, bagaimana perekonomian negara itu nyaris hancur karena pemerintahan Marcos mengemplang utang luar negeri mencapai US$28.000.000.  

Sementara di bidang kedua, propaganda tersebut menyasar preferensi politik pemilih usia muda yang berumur kurang dari 40 tahun dan tidak mengalami pemerintahan Marcos Senior. Sasaran ini dianggap potensial digaet, mengingat jumlah mereka mencapai 56% dari 65.7 juta pemilih terdaftar. Melalui video-video yang diproduksi massal tersebut, kediktatoran dicitrakan ulang dengan sentuhan modern, ditambah lagu-lagu ceria dan emoji yang menampakkan kebahagiaan rakyat semasa kepemimpinan Marcos Senior. Citra ini tentu saja dikemas dengan tujuan akhir menghapus jejak pelanggaran HAM dari memori kolektif anak-anak muda Filipina yang tidak mempunyai akses terhadap bahan-bahan sejarah alternatif tentang kediktatoran Marcos Senior, selain cerita dari orang-orang tua yang sulit diverifikasi sebagai fakta maupun keterangan sumir di buku-buku sejarah diniah. “Bongbong Marcos ingin membangkitkan citra sebagai Ferdinand Marcos Sr. yang bangkit dari kubur, dan datang bagaikan pahlawan yang akan mengembalikan kedigdayaan Filipina sebagaimana ayahnya dahulu memimpin Filipina,” ujar Alfred McCoy, sejarawan University of Wisconsin. Selain itu, suatu tim khusus disinyalir telah menerima dana besar untuk kerja-kerja merevisi informasi sejarah di internet yang bekerja sebagai garda depan “perang informasi”, di mana sejumlah kata kunci pencarian seperti “Marcos kleptokrat” atau “Marcos diktator” coba dihapus berulang kali. Keberadaan garda depan ini menegaskan bahwa produksi disinformasi dan hoax sejatinya merupakan bisnis menjanjikan di Filipina. 

Materi propaganda juga membungkam keingintahuan anak-anak muda yang ingin mengetahui sejarah kelam Marcos, dengan mendengungkan klaim berulang-ulang bahwa “tidak terjadi apa-apa” dan “tidak ada penangkapan atau pemenjaraan” selama martial law diberlakukan antara 1972–1986. Tentu saja, kemasan video yang memikat dan imut telah berhasil membuat konten video tersebut disambut oleh anak-anak muda Filipina, meskipun isinya sarat manipulasi dan pemutarbalikan fakta sejarah—di mana ribuan lawan politik Marcos pernah ditangkap, disiksa, dan dibunuh secara sewenang-wenang dengan kekuatan tentara dan polisi yang loyal kepada patronase Marcos. Pula, jasa influencer dan key opinion leader tak lupa dikerahkan untuk turut serta berkampanye. Dalam hal ini, putra pertama Bongbong, Ferdinand Alexander “Sandro” Marcos yang berusia 27 tahun pun menjelma sebagai selebriti dadakan di media sosial Filipina. Ia pun memperoleh dukungan banyak anak-anak muda dalam pencalonan diri sebagai wakil provinsi Ilocos Norte dalam pemilihan congressman Filipina. Takarir setiap unggahannya di Instagram selalu menunjukkan bahwa ia adalah seorang yang gesit dan dapat dipercaya—walau tidak menjanjikan visi dan pandangan yang menjanjikan perubahan konkret.  

Di luar media sosial, kampanye lapangan Bongbong Marcos memanfaatkan kekuatan word of mouth dengan penyebaran anekdot, mitos, dan cerita-cerita konspiratif tentang Marcos yang—apabila diamati dari kejauhan—terlihat irasional dan menggelikan. Rupa-rupa fabrikasi dalam upaya tersebut bahkan sampai meminjam nama besar seperti sosok peramal Nostradamus yang, menurut konten propaganda, telah meramalkan kepemimpinan Marcos sejak lima ratus tahun lalu. Lain itu, gosip tentang timbunan harta keluarga Marcos yang menjadi jaminan bahwa dia sudah “kenyang harta” dan tidak akan menggunakan jabatannya untuk menyelewengkan uang rakyat. Pula, rumor diedarkan di kalangan pekerja kerah biru bahwa berton-ton cadangan emas yang dimiliki keluarga Marcos akan dibagi-bagikan kepada rakyat apabila ia terpilih menjadi presiden. Eksposur kekayaan keluarga—yang oleh sebagian kalangan politisi sering dihindari demi citra merakyat—ikut dilakukan Marcos, terutama saat berkampanye di kawasan miskin. Teknik yang tidak lazim ini juga dipraktikkan ibunda Bongbong, Imelda Marcos, saat dua kali berkampanye sebagai anggota parlemen. Hasilnya, ia memiliki pendukung loyalis di kalangan rakyat miskin karena dianggap satu-satunya politisi yang membantu wong cilik tanpa pamrih.

Refleksi Historis: Demokrasi Para Bos  

Penggunaan disinformasi sebagai senjata politik sejatinya bukan hal yang tabu. Kasus berbagai negara dapat menjadi bukti sampingan bahwa praktik ini, sekalipun membahayakan demokrasi yang sehat dan wajar, nyatanya efektif untuk mendulang dukungan. Di Amerika Serikat, teori-teori konspirasi yang beredar jelang Pemilihan Umum 2016 telah mengeruhkan polarisasi akar rumput dan memperuncing antagonisme politik antara pendukung Partai Republikan dan Partai Demokrat. Di Myanmar, media sosial Facebook dijadikan perkakas oleh kelompok-kelompok ultranasionalis menyuarakan sentimen Islamofobia terhadap etnis minoritas Rohingya. Metode disinformasi pun digunakan politisi sayap-kanan di beberapa negara Eropa untuk memperoleh dukungan lewat pencitraan populistik, dan yang mutakhir, Rusia mempergunakan disinformasi untuk menjustifikasi operasi militer skala penuh ke Ukraina di hadapan rakyatnya. Tentu saja, jamaknya pemakaian teknik tidak serta-merta membenarkan metode disinformasi sebagai alat mendulang suara di pemilihan umum. 

Di luar taktik mendulang suara dengan cara yang manipulatif, penempatan pasangan Marcos-Duterte dalam pemilihan umum kali ini menjadi simbol bersatunya dua dinasti politik terkuat di Filipina. Penyatuan ini, untuk kesekian kalinya dalam sejarah Filipina, melanggengkan suatu pola demokrasi yang diistilahkan oleh guru besar ilmu politik terkemuka, Benedict Anderson, sebagai cacique democracy atau demokrasi yang dikuasai caciquismo, yaitu bos-bos lokal dari berbagai trah atau dinasti politik yang menggilir kekuasaan secara bergantian selama beberapa generasi. Akar-akarnya dapat dilacak hingga awal kolonialisme Spanyol di Filipina pada 1521. Saat itu, Kerajaan Spanyol yang menganut Katolik Roma berhasil menegakkan kekuasaannya di Filipina, sekaligus menyebarkan ajaran agama kepada penduduk lokal. Kristenisasi berhasil dilakukan dan institusi Gereja Katolik pun perlahan-lahan mulai berkembang. Pertumbuhan ini mengarah pada kecenderungan Gereja yang tidak hanya berfungsi lembaga agama, namun juga lembaga sosial yang dalam beberapa catatan memiliki fungsi politis. Dengan kata lain, Gereja Katolik Filipina turut menjadi bagian dari arsitektur kolonialisme Spanyol, di mana sebagian kekuasaan Spanyol turut didelegasikan kepada Gereja. 

Motif Gereja yang memediasi kolonialisme Spanyol di Filipina turut berkembang dari sekadar fungsi misionaris dan penginjilan menjadi lembaga pendidikan yang signifikan. Tercatat, lewat kerja sama dengan Gereja Katolik, 5% penduduk Filipina menguasai bahasa Spanyol sewaktu kolonialisme tumbang pada 1898 dan tanah-tanah milik Gereja yang berakta Spanyol dibagikan kepada keluarga ningrat yang dengan cepat menjadi tuan tanah. Saat Amerika Serikat masuk ke Filipina menggantikan Spanyol, mereka mengenalkan sistem pemilihan umum yang efektif mulai 1902 untuk pemilihan gubernur. 

Sejak saat itu, mulailah kekuasaan digilir ganti berganti dari keluarga tuan tanah satu ke tuan tanah lain. Sistem pemilihan a la Amerika Serikat sukses menciptakan oligarki di Filipina, dan oligarki dikekalkan lewat jalur dinasti 9 keluarga paling berpengaruh: dinasti Ampatuan, Aquino, Binay, Cojuangco, Duterte, Estrada, Marcos, Ortega, dan Roxas. Tentu saja, di antara sembilan keluarga itu, dinasti Marcos dari Ilocos Norte menjadi yang terkuat dan berpengaruh hingga kini. Hal tersebut dibuktikan dari pengakuan Imelda Marcos dalam sebuah wawancara dengan Philippine Daily Inquirer tahun 1998 yang menyatakan bahwa trah Marcos menguasai nyaris segala hal yang berkenaan dengan hajat rakyat Filipina: listrik, bank, pabrik bir, pabrik rokok, telekomunikasi, asuransi, penerbangan, koran, jasa ekspedisi, pertambangan, resort dan hotel, hingga penggilingan kelapa. 

Corak dinasti politik umumnya tumbuh subur dalam masyarakat yang relatif terbelakang secara politik, dan karenanya merasa nyaman dengan sosok yang menjadi “orang kuat” di negara itu, di mana seluruh kekuasaan dipegang di tangannya secara terpusat. Pada umumnya, orang kuat dibutuhkan sebagai sosok yang dapat mengayomi kebutuhan rakyat dan mampu menumbuhkan patronase yang dicirikan dengan loyalitas pada figur tertentu, bukan kepada prinsip atau hukum yang sah. Sekalipun berkembang menjadi tidak terlalu vulgar, corak dinasti di manapun tetap menjadi musuh demokrasi karena menghambat persaingan politik yang sehat, setara, adil, dan transparan. Pula, dinasti politik yang dibiarkan berkembang berisiko menciptakan kronisme—pemanfaatan privilese segelintir orang yang berada di dekat lingkaran penguasa, hingga kultus individu. Lebih dari itu, dinasti politik berisiko membunuh meritokrasi sebagai semangat yang berkeadilan dan setiap waktu dapat menghancurkan masyarakat atas nama status quo

Pemantik Diskusi

Mampukah produksi wacana sejarah alternatif melawan manipulasi sejarah yang terbukti (masih) efektif secara politis?

Referensi

Anderson, Benedict. “Cacique Democracy in the Philippines: Origins and Dreams”. New Left Review I, No. 169 (Mei-Juni 1988): 3–31 

Associated Press. “Philippine election narrows to Marcos Jr., rights defender”. Associated Press. Diakses 29 Mei 2022. https://apnews.com/article/covid-health-presidential-elections-philippines-manila-5ad94b3b96733f7b7f4e1e77b0a28d93 

Coronel, Sheila. “The Triumph of Marcos Dynasty Disinformation Is a Warning to the U.S.”. The New Yorker. Diakses 30 Mei 2022. https://www.newyorker.com/news/dispatch/the-triumph-of-marcos-dynasty-disinformation-is-a-warning-to-the-us

de Guzman, Chad. “How TikTok Is Helping Bongbong Marcos Rewrite His Family’s Brutal Legacy”. TIME. Diakses 31 Mei 2022. https://time.com/6173757/bongbong-marcos-tiktok-philippines-election/ 

Mendoza, Ronald dan Leonardo M. Jaminola III. “Is Duterte a Populist? Rhetoric vs. Reality”. Center for International Relations and Sustainable Development. Diakses 1 Juni 2022. https://www.cirsd.org/en/horizons/horizons-winter-2020-issue-no-15/is-duterte-a-populist-rhetoric-vs-reality 

Palatino, Mong. “Political Dynasties Dominate Philippines Election — Again”. The Diplomat. Diakses 29 Mei 2022. https://thediplomat.com/2022/05/political-dynasties-dominate-philippines-election-again/ 

Promchertchoo, Pichayada. “’Enormous machine spreading disinformation’ casts shadow over Philippine presidential contest”. Channel News Asia. Diakses 31 Mei 2022. https://www.channelnewsasia.com/asia/philippines-presidential-election-disinformation-mislead-voters-bongbong-leni-2667791

Ratcliffe, Rebecca. “Ferdinand Marcos Jr. triumphs in Philippines Presidential Election”. The Guardian. Diakses 29 Mei 2022. 

https://www.theguardian.com/world/2022/may/09/ferdinand-marcos-jr-triumph-philippines-presidential-election

Ratcliffe Rebecca. “Philippines election result is a win for dynasty politics”. The Guardian. Diakses 29 Mei 2022. https://www.theguardian.com/world/2022/may/26/philippines-election-result-is-a-win-for-dynasty-politics 

Regan, Helen dan Yasmin Coles. “Marcos Jr. asks world not to judge him by his family’s past as he claims victory in Philippines election”. CNN World. Diakses 29 Mei 2022. 

https://edition.cnn.com/2022/05/11/asia/philippines-election-results-marcos-claims-victory-intl-hnk/index.html

Robbles, Raisa. “Philippine election: Ferdinand Marcos Jnr win prediction compels some business executives to make ‘emigration plans’”. South China Morning Post. Diakses 30 Mei 2022. https://www.scmp.com/week-asia/politics/article/3176879/philippine-election-ferdinand-marcos-jnr-win-prediction-compels

Salazar, Cherry. “Marcos leads presidential race amid massive disinformation”. Philippine Center for Investigative Journalism. Diakses 31 Mei 2022. 

https://pcij.org/article/8370/marcos-presidential-elections-massive-disinformation

Tuquero, Loreben. “Tracking the Marcos disinformation and propaganda machinery”. Rappler. Diakses 30 Mei 2022. https://www.rappler.com/newsbreak/iq/stories-tracking-marcos-disinformation-propaganda-machinery/

Westerman, Ashley. “Philippine Supreme Court petition seeks to cancel candidacy of President-elect Marcos”. NPR. Diakses 30 Mei 2022.

https://www.npr.org/2022/05/20/1099673892/supreme-court-philippines-marcos-petition Sochua, Mu. “Disinformation Poses a Grave Threat to Democracy in the Philippines”. The Diplomat. Diakses 1 Juni 2022. https://thediplomat.com/2022/05/disinformation-poses-a-grave-threat-to-democracy-in-the-philippines/

HIQuarters, Meet the Author!

Chris Wibisana

Chris Wibisana lahir di Jakarta, 01 Agustus 2003. Saat ini mahasiswa S-1 Departemen Ilmu Hubungan Internasional Fakultas Ilmu Sosial Ilmu Politik Universitas Indonesia. Kontributor reguler naskah sejarah untuk Tirto.ID sejak Mei 2021 dan kolumnis lepas di beberapa media massa.

Chris Wibisana
Chris Wibisana

Chris Wibisana lahir di Jakarta, 01 Agustus 2003. Saat ini mahasiswa S-1 Departemen Ilmu Hubungan Internasional Fakultas Ilmu Sosial Ilmu Politik Universitas Indonesia. Kontributor reguler naskah sejarah untuk Tirto.ID sejak Mei 2021 dan kolumnis lepas di beberapa media massa.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *