Elizabeth II dan Tujuh Dasawarsa Perubahan Britania Raya | Kajian Insidental #3

Sepeninggal Ratu Elizabeth ke 2, ada baiknya kita melihat kembali segala perubahan yang terjadi di Inggris Raya semasa kepemimpinan figur monarki dunia ini. Sejarah manis, pahit, dan segala perasaan campur aduk mewarnai kehidupan tokoh dunia satu ini. Satu hal yang pasti, dunia kehilangan salah satu tokoh paling berpengaruh.

Latar Belakang

Kerajaan Bersatu Britania Raya dan Irlandia Utara kini tengah memasuki episode sejarah baru sesudah Ratu Elizabeth II dinyatakan meninggal dunia pada 8 September 2022 dini hari dalam usia 96 tahun. Ia memimpin Kerajaan Bersatu selama 70 tahun, 7 bulan, dan 2 hari, mengalahkan kiprah nenek buyutnya, Ratu Victoria, yang memimpin Monarki selama 63 tahun, antara 1837 hingga 1901. Lewat pencapaian itu, Elizabeth II telah mencapai tingkatan sebagai figur yang tidak hanya bersejarah, melainkan juga menyejarah. Kepemimpinannya menandai kurun yang mana Britania Raya mengalami dinamika dan transformasi dunia yang berlangsung amat dahsyat, yang sekaligus membentuk wajah dunia yang kita kenal hari ini. 

Elizabeth II hidup dalam berbagai produk budaya yang menandai zamannya. Relasinya dengan administrasi pemerintahan diuji pada titik-titik kritis, sejak era Harold Wilson, Margaret Thatcher, hingga keluarnya Inggris dari Uni Eropa. Ia disanjung karena Persemakmuran yang ia pimpin membawa visi memajukan demokrasi dan hak-hak asasi manusia. Tetapi wajahnya sekaligus gelap dan kusam sebagai simbol tertinggi Monarki Inggris dan tengara hidup rakyat berikut segala kontroversinya. 

Inilah sekilas cerita Elizabeth II, wajah tujuh puluh tahun perubahan Britania Raya. 

Lima Tahun Pertama Penuh Ujian

Dari sebuah rumah pohon, pondok berburu yang dari atasnya seseorang bisa melihat alam Afrika yang masih tak tersentuh, sejarah Inggris berubah pada 6 Februari 1952. Pasangan muda, Elizabeth Alexandra Mary dan Philip Mountbatten, tengah mewakili Raja George VI dalam kunjungan ke negara-negara anggota Persemakmuran, organisasi asosiasi kerja sama mutual antara Inggris dan negara-negara bekas jajahan yang tersebar di Asia, Afrika, hingga Pasifik.  Hari itu adalah hari keenam sesudah Elizabeth dan Philip berangkat dari Bandara Heathrow, London, pada 31 Januari 1952, dengan dilepas ayah mereka yang sejak September 1951 telah hidup dengan sebelah paru-paru akibat kanker ganas. 

Tak ada yang menyangka bahwa hari itu, di pondok berburu Treetops, Nairobi, Kenya, seorang perempuan yang menaiki rumah pohon sebagai putri, kemudian turun dari sana sebagai ratu yang berkuasa atas hampir 1 miliar penduduk bumi. George VI, seorang perokok berat, wafat dalam tidurnya, lebih kurang tengah malam. Kabung nasional menyergap Inggris sejak pagi hari. Elizabeth sendiri baru menerima warta lelayu itu sekitar pukul 14.45 waktu Kenya lewat sekretaris pribadi Philip, karena saluran komunikasi yang masih amat terbatas di Kenya waktu itu.

Takhta kosong yang diserahkan George kepada putrinya bukanlah takhta yang sepenuhnya empuk diduduki. Pemberontakan Mau Mau menentang imperialisme Inggris berkobar di Kenya, tujuh bulan sesudah Elizabeth berkunjung ke sana. Kas negara mengalami defisit dan pembayaran luar negeri tersendat. Proses dekolonisasi yang lambat tidak sedikit mendapat kecaman dari administrasi imperial di seberang lautan. Diperparah eskalasi Perang Dingin dan persaingan di tubuh Partai Konservatif, kondisi centang-perenang itu menjadi tantangan pertama Elizabeth sebagai ratu. 

Tak lama menjabat, pemerintahan Eden dihantam kemelut Krisis Suez yang menguras kas negara hingga 45 juta Dollar dan mengancam simpanan luar negeri milik Kerajaan. Ia lantas memilih mengundurkan diri dan Elizabeth segera menunjuk Harold Macmillan untuk menggantikan Eden, berdasarkan rekomendasi Churchill dan Marquess de Salisbury, efektif per 10 Januari 1957. 

Gemuruh Melepas Jajahan

Enam tahun pemerintahan Macmillan nyatanya bukan kurun yang bisa dikatakan beres. Selain menuntut keaktifan Inggris untuk lebih giat meredakan ketegangan antara Blok Timur dan Blok Barat, rangkaian dekolonisasi yang tak selesai-selesai pun ikut menguras energi Inggris. Kerelaan London untuk mendekolonisasi sebagian besar jajahan dan fokus mengembangkan Persemakmuran seringkali ditentang oleh administratur imperial di tanah jajahan, dengan segala argumentasi dan pertimbangannya. 

Kebangkitan nasionalisme Afrika yang disponsori Uni Soviet berjalan simultan dengan dekolonisasi Malaya yang mengundang reaksi keras Filipina dan Indonesia. Malaya, di bawah kepemimpinan Tunku Abdul Razak, memproklamasikan berdirinya Federasi Malaysia pada 16 September 1963. Deklarasi ini memicu Indonesia melancarkan “Konfrontasi” untuk “mengganyang” Malaysia yang dianggap boneka Inggris, semata-mata karena negeri jiran itu memilih satu payung di bawah Persemakmuran. 

Bersamaan dengan dimulainya “Konfrontasi”, London pun terguncang dengan jatuhnya kabinet Macmillan, menyusul kecaman luas khalayak Inggris sesudah polisi menginvestigasi dan membongkar skandal seks yang melibatkan Menteri Luar Negeri John Profumo. Ini adalah skandal raksasa yang untuk pertama kali mencoreng nama baik Partai Konservatif sesudah 13 tahun kembali memimpin Inggris. Bukan perkara Profumo yang kedapatan memiliki hubungan gelap dengan Christine Keeler yang dipermasalahkan, melainkan karena dalam saat bersamaan, Keeler juga berpacaran dengan Yevgeny Ivanov, Atase Angkatan Laut Uni Soviet!   

Tak ayal, citra Partai Konservatif yang hancur karena terlilit skandal berujung pada kekalahan mereka di Pemilihan Umum 1964, sekaligus mengantarkan Harold Wilson, Ketua Partai Buruh, ke Downing Street 10. Terbawa ketegangan Perang Dingin, santer dikabarkan bahwa Wilson adalah mata-mata KGB yang bermisi menjatuhkan Monarki ─ kabar yang terbukti omong-kosong. 

Saat kemudi pemerintahan dipegang Wilson inilah, roda transformasi Inggris dianggap mulai melaju. Sebagai reformis, Wilson mempelopori berbagai terobosan lintas-bidang, mulai dari perekonomian, liberalisasi kebijakan sosial, pemerataan akses pendidikan, hingga perbaikan standar perumahan dan penataan kota. Perbaikan standar hidup mulai dirasakan, terutama di kota-kota dengan populasi padat kelas pekerja kerah biru. 

Tercatat, distribusi pendapatan Inggris pada 1970 jauh lebih merata daripada 1964, dan ini dinilai sebagai pencapaian kabinet Wilson. Karenanya, meski sempat kalah dalam Pemilihan Umum 1970, Wilson kembali terpilih sebagai perdana menteri pada 1974, sebelum mundur dari jabatan itu 1976 dan digantikan oleh James Callaghan. 

Masa-masa relatif tenang di Inggris pada transisi dekade 1960 menuju 1970 itu tidak berarti mudah bagi Elizabeth, karena di tahun-tahun yang sama, ia harus menyaksikan rontoknya kekuasaan Inggris di Timur Tengah, Afrika, dan Teluk Arabia. Dimulai dari pergolakan Afrika yang memanas pada 1960-an, Elizabeth terpaksa mulai menarik perangkat administrasinya di Timur Tengah satu demi satu hingga berhasil menyelesaikannya pada 1971. 

Karenanya, tidak mengherankan jika ingatan bekas-bekas jajahan Inggris di Afrika menyebabkan sebagian besar generasi muda Afrika menyatakan kelegaan, alih-alih berduka, saat Elizabeth berpulang pada Selasa lalu. Bagi mereka, wajah suram Elizabeth telah merangkum riwayat kekerasan, penindasan, eksploitasi, dan perbudakan yang harus diderita Afrika selama hampir seabad di bawah kekuasaan Inggris. Kematiannya menjadi lambang terputusnya rantai sejarah kelam dari masa lalu, dan karenanya bukan kematian seorang juruselamat yang perlu dikenang, apalagi ditangisi. 

Hidup dalam Produk Budaya

Ontran-ontran di panggung kekuasaan yang berlangsung seru itu, selain menjadi titik genting dan tidak jarang menjadi tikungan dalam sejarah Inggris, juga menjadi sumur gagasan untuk para pekerja kreatif mengabadikannya dalam produk budaya. Tanpa perlu berpanjang-lebar, tidak ada karya yang lebih monumental yang dihasilkan Inggris semasa kecamuk Perang Dingin daripada film seri James Bond. Kombinasi cerita spionase, intrik dan romantisme, latar belakang Perang Dingin, dan ambisi pengembangan teknologi mutakhir menjadikan James Bond sebagai bagian dari memori kolektif dunia yang tak lekang hingga saat ini. 

Seluruh cerita pun berpusat pada agen rahasia MI6, James Bond, berikut ragam petualangannya di seluruh dunia, yang di setiap film hampir selalu berusaha menyelamatkan Inggris dari pecahnya perang yang akan menjebak Inggris di tengah-tengah pertarungan dua kekuatan besar. Sebagai contoh You Only Live Twice (1967) yang mengangkat peran Bond dan MI6 menggagalkan adu-domba Amerika Serikat dan Uni Soviet dalam perlombaan antariksa, atau The Spy Who Loved Me (1977) yang menyisipkan fragmen kerja sama Inggris dan Uni Soviet dalam menghadapi pelaku kejahatan transnasional yang bermarkas di tengah samudera. Seri keenam film Bond bahkan secara eksplisit menyebutkan jati diri MI6 sebagai Her Majesty Secret Service

Fragmen riwayat kehidupan Elizabeth pun pernah tampil di beberapa film lain, mulai dari The Queen (2006), Elizabeth at 90 (2016), Downton Abbey (2019), hingga film animasi garapan Pixar, Cars 2 (2011). Di antara semuanya, tentu saja serial The Crown yang mengudara di Netflix sejak 2016 dan kini telah sampai musim keempat, menjadi yang paling terkemuka dan memiliki basis penggemar yang luas, terutama di kalangan penggemar drama keluarga yang berpilin dengan latar belakang historis. Meski di sejumlah bagian terdapat distorsi kisah demi kepentingan dramatisasi cerita, tak pelak The Crown menjadi serial yang cukup monumental dalam mengabadikan kehidupan ratu dan keluarganya. Peranan simbolisme kultural keluarga  Elizabeth juga menjadi salah satu daya tarik pariwisata Inggris, dengan kehidupan seputar Istana Buckingham sebagai pusatnya

Di luar film, dunia memiliki memori kolektif tentang dua raksasa musik amat berpengaruh dalam perkembangan kultural hari ini: The Beatles dan Elton John. Agensi musik yang digunakan keduanya telah menghadirkan citra Inggris, dan secara khusus menempati khazanah kebudayaan peradaban manusia. Tidak mengherankan jika selain John Lennon, semua anggota The Beatles dianugerahi gelar kebangsawanan Ordo Imperium Britania, demikian pula Elton John, yang dianggap berjasa bagi pemajuan kebudayaan musik Inggris dan membawa nilai-nilai tanah air mereka melalui musik.  

Melalui tayangan, eksposur, maupun penyisipan nilai-nilai Inggris melalui produk budaya itu, Elizabeth sesungguhnya dapat dinilai menjalankan hegemoni kultural, sebuah proposisi teoritik yang dirumuskan oleh Antonio Gramsci dan pertama kali diutarakan dalam buku Prison Notebooks yang telah dicetak ulang berkali-kali dan menjadi salah satu bacaan paling berpengaruh dalam rumpun pemikiran Marxisme. 

Hegemoni kultural menggambarkan mekanisme negara-negara kapitalis mempergunakan soft power dalam penciptaan citra dan injeksi nilai-nilai representatif negara tersebut. Secara lambat, internalisasi nilai-nilai dan cara pandang ini membentuk common sense bagi sasarannya. Tujuan praktik ini tidak lain ialah guna melanggengkan eksploitasi, sekaligus memperkuat pengaruh sebuah negara dalam interaksi antaraktor di aras politik internasional. 

Thatcher, Sebuah Episode Menantang

Periode kritis dalam kepemimpinan Elizabeth tak lain dimulai pada tahun ke-27 ia berkuasa, yakni dengan terpilihnya Margaret Hilda Thatcher sebagai Perdana Menteri perempuan pertama Inggris pada 4 Mei 1979. Thatcher, yang sejak 1976 menjadi Ketua Partai Konservatif dan pemuka oposisi di parlemen semasa Callaghan memimpin, berhasil memenangkan pemilihan umum dengan 339 kursi di parlemen atau 70 suara lebih banyak daripada Callaghan. 

Bukan zaman yang mudah, Thatcher memimpin pemerintahan dalam kondisi keuangan yang serba sulit akibat Krisis Minyak 1973 dan hiperinflasi yang membuat anggaran pemerintah kembang-kempis. Tidak heran, kebijakan-kebijakan Thatcher yang segera bergulir ialah menekan anggaran publik dan mengatur ulang subsidi, mengadakan privatisasi terhadap berbagai perusahaan negara, mengatur paket-paket deregulasi, serta menaikkan pajak.  

Pemotongan subsidi dan ekonomi yang semakin timpang dari waktu ke waktu menandai sebagian terbesar kepemimpinan dalam negeri Thatcher di periode pertama. Puncaknya, Thatcher dengan berani menabuh genderang perang melawan Argentina dalam mempertahankan Pulau Falklands (Malvinas) pada 1982, di mana Inggris berhasil mengalahkan Argentina dan mempertahankan kepemilikan atas Falklands, sekalipun kecaman datang dari berbagai arah. 

Kebijakan-kebijakannya yang tidak populer dan bertentangan dengan aspirasi pekerja kerah biru inilah yang, antara lain, membuat Thatcher dimusuhi dan dikenang pahit. Pendirian teguh Thatcher diingat lewat ucapan Thatcher yang amat terkenal, “Tidak ada itu ‘uang rakyat’, yang ada hanya ‘uang para pembayar pajak’” sebagai penegasan terhadap masalah anggaran publik dan subsidi yang terus-menerus berkurang. Tidak heran, pemikiran dan implementasi kebijakan yang ia jalankan selama memerintah dikenang sebagai “Thatcherism” yang disebut satu tarikan napas dengan kebijakan ekonomi Presiden Amerika Serikat kala itu, Ronald Reagan, yang yang dijuluki “Reaganomics”. 

Dalam hubungan dengan Elizabeth, Thatcher dinilai bersikap ambivalen. Campbell (2011, h. 464) mencatat betapa Thatcher di satu sisi bersikeras ingin memodernisasi Inggris dan mengikis perlahan-lahan nilai-nilai usang warisan Monarki, sementara di sisi lain, ia tetap memiliki perasaan hormat dan secara pribadi masih menjunjung keluarga kerajaan sebagai tengara kehidupan. 

Karenanya, dalam berbagai hal, hubungan keduanya selalu digambarkan “tidak nyaman” dan cenderung “canggung”. Selain perbedaan latar belakang yang sangat kentara, karakter Thatcher yang cenderung apa adanya dan seringkali berpembawaan kaku membuat citranya tidak terlalu baik di mata Istana. Meski demikian, relasi profesionalitas Thatcher terhadap Elizabeth sebagai kepala negara agaknya telah menjadi garis api yang mempertahankan integritas antara keduanya, dan menjadikan hubungan keduanya tetap baik sesudah Thatcher dijatuhkan kabinetnya sendiri pada November 1990. 

Dari Krisis ke Krisis

Kepemimpinan pemerintah Inggris pasca-Thatcher tidak kurang memperhadapkan Elizabeth pada pilihan-pilihan yang tidak kalah sulit. Ia sendiri yang mengundang John Major untuk memimpin pemerintahan dan menggantikan Thatcher. Sementara itu, suara-suara politisi Konservatif yang semakin hari semakin skeptis pada pertautan Inggris ke Uni Eropa kian kencang. Puncaknya, pada 16 September 1992, nilai tukar mata uang Poundsterling jatuh dan memaksa Inggris untuk menariknya dari European Exchange Rate Mechanism. Peristiwa yang hingga kini dikenang sebagai “Rabu Kelabu” itu menjadi faktor merosotnya elektabilitas Partai Konservatif pada Pemilihan Umum 1997

Seakan tak cukup dengan krisis di pemerintahan, krisis dalam keluarga kerajaan pun semakin menjadi-jadi dan mengancam martabat Elizabeth. Publik sudah sejak lama mafhum akan cerita cinta segitiga Pangeran Charles, Putri Diana, dan Camilla Bowes-Lyon yang berpuncak pada tewasnya Putri Diana dalam sebuah kecelakaan dramatis di Terowongan Pont d’Alma, Paris, pada 31 Agustus 1997. Bukan hanya duka yang harus ditanggung oleh keluarga keraton ini, melainkan juga pertanggungjawaban publik tentang keretakan rumah tangga Charles yang sejak lama menimbulkan suara kritis tentang peran Elizabeth dan keluarga kerajaan sebagai kompas moral bagi rakyat. 

Satu hal yang menjadi perubahan penting dalam diri Elizabeth sesudah Diana tewas: ia sadar bahwa tidak selamanya urusan keluarga harus menjadi konsumsi publik. Dalam beberapa kesempatan sejak itu, urusan keluarga dikendalikan Elizabeth agar tidak sampai keluar dari lingkungan Istana. Karenanya, ia cenderung menarik diri, meskipun oleh sementara kritik, ia dianggap ratu yang tidak peduli. 

Dua puluh tahun terakhir kepemimpinan Elizabeth cenderung ditandai dengan stabilitas dan rangkaian kejadian yang cenderung landai, menyusul usia Elizabeth yang kian beranjak. Aktivitas Elizabeth mungkin tidak lagi selincah saat ia berada di usia produktifnya, tetapi sebagai simbol kerajaan, ia masih memiliki vitalitas untuk tampil prima dalam setiap situasi, bahkan membintangi seremoni pembukaan Olimpiade Musim Panas 2012 yang dihelat di London bersama aktor Daniel Craig yang memerankan James Bond. Ia masih menghadiri pembukaan parlemen setiap tahunnya, kecuali pada 2021, di mana Charles mulai mewakili ibunya dalam upacara tersebut. 

Seperti dua sayap merpati yang patah, berpulangnya Pangeran Philip di usia 99 tahun menjadi titik awal menepinya Elizabeth dari eksposur publik. Serangan Covid-19 yang ia alami pada April 2022 menjadi faktor yang memicu memburuknya kesehatan Elizabeth selama beberapa waktu terakhir. Berkesempatan menyambut Liz Truss, perdana menteri baru pada 6 September 2022, Elizabeth pun menyusul suaminya dalam keabadian pada Kamis pekan lalu. Demikianlah, sebuah zaman “Elizabethan Age” berlalu bagi Inggris, yang kini menyongsong era “Charlesian”. 

Dimulai dalam kecamuk Perang Rusia-Ukraina yang berefek domino dan musim dingin yang akan segera datang, era “Charlesian” membuktikan histoire se repete sesudah 70 tahun: takhta yang berat di awal kekuasaan! Bukan hanya pertanyaan tentang kesanggupan Charles III memimpin di usia 73 tahun, melainkan juga perdebatan di kalangan negara-negara Persemakmuran tentang relevansi kepemimpinan Monarki Inggris selama ini. Debat kembali muncul, tentang apakah negara Persemakmuran berhak menentukan nasib sendiri dan pisah jalan dengan Monarki, ataukah tetap bertahan satu payung, meski tanda tanya mengadang di depan? 

Sebagian orang berspekulasi, inikah akhir monarki? Pribadi Elizabeth yang kuat dan memiliki ketenangan luar biasa dalam menghadapi badai-badai dan onak duri sepanjang memerintah selama ini dianggap menjadi perekat identitas monarki yang mempersatukan. Regenerasi yang tidak terbayangkan, kepemimpinan Charles III yang masih membutuhkan ujian waktu, dan pemerintahan Inggris yang bersiap menyambut terobosan-terobosan Liz Truss yang mematut diri sebagai “penerus ideologis” Margaret Thatcher, sejauh ini masih mengabuti arah ke mana sesungguhnya Inggris hendak melangkah (*).

Referensi

Beech, Matt, et.al (ed.). The Struggle for Labour’s Soul: Understanding Labour’s Political Thought Since 1945. New York: Routledge, 2011

Booth, William, dan Gillian Brockell. “The day Elizabeth became queen in a treehouse in Kenya”. The Washington Post. Diakses 15 September 2022. https://www.washingtonpost.com/history/2022/09/08/princess-elizabeth-queen-kenya/

Campbell, John. Margaret Thatcher: Iron Lady, Vol. 2. London: Random House, 2011

Chotiner, Isaac. “The Fantasy Behind Queen Elizabeth II’s Reign”. The New Yorker. Diakses 15 September 2022. https://www.newyorker.com/news/q-and-a/the-fantasy-behind-queen-elizabeths-reign

Cliffe, Jeremy. “The death of the Queen marks the final break with imperial Britain”. The New Statesman. Diakses 16 September 2020. https://www.newstatesman.com/world/2022/09/death-of-the-queen-elizabeth-ii-british-empire 

Davies, Caroline. “Fulfilling her destiny of lying in state in Westminster, the Queen passed into the monarchy’s 900-year history”. The Guardian. Diakses 17 September 2022. https://www.theguardian.com/uk-news/2022/sep/14/fulfilling-her-destiny-of-lying-in-state-in-westminster-the-queen-passed-into-the-monarchys-900-year-history 

Gramsci, Antonio. Prison Notebooks. Disunting oleh Joseph A. Buttigieg. New York: Columbia

University Press, 1992

Hardman, Robert. “Elizabeth II’s devotion to the Commonwealth”. The Spectator. Diakses 17 September 2022. https://www.spectator.co.uk/article/elizabeth-iis-devotion-to-the-commonwealth 

Holden, Michael. “Queen Elizabeth’s reign: golden age, or last embers of a bygone era?”. Reuters. Diakses 16 September 2022. https://www.reuters.com/world/uk/queen-elizabeths-reign-golden-age-or-last-embers-bygone-era-2022-09-08/

Holden, Michael. “Elizabeth, the queen who moved with a changing world”. Reuters. Diakses 16 September 2022. https://www.reuters.com/world/uk/obituary-elizabeth-queen-who-moved-with-changing-world-2022-09-08/

Hubbard, Lauren. “Why Harold Wilson Was One of Queen Elizabeth’s Favorite Prime Ministers”. Town and Country. Diakses 16 September 2022. https://www.townandcountrymag.com/society/tradition/a29213646/prime-minister-harold-wilson-facts/ 

Lears, T.J. Jackson. “The Concept of Cultural Hegemony: Problems and Possibilities”. The American Historical Review 90, No. 3 (1985): 567-593 

Lyall, Sarah. “Queen Elizabeth II: The One Who Constant in an Inconstant World”. The New York Times. Diakses 15 September 2022. https://www.nytimes.com/2022/09/09/world/europe/queen-elizabeth-britain-monarchy.html

MacFarquhar, Larissa. “How Prosperity Transformed the Falklands”. The New Yorker. Diakses 16 September 2020. https://www.newyorker.com/magazine/2020/07/06/how-prosperity-transformed-the-falklands 

Puckett-Pope, Lauren. “Queen Elizabeth II and Margaret Thatcher Were Always at Odds”. Harper’s Bazaar. Diakses 16 September 2022. https://www.harpersbazaar.com/culture/film-tv/a34717212/queen-elizabeth-margaret-thatcher-relationship/

Saifi, Zeena. “Queen Elizabeth witnessed the crumbling of British power in the Middle East”. CNN World Edition. Diakses 16 September 2022. https://edition.cnn.com/2022/09/12/middleeast/queen-middle-east-british-power-mime-intl/index.html 

Sullivan, Kevin, dan Anthony Faiola. “After Queen Elizabeth’s death, Britain faces questions and uncertainty”. The Washington Post. Diakses 16 September 2022. https://www.washingtonpost.com/world/2022/09/10/uk-queen-death-monarchy/

Waites, Rosie. “The moment a princess became a queen”. BBC News. Diakses 16 September 2022 https://www.bbc.com/news/magazine-16795006  

Wilson, A.N. “The Queen Strange was that she did not change”. The Spectator. Diakses 17 September 2022. https://www.spectator.co.uk/article/the-queens-strength-was-that-she-did-not-change 

Wood, James. “It’s Still Mrs. Thatcher’s Britain”. The New Yorker. Diakses 16 September 2022. https://www.newyorker.com/magazine/2019/12/02/its-still-mrs-thatchers-britain Young, John W. dan John Kent. “Collapsing Empires: The Cold War Battle for Hearts and Minds 1953-63”. Dalam International Relations Since 1945. Oxford: Oxford University Press, 2013

HIQuarters, Meet the Author!

Divisi Penelitian dan Pengembangan HMHI UI

Divisi Penelitian dan Pengembangan Himpunan Mahasiswa Hubungan Internasional adalah divisi yang bertujuan untuk menghadirkan konten penelitian dan menjadi wadah untuk kreativitas dan pengembangan diri mahasiswa.

Divisi Penelitian dan Pengembangan HMHI UI
Divisi Penelitian dan Pengembangan HMHI UI

Divisi Penelitian dan Pengembangan Himpunan Mahasiswa Hubungan Internasional adalah divisi yang bertujuan untuk menghadirkan konten penelitian dan menjadi wadah untuk kreativitas dan pengembangan diri mahasiswa.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *