Kedalaman dalam Sebuah Kesederhanaan | HIspective

Acara tokusatsu kerap dipandang sebelah mata dan dikesampingkan sebagai “Acara anak-anak”. Dalam tulisan ini, AJ mengungkapkan keunikan tokusatsu yang sederhana, namun kompleks, dalam sebuah media eskapisme yang membuatnya kadang mempertanyakan, sekaligus melupakan realita.

Kesukaan saya terhadap acara tokusatsu kerap kali dianggap sebagai sesuatu yang aneh dan tidak dewasa oleh orang-orang awam. Tokusatsu sendiri adalah film-film efek khusus garapan Jepang yang identik dengan superhero, kaiju, dan hal supranatural lainnya. Anak zaman saya harusnya masih ingat dengan serial seperti Ninja Ranger, Star Ranger, O-Ranger, Ultraman Cosmos, Ultraman Tiga, Satria Baja Hitam, dan lain-lain. Ya, serial sejenis itulah yang saya gemari, serial yang seringkali dianggap sebagai sebuah “serial anak-anak”. Namun, menurut saya, memanggil acara tersebut “serial anak-anak” adalah penggambaran super sempit terhadap sebuah kumpulan serial yang kompleks, tetapi sederhana.

Penggarap film Ratatouille (2007), Brad Bird, pernah menyatakan bahwa animasi bukanlah suatu genre, melainkan teknik dalam perfilman. Kenapa hal ini penting? Karena setiap film animasi memiliki nuansa sendiri yang mendalam dari sekadar “film animasi”. Saya masih ingat ketika banyak orang tua Indonesia marah-marah akibat konten dewasa yang prevalen di film Sausage Party. Hal ini terjadi karena minimnya pemahaman mengenai nuansa yang diketahui publik awam bahwa animasi bukanlah sebuah genre statis, tetapi sebuah teknik penyampaian cerita. Tonton satu episode Family Guy dan satu episode Spongebob Squarepants, lalu bandingkan perbedaan yang radikal antara kedua acara tersebut. Pantaskah kemudian kedua acara tersebut dinyatakan “selaras dan sejenis”?

Permasalahan yang sama menghantam serial tokusatsu, sebuah serial yang sering kali disederhanakan menjadi sebuah genre. Menurut saya, tokusatsu adalah sebuah medium yang digunakan untuk menampilkan sebuah cerita dengan kekhasan tersendiri. Klise-klise yang ditampilkan dalam tokusatsu tidak lain hanyalah metode untuk memberikan nuansa lebih mendalam kepada jalan cerita film biasa. Akan tetapi, kesamaan tersebut tidak cocok untuk menjadikan alasan acara tersebut dipukul rata. Contohnya, Choujin Sentai Jetman berhasil menceritakan kisah cinta segitiga yang amat dewasa dan kelam. Bandingkan dengan Ninja Sentai Kakuranger yang memberikan kisah kelompok ninja yang melawan hantu Jepang di kehidupan sehari-hari. Menurut saya, kedua serial tersebut adalah cara terbaik untuk menampilkan kontras dalam produksi tokusatsu.

Lantas, salah satu karakteristik dari film tokusatsu yang saya sukai adalah penyampaian materi yang disampaikan melalui alur linear sederhana dengan ancaman yang amat ditekankan (melalui efek spesial). Metode penyampaian yang amat sederhana ini membuat serial ini dapat dipahami oleh siapa pun, bahkan anak kecil. Hal ini yang kadang membuat orang salah kaprah dan menyebut acara ini dibuat untuk anak kecil. Saya rasa, tontonan seperti kartun Dora the Explorer, Phineas and Ferb, dan acara lainnya lebih cocok untuk dipanggil sebagai “acara anak-anak”, sementara, tokusatsu didesain sebagai acara semua umur. Saya tidak menafikan bahwa Anda sebagai orang dewasa tidak dapat menonton Dora the Explorer dan lainnya, tetapi saya menyatakan bahwa acara tersebut disusun secara khusus atas logika anak kecil dan kadang kala tidak disusun untuk otak manusia dewasa. 

Kesederhanaan tokusatsu membuat setiap episode terasa inklusif dan ringan untuk dikonsumsi setiap orang. Hal itu memberikan perbedaan yang khas dari serial tokusatsu dibandingkan serial seperti Black Mirror, Sex Education, Modern Family dan serial-serial populer lainnya. Serial yang berada di dimensi realis (terkadang hiperrealis) tersebut jika ditonton secara kritis membutuhkan banyak penjelasan dalam mencegah adanya plothole atau inkoherensi yang kerap muncul. Sedangkan, serial tokusatsu tidak memposisikan diri mereka dalam spektrum realisme, sehingga penonton biasa tidak banyak bertanya dan menikmati alur yang ada. Dalam dimensi mana Anda akan menganggap monster yang secara rutin muncul di kota adalah sesuatu yang mereplikasi dunia nyata?

Walau begitu, sejujurnya tokusatsu membawa kompleksitas yang bisa menjamah sedalam acara hiperrealis lainnya. Perbedaannya adalah, Anda baru akan mulai memunculkan pola pikir kritis tersebut setelah Anda mulai menikmati alur yang linear. Dalam beberapa pengalaman saya menonton tokusatsu, saya seringkali bertanya-tanya setelah saya melewati 20 sampai 30 episode ke dalam sebuah serial. Bagaimana bisa sebuah serial yang berisikan pahlawan super bertema buah kemudian berevolusi menjadi sebuah replika peperangan masa warlord di Jepang (Kamen Rider Gaim)? Akan tetapi, alih-alih membuat Anda merasa bahwa alur tersebut nyeleneh, Anda malah tertarik untuk melihat akhir dari cerita yang sudah Anda beri investasi waktu ini.

Hal yang berbeda ketika saya menonton acara seperti Black Mirror yang dengan langsung menampar Anda dengan sebuah realitas dari kenyataan yang diamplifikasi atau Modern Family yang juga memanfaatkan kondisi realitas sebagai poin dari komedi. Hal-hal tersebut menarik, tetapi terlalu banyak dosis realitas dalam sebuah acara serial kadang malah membuat saya mempertanyakan apa yang saya lakukan dengan realitas saya sendiri dalam kehidupan saya. Realitas yang ditawarkan di tokusatsu tidak berusaha menampar penonton dengan kondisi dunia kontemporer yang mereka hidupi. Akan tetapi, perlahan dan lambat laun, dunia dalam tokusatsu akan mereplikasi kenyataan sebelum Anda menyadarinya. Pada saat tersebut, Anda baru akan mengalami yang sering dikatakan sebagai mindblown.

Isapan jempol, fantasi, atau apa Anda sebutkan adalah latar sederhana yang diciptakan dengan cara yang sangat kompleks. Media sebagai eskapisme memberikan kesempatan seseorang untuk kemudian kabur dari realitas yang terlalu kompleks. Terkadang Anda mungkin sering berandai-andai, “Ah, andai aku bisa terbang!”; itulah bentuk eskapisme. Anda akan kesal jika seorang kemudian menghampiri Anda dan menyatakan, “Hal tersebut tidak realistis karena…,” karena yang Anda incar hanyalah sebuah eskapisme irasional yang menghibur atau setidaknya memberi Anda harapan dan kebahagiaan. Hal tersebut yang saya rasakan ketika menonton tokusatsu, semua pengandaian dan imajinasi saya yang eksploratif dimanjakan oleh kenyataan alternatif yang membiarkan hal tersebut menjadi kenyataan. Ketika saya menonton serial lain, secara konstan saya selalu dihantam oleh penjelasan dalam dimensi serial tersebut yang memberikan “justifikasi rasional” bagi segala hal yang terjadi.

Terkadang, untuk mereplikasi dan membiarkan seseorang nyaman dalam realitas kontemporer dalam sebuah media, kita tidak perlu menghantam penonton dengan realitas secara mentah-mentah. Sebuah dimensi realitas harus dimunculkan secara perlahan, menyingkap semua irasionalitas yang sudah terjadi. Menurut saya, hal itu adalah sebuah pola yang cocok dengan kehidupan seorang manusia. Dari masa bayi dan kanak-kanak, kita disisipi banyak mitos irasional yang kemudian kita turuti, tetapi lambat laun kita memahami kenyataan yang cukup membosankan di masa depan. Jika seorang bayi harus memahami dan disuapi rasionalitas dari awal hidupnya, bayi tersebut tidak akan pernah menikmati kehidupan hingga dia dewasa. Hal seperti itu yang biasa menghasilkan kriminal di masa depan, sebuah trauma. Istilahnya, penyuguhan realitas yang tidak pernah dipadukan dengan eskapisme dalam media menyebabkan kebosanan sendiri pada penonton yang mengincar sebuah eskapisme tertentu.

Hal ini memberikan saya kesempatan untuk benar-benar menikmati waktu berbahagia saya dalam menyaksikan media. Bisa dilihat dari bagaimana saya tidak pernah mau mengirim cuitan di Twitter ketika menonton acara tokusatsu dibandingkan dengan teman-teman saya yang bisa membuat thread bahkan yang berisi emosi ketika menonton serial kesukaan mereka. Saya tidak menyatakan bahwa hal itu berarti mereka tidak menikmati apa yang mereka tonton, tetapi jika saya berada di posisi tersebut, saya malah akan tambah stres daripada terhibur. Pada masa kuliah yang melelahkan ini, saya lebih baik meluapkan emosi saya dalam paper-paper saya yang biasanya mengkritik, daripada meluapkan emosi di masa menyenangkan saya—yang makin lama makin jarang adanya. Saya mempelajari banyak hal dari acara sesederhana tokusatsu. Semangat saya untuk menjadi pahlawan bagi orang kecil, semangat tidak menyerah, dan keinginan untuk mewujudkan keadilan merupakan sesuatu yang selalu saya junjung. Akan tetapi, kompleksitas tokusatsu membuat saya lebih kritis dan lebih realis dalam menghadapi ancaman di dunia demi mencegah memiliki hero complex. Saya amat merekomendasikan teman-teman yang merasakan bahwa realitas telah tidak lagi terbendung untuk dilewati agar  menyaksikan beberapa serial tokusatsu

HIQuarters, Meet the Author!

Albert Julio

AJ hanyalah seorang yang bukan siapa-siapa yang bermimpi untuk menjadi siapa-siapa di masa depan. Ia dapat ditemui di Twitter dengan nama pengguna @YoungZhouEnlai dan di Instagram dengan nama pengguna @im.the.aj 

Albert Julio
Albert Julio

AJ hanyalah seorang yang bukan siapa-siapa yang bermimpi untuk menjadi siapa-siapa di masa depan. Ia dapat ditemui di Twitter dengan nama pengguna @YoungZhouEnlai dan di Instagram dengan nama pengguna @im.the.aj 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *