Kilas Balik Para Pejuang HI UI Angkatan 2023 (1): Rekomendasi Alumni Fasilkom hingga “Kepikiran” Tiga Universitas

Pada bulan September ini, Universitas Indonesia akan kembali menggelar wisuda dan upacara penyambutan mahasiswa baru angkatan 2023 yang telah mengikuti orientasi kampus tingkat universitas dan fakultas. Dari sekitar sepuluh ribu mahasiswa baru yang resmi menjadi bagian dari keluarga besar Universitas Indonesia, ada sebagian kecil yang memilih jurusan hubungan internasional (HI).

Untuk mengetahui lebih jauh tentang perjuangan mereka untuk menggapai jurusan hubungan internasional, redaksi HIQuarterly melakukan wawancara asinkronus dengan empat mahasiswa HI angkatan 2023. Keempat mahasiswa ini berasal dari jalur penerimaan yang berbeda-beda.

Artikel ini menyajikan hasil wawancara dengan dua mahasiswa HI UI yang berhasil diterima melalui jalur seleksi nasional, Alia Fatika Santosa dan Nina Salmaa Fathinah. Meski terinspirasi untuk belajar hubungan internasional dari kegiatan Model United Nations, keduanya menempuh cara yang cukup berbeda untuk menggapai cita-citanya tersebut. Ingin tahu seperti apa kisah mereka? Yuk baca artikel ini!

Alia Fatika Santosa

Halo, Alia! Pertama-tama, terimakasih banyak karena telah meluangkan waktu untuk membahas mengenai cerita kamu untuk bisa diterima di hubungan internasional, salah satu program studi dengan keketatan paling tinggi di Universitas Indonesia. Kalau boleh tahu, bagaimana kamu bisa tahu tentang prodi HI di UI dan akhirnya memilih prodi ini?

Aku baru tahu tentang HI UI dari pelatih MUN aku yang merupakan alumni Fasilkom (Fakultas Ilmu Komputer) UI, dan dia bilang bahwa HI UI merupakan jurusan HI yang paling bagus di Indonesia. Selain itu, HI UI merupakan program studi yang lumayan kompetitif.

Cukup menarik ya, mendapatkan rekomendasi masuk HI dari jebolan Fasilkom. Kalau boleh tahu, apakah ada prodi lain yang kamu pertimbangkan selain hubungan internasional?

Ada. Saat aku masih duduk di bangku SMA, aku masih bingung dalam memilih hukum atau HI. Pada awalnya, aku ragu untuk memilih HI karena aku mengira bahwa aku hanya akan belajar tentang perang atau “hard diplomacy”. Setelah mengikuti banyak kegiatan MUN, aku jadi sadar bahwa lingkup HI jauh lebih luas dari “hard diplomacy”. HI adalah ilmu yang multidisipliner dan generalis, sehingga membuatku bisa belajar banyak hal. Oleh karena itu, sejak kelas XI, aku memutuskan untuk memilih HI.

Prodi hubungan internasional kan, ada di berbagai universitas, baik PTN maupun PTS. Dari universitas-universitas ini, kenapa kamu memutuskan untuk memilih UI?

Aku memilih HI UI karena kata guru BK aku, kesempatan untuk masuknya lebih tinggi melihat banyaknya alumni SMAN 70 Jakarta yang menjadi mahasiswa UI. Selain itu, aku memilih HI UI karena aku tahu bahwa reputasi prodi ini di UI sangatlah terpandang.

Apakah ada universitas lain yang kamu juga pertimbangkan selain UI?

Sebelum masuk ke HI UI, aku sebenarnya ingin masuk ke HI UGM lewat jalur IUP. Alasan pertamanya adalah karena program IUP bisa membuat saya belajar di luar negeri karena itu adalah kurikulum prodinya. Alasan kedua karena pengumuman lolos IUP lebih cepat daripada pengumuman SNBP sehingga saya tidak perlu lama-lama menunggu kabar apakah saya sudah mendapat kuliah apa belum.

IUP ini kan bersifat mandiri. Tentunya ada banyak prosedur ujian yang berbeda dari SNBT/SNBP. Kira-kira bagaimana sih persiapan kamu dalam menghadapi seleksi IUP?

Karena IUP UGM masuknya lewat tes dan wawancara, maka yang aku lakukan adalah belajar dan latihan. Dalam tesnya, ada bagian kuantitatif yang meminta kita untuk menyelesaikan 40 soal dalam waktu 40 menit. Karena saya cukup lemah dalam hal matematika, saya harus persiapkan otak untuk menjawab soal MTK secara cepat. Untuk mempersiapkan diri dalam menghadapi bagian kuantitatif, saya mengikuti bimbingan belajar privat mulai dari bulan Oktober 2022 sampai Maret 2023. Bimbingan privat tersebut juga melatih saya dalam wawancara agar saya bisa lebih siap menghadapinya.

Setelah menyelesaikan tes IUP, terdapat jeda waktu selama 5 hari sebelum hasilnya diumumkan. Selama 5 hari tersebut aku merasa sedikit gugup karena tidak tahu akan diterima atau tidak. Akhirnya, pada pukul 20.00 tanggal 9 Maret 2022 kemarin, aku dinyatakan diterima di IUP HI UGM. Perasaanku sangat senang karena semua usaha belajarku tidak sia-sia.

Kembali ke laptop, eh, maksudnya HI UI. Alia kan keterima HI UI lewat jalur undangan (SNBP), sebuah jalur yang sangat prestisius di mata siswa SMA tahun akhir karena prosesnya gak perlu banyak tes. Meski demikian, persiapan untuk SNBP tidak main-main karena harus sudah dilakukan sejak awal masuk SMA. Bagaimana persiapan kamu dari awal untuk menghadapi jalur ini?

Agar bisa masuk daftar siswa yang eligible untuk SNBP, aku mengikuti banyak lomba. Ketika aku duduk di bangku kelas X, aku berhasil memperoleh juara 3 dalam lomba FLS2N Nasional bidang Tari Kreasi yang sampai sekarang merupakan salah satu prestasi yang aku paling banggakan. Selain itu, aku juga mengikuti banyak lomba MUN. Ketika aku berada di kelas XI, aku mengikuti lomba MUN setiap bulan. Hal itu aku lakukan bukan hanya karena keinginan menabung prestasi, tetapi juga untuk memperoleh penambahan nilai dari prestasi-prestasi yang didapat. Meski demikian, aku tetap berusaha untuk aktif dalam kehidupan di sekolah. Aku biasanya sangat aktif di kelas dalam hal bertanya dan menjawab pertanyaan. Aku tidak pernah telat mengumpulkan tugas, sehingga nilaiku di sekolah tetap bagus.

Bagaimana perasaan kamu ketika mengetahui bahwa kamu diterima masuk HI UI lewat jalur SNBP?

Ketika aku melihat pengumuman SNBP, aku hanya diam saja. Menurut guru-guru di sekolahku, yang memperoleh peringkat satu paralel di angkatan akan selalu diterima lewat SNBP, dan aku adalah peringkat satu paralel angkatan.

Aku yang sudah mendapatkan IUP UGM dan sudah siap menjalani hidup di Jogja merasa sedikit kaget karena aku harus menyiapkan pendaftaran ulang dari awal lagi. Namun, secara keseluruhan, aku merasa senang karena aku berhasil mendapatkan HI UI lewat jalur SNBP yang notabene dianggap sebagai “jalur terhormat”

Sebagai salah satu “penyintas” jalur SNBP, apakah ada hal yang ingin kamu sampaikan kepada calon mahasiswa HI UI yang ingin mengikuti jalur SNBP?

Karena SNBP itu “jalur langit” dan banyak yang tidak bisa memprediksi hasilnya seperti apa, aku hanya bisa berpesan: banyak-banyaklah berdoa. Aku berkaca dari kasus di sekolahku kemarin, yakni ketika banyak yang mengira bahwa dirinya akan diterima lewat jalur SNBP, namun yang terjadi adalah sebaliknya. Agar kita bisa merasa aman, kita juga harus mempersiapkan diri untuk UTBK atau jalur mandiri lainnya seperti aku belajar untuk IUP UGM.

Apa harapan dan impian kamu setelah bergabung dengan HI UI melalui jalur SNBP?

Harapanku adalah aku bisa mengembangkan diri baik secara akademik maupun non-akademik. Di HI UI, terdapat banyak kesempatan kepanitiaan dan akademis sehingga aku ingin memanfaatkan itu sebaik-baiknya.

Alia kan sudah menjalani seluruh proses SNBP hingga berhasil diterima di UI. Bagaimana sih pendapat kamu terkait dengan jalur SNBP? Apakah ada saran atau kritik terkait dengan mekanisme penerimaan melalui jalur SNBP?

Saranku untuk jalur penerimaan SNBP adalah peningkatan transparansi. Bagi mereka yang ditolak, bisa dijelaskan lebih kenapa mereka bisa ditolak, apakah karena nilai atau sebagainya.


Hai, Nina! Terima kasih sudah bersedia berbagi kisah tentang perjuangan kamu untuk bisa lolos prodi hubungan internasional, salah satu prodi paling kompetitif di Universitas Indonesia. Boleh aku tahu, darimana kamu mengetahui tentang HI UI dan apa yang membuat kamu memilih jurusan ini?

Awalnya aku tau HI dari kakak kelas pas SMA. Sebenarnya sudah tahu dari dulu, tapi nggak pernah kepikiran untuk ke HI. Ceritanya waktu itu aku diminta (re: dipaksa) sama guruku untuk ikutan MUN. Kebetulan kakak kelasku yang anak HI ini jadi semacam mentor MUN aku. Lalu entah kenapa, aku mulai ada pikiran masuk HI deh. Selain itu, orang tua dan keluargaku yang lain juga bilang HI bakal cocok untukku. Katanya sih, karena bahasa Inggrisku bagus. Jadi aku dengan segala kebimbangan tentang jurusan saat itu langsung pilih HI tanpa riset lebih lanjut. Please jangan ditiru yaa, lain kali cari info dulu dan jangan cuma ikut-ikutan.

Hmmm…agak menarik ya, daftar jurusan tanpa riset dulu. Kalau boleh tahu, apakah kamu pernah kepikiran untuk coba universitas atau jurusan lain?

Untuk jurusan atau univ lain selain HI UI, sebenarnya ada beberapa yang aku pertimbangkan. Aku sempat ingin masuk FK UI, Psikologi UGM, dan HI Unila. Oh iya, HI Unila tuh pilihan keduaku di SNBT. Lucunya, aku sebenarnya lebih siap untuk masuk HI Unila daripada HI UI. Karena saat itu aku udah pesimis ga akan terima UI, tapi aku nekat aja gitu. Alhamdulillah masuk, tapi jujur ternyata HI UI susah banget??? Wish me luck 🤞

Nina kan diterima masuk ke HI UI lewat jalur SNBT. Kira-kira persyaratan-persyaratan apa aja sih yang Nina siapkan untuk mengikuti pendaftaran lewat jalur ini?

Kalau persyaratan untuk ikut SNBT sendiri awalnya itu harus daftar dulu. Biasanya sekolah ngarahin supaya daftar bareng, biar nggak ada yang luput. Di formulirnya kita bakal disuruh isi data pribadi, data sekolah, data keluarga dsb. Setelah itu kita akan diminta simpan permanen terus bayar biaya pendaftaran deh. Setelah bayar bakal dikasih tanggal ujian dan sesinya dari sistem. Pas hari H langsung ujian, nggak boleh terlambat atau bolak balik kamar mandi ya. Pokoknya harus siap dan fit banget karena energi bakal terkuras habis deh.

Nah, selain dokumen-dokumen pendukung untuk mengikuti SNBT, Nina tentunya juga mempersiapkan diri secara akademis untuk mengikuti SNBT. Apa aja sih, persiapan Nina untuk mengikuti SNBT?

Kalau persiapan jujur aku bukan yang seambis itu. Aku baru mulai les di akhir semester lima. Waktu itu bimbel offline di GO. Selain yang offline aku juga ada langganan yang online. Pertama aku pakai NF Juara, app ini membantu banget karena TO nya banyak dan pembahasannya lengkap. Selain itu dia sering ada promo, jadinya murah banget. Waktu itu aku perbulan cuma 25 ribuan. Yang kedua aku langganan Pahamify, tapi mostly buat TO nya aja. Kalau TO Pahamify sih udah pasti ngebantu bangettt. Aku juga suka lihat lihat YouTube nya Privat Al-Faiz dan buka buka akun studytwt.

Selama kamu mempersiapkan diri untuk menghadapi SNBT, pasti kamu menghadapi berbagai tantangan. Kira-kira apa tantangan terbesar kamu selama persiapan?

Tantangan terbesar itu malas. Bukan di SNBT aja sih, semuanya kalau malas pasti nggak akan ada yang selesai. Tapi aku gabisa bilang terlalu banyak soal ini, karena aku ya sering malas juga. Selain itu time managementku buruk, jadi belajar suka kurang optimal. Jangan jadi seperti aku yaaa…

Meski—seperti yang kamu bilang—time management kamu buruk dan kamu sering dilanda kemalasan, kamu akhirnya bisa lolos SNBT. Bagaimana perasaan kamu saat mengetahui kamu akhirnya diterima di HI UI?

Perasaan setelah keterima lewat SNBT tuh senang, terharu, sedih dikit, takut (banyak) dan mostly kaget, banget. Soalnya aku nggak nyangka sama sekali bakal diterima UI, kan niat awal emang nothing to lose aja. Aku mikir gitu karena udah TO 10 kalian nilaiku masih jauh di bawah passing grade HI UI. Alhamdulillah masuk, mungkin salah satu faktornya juga karena sistem ujian berubah tahun ini.

Kamu sekarang sudah berhasil diterima di HI UI lewat SNBT. Apakah ada saran bagi pejuang-pejuang HI UI dari jalur SNBT selanjutnya?

Saranku untuk yang mau ikut SNBT, semangat yaaa. Belajar tuh emang susah mulainya, apalagi soal SNBT susah banget. Tapi sebenarnya lama kelamaan persoal bakal kelihatan polanya gimana, yang penting tuh banyakin referensi soal yang sesuai silabus aja. Selain itu, jangan malah jadi toxic productivity. Kita manusia, belajar nggak apa apa, tapi jangan sampai bikin kita nggak bisa enjoy dan istirahat yaa.

Menurut kamu, bagaimana mekanisme sistem penerimaan lewat SNBT? Apakah sudah bagus atau ada yang masih perlu diperbaiki?

Jalur penerimaan SNBT sendiri menurutku sudah bagus. Soal-soalnya memang susah, tetapi wajar karena memang digunakan untuk seleksi masuk universitas. Selain itu kinerja panitia juga sudah baik dalam pencegahan kecurangan di dalam ruang ujian. Semoga ke depan bisa lebih baik dari tahun ini.

Untuk diri kamu sendiri, bagaimanakah harapan kamu selama empat tahun kedepan di HI UI?

Harapanku setelah bergabung di HI UI adalah semoga aku bisa belajar lebih banyak, bisa melihat berbagai hal dari lebih banyak perspektif, dapat relasi dan teman yang baik, serta semoga bisa bermanfaat bagi banyak orang.

R Nina Salmaa Fathinah

HIQuarters, Meet the Author!

HI Quarterly adalah majalah elektronik yang dikelola langsung oleh Divisi Hubungan Masyarakat Himpunan Mahasiswa Hubungan Internasional FISIP UI.

Redaksi HI Quarterly
Redaksi HI Quarterly

HI Quarterly adalah majalah elektronik yang dikelola langsung oleh Divisi Hubungan Masyarakat Himpunan Mahasiswa Hubungan Internasional FISIP UI.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *