Kilas Balik Para Pejuang HI UI Angkatan 2023 (2): Didorong Pergaulan hingga Tokoh Idaman

Setelah mendengarkan kisah dari mahasiswa HI UI Angkatan 2023 yang berjuang melalui jalur seleksi nasional, saatnya mendengar kisah dari dua mahasiswa HI UI yang berhasil lolos dari jalur mandiri: Rahardian Prananda Apriano dan Bening Anggiani Zawa Anjani. Kisah mereka diwarnai dengan berbagai cerita-cerita menarik, mulai dari kompetisi sains ilmiah hingga nyesek berpisah universitas dengan pacar. Penasaran seperti apa kisah mereka? Cuss kita kulik artikelnya!

Rahardian Prananda Apriano

Hai Rian! Sebelumnya aku berterimakasih karena sudah bersedia untuk meluangkan waktu kamu untuk bercerita tentang perjuangan kamu untuk menggapai salah satu program studi paling kompetitif di Universitas Indonesia. Dari mana sih, kamu tahu tentang prodi hubungan internasional Universitas Indonesia dan kenapa kamu memutuskan untuk ambil prodi ini?

Semua ini berawal saat aku kelas 10. Aku diajak kepala sekolah untuk mengikuti Action For Earth Global Youth Summit, sebuah kompetisi presentasi sains ilmiah dan Model United Nations di Australia, pada awal 2020. Momen tersebut membuat aku sadar bahwa aku telah menginjak garis batas zona nyaman. Sebelumnya, aku tipe anak yang jarang sekali mengikuti lomba. Aku hobinya bangun, makan, belajar, nonton YouTube, tidur, gitu terus. Kehidupanku serasa seperti terjebak di ruang monokrom. Namun, aku sadar, bahwa saat kepala sekolah mengajakku di awal tahun itu, aku harus menunjukkan kepada semua teman-teman, guru-guru, dan keluarga kalau Rian yang sekarang bukanlah sekedar siswa SMA yang “hitam-putih”.

Saat sampai di Australia, mataku terbuka lebar dengan betapa keren dan uniknya negara tersebut terutama orang-orangnya. Aku berusaha untuk ngobrol dengan berbagai jenis orang dan disitulah aku sadar bahwa basa-basi sangatlah penting dalam membangun relasi. Setiap orang yang aku hampiri membawa bekal ilmu yang baru, dan disaat aku mengikuti kompetisi presentasi ilmiah dan Model United Nations, disitulah semua titik yang selama ini aku pasang akhirnya tersambung. Titik-titik yang mendefinisikan bahwa kita hidup di dunia relasi yang berskala sangat luas muncul dipikiranku dalam bentuk hubungan internasional. Mau saat saya ikut lombanya ataupun di luar lomba-sedang jalan-jalan di sekitar kota Melbourne, yang aku lakukan waktu itu adalah melakukan interaksi antar aktor-aktor pada berbagai aspek kehidupan, seperti definisi sesungguhnya dari Ilmu Hubungan Internasional. Sepulangnya dari Australia, aku tidak melihat ke belakang dan selalu mengejar ilmu tersebut. Demi memperoleh cita-cita, aku sampai harus semi-gapyear tahun lalu dengan kuliah sambil bekerja dan belajar. Aku melihat bahwa HI UI merupakan salah satu tempat yang cocok buatku untuk bisa berkembang dan merealisasikan pengetahuan yang selama ini aku peroleh dan aku sangat bangga menjadi bagian dari HI UI.

Sangat unik ya, bahwa pengalaman kamu berbicara dengan orang dari berbagai latar belakang bisa mendorong kamu untuk mendaftar HI UI. Sebelum kamu mendaratkan pilihan kamu ke HI UI, adakah jurusan atau universitas lainnya yang kamu pernah pertimbangkan?

Sebenernya, ada. Saat SMA, aku dibiasakan untuk mempelajari mata pelajaran IPA dan IPS. Setelah 3 tahun, aku melakukan evaluasi diri dan menemukan bahwa aku orang yang lebih suka ilmu yang banyak hafalannya. Ketika aku kecil, aku menjadikan Univesitas Indonesia sebagai pilihan utamaku. Saat itu, aku sudah memilih HI UI terlebih dahulu di pilihan pertama, namun sayangnya di tahun itu aku belum bisa bergabung dan memperoleh jatah di salah satu jurusan (Biologi, red.) di FMIPA UI. Walaupun bukan jurusan impian, hal tersebut tidak menjadi masalah untukku. Alasan utamaku untuk tetap bergabung dengan jurusan tersebut karena aku dibiasakan untuk banyak membaca dan menulis di jurusan tersebut.

Setelah beberapa lama belajar di FMIPA, aku mengikuti jalur SNBT 2023. Jurusan yang aku pilih waktu itu adalah Ilmu Hukum dan Hubungan Internasional. Waktu itu SNBT 2023 menjadi pusat perhatian utama karena sistem format ujian yang jauh berbeda dibandingkan dengan SBMPTN 2022. Dalam format ujian yang baru, tidak ada lagi ujian TKA (Tes Kompetensi Akademik) yang artinya tidak ada mata pelajaran IPA dan IPS. Disitu aku cukup pede karena materi pada TPS (Tes Potensi Skolastik) lebih banyak ke teori sehingga membantuku untuk menguasainya. Setiap malam, aku selalu mereview soal, baik itu dari bank soal, try out, maupun review-review di Youtube. Sayangnya, dari semua perjuangan yang aku jalani pada saat itu, SNBT 2023 belum menjadi rezeki untukku. Berbagai rasa mengangguku berhari-hari setelah pengumuman SNBT 2023. Namun, hal itu tidak membunuh rasa semangat aku untuk mengejar apa yang aku impikan.

Perjuangan yang sangat berat ya, menghadapi dua penolakan berturut-turut dalam dua tahun. Kamu kan selanjutnya mencoba berjuang kembali melalui jalur SIMAK UI. Bagaimana persiapan kamu untuk menghadapi jalur seleksi ini?

Caraku mempersiapkan diri adalah dengan menguasai mata pelajaran rumpun IPS secara maksimal dan memperkuat lagi di bidang potensi skolastik. Secara metode pembelajaran, kurang lebih sama seperti persiapan saat aku menghadapi SNBT 2023, namun disini aku lebih menggencar jumlah latihan soal dan sempat mengikuti bimbel online private agar bisa lebih fokus tanpa terganggu oleh hal disekitar. Aku selalu memasang target saat ingin mengejar sesuatu, dan dengan ujian SIMAK UI ini yang memiliki bobot yang begitu berat, persiapanku untuk ini harus bisa melebihi SNBT.

Tantangan apa yang menurut kamu paling berat selama mempersiapkan diri dalam mengikuti ujian jalur SIMAK?

Tantangan tersulit adalah perjuangan aku dalam menguasai pelajaran rumpun IPS secara lebih mendalam. Selama setahun terakhir, aku hiatus dari dunia IPS, dan lebih memperkuat disiplin IPA karena dulu aku adalah anak FMIPA. Disitulah aku harus menguasai kembali IPS dengan waktu yang cukup singkat, namun bagiku itu adalah proses yang memorable dan menyenangkan.

Setelah melewati semua halang-rintang dalam menghadapi ujian SIMAK tersebut, akhirnya kamu berhasil diterima HI UI. Bagaimana perasaan kamu setelah mengetahui kamu diterima?

Rasa yang pertama kali dirasakan adalah seperti ada di alam mimpi yang penuh dengan warna. Aku belum pernah merasakan rasa yang begitu istimewa dan positif dengan waktu yang sangat lama. Sekalinya aku merasakan itu, aku langsung berterima kasih kepada Allah, orang tua, dan pastinya diri sendiri yang sudah mau berjuang kuat sampai di puncak. Quote yang selalu aku pegang adalah quote dari Michelangelo yang berbunyi “We are all powerful beyond measure”. Masing-masing dari kita mampu melakukan hal-hal luar biasa. Dan hal luar biasa itu dimulai dengan satu langkah.

Keajaiban terjadi ketika persiapan bertemu dengan peluang. Jalur SIMAK UI bukan hanya pintu menuju kampus unggulan, tapi panggung untuk menghidupkan impian dan potensi terbaikmu. Setiap soal adalah tantangan, setiap jawaban adalah langkahmu mendekati kejayaan. Jadilah pahlawan dalam kisahmu sendiri, dan biarkan usahamu menjadi melodi inspirasi bagi generasi mendatang. Dengan tekad, kerja keras, dan keyakinan pada dirimu sendiri, tak ada yang tak mungkin. Mari mulai perjalanan luar biasamu menuju puncak prestasi.

Apa harapan dan impian kamu setelah bergabung dengan HI UI Indonesia melalui jalur.

Setelah bergabung dengan HI UI melalui jalur SIMAK UI, harapanku begitu besar dan bersemangat. Aku ingin menjelajahi kompleksitas dunia ini melalui lensa hubungan internasional, memahami dinamika global, dan merangkul keragaman budaya dengan bijak. Impianku adalah menjadi agen perubahan yang mendorong kolaborasi lintas negara untuk perdamaian dan pembangunan berkelanjutan. Dengan ilmu yang kujunjung tinggi dari HI UI, aku bercita-cita membawa perubahan positif bagi masyarakat dan memberikan kontribusi nyata dalam memecahkan tantangan global. Bersama HI UI, aku akan mengukir jejak berharga dan merangkul masa depan dengan penuh optimisme.

Setelah melewati jalur SIMAK yang kamu gambarkan “memiliki bobot yang begitu berat”, apakah ada saran atau kritik dari kamu terkait dengan jalur seleksi SIMAK?

Kalo kata pepatah warga PTN Twitter, SIMAK hanya bisa DISIMAK WKAKWAK…namun apakah benar? Jawabannya adalah yes, but, it’s not impossible. SIMAK UI memang memiliki julukan sebagai ujian mandiri dengan kasta tertinggi di seluruh PTN Indonesia, dan soal-soal yang berbasis HOTS serta subtest TKA membuatnya menjadi lebih menantang. Namun, ada beberapa concern dari aku yang membuat SIMAK UI kemarin bagiku belum begitu sempurna, salah satunya adalah website dan sistem ujiannya yang tidak ketat. Sebelum aku ikut SIMAK UI, ada banyak cerita yang beredar di berbagai media sosial dan forum-forum publik bahwa SIMAK UI online khususnya memiliki sistem yang tidak kuat, baik itu dalam segi keamanan dan juga soal-soalnya. Semenjak SIMAK UI beralih ke daring di tahun 2020 silam, banyak berita yang beredar mengenai banyaknya kecurangan yang terjadi selama ujian SIMAK, mulai dari joki, kerjasama, dll. Itu menjadi salah satu kekhawatiranku dan banyak orang saat menghadapi SIMAK, namun aku selalu percaya ke diri sendiri kalo aku pasti bisa, karena bagiku, if you want to be trusted, be honest, cause no legacy is so rich as honest. Jadinya, menurtku, yang bisa dikembangkan dari SIMAK adalah lebih ke keamanan sistem ujiannya, mungkin bisa menggunakan teknologi AI untuk mendetek gerak-gerik yang cukup curiga ataupun bisa menggunakan platform videocall agar ada pengawasnya langsung. Lebih bagusnya lagi adalah jika SIMAK UI sudah bisa dilakukan secara luring di kampus


Halo Bening! Aku mengapresiasi kamu karena mau berbagi tentang pengalaman dalam mengejar impian kamu ke program studi Hubungan Internasional Universitas Indonesia. Nah, kalau dirunut dari belakang, bagaimana kamu bisa tahu soal HI UI?

Aku pertama kali tahu tentang HI UI itu dari papa. Papa nawarin ide ke aku untuk masuk HI UI karena bahasa Inggris aku yang bagus. Terinspirasi dari papaku, aku mulai menggali-gali informasi tentang HI UI dan prospek kerjanya. Setelah aku menggali lebih dalam, aku terkagum pada sosok menteri luar negeri Indonesia Ibu Retno Marsudi. Beliau merupakan Menteri Luar Negeri perempuan pertama di Indonesia, dan aku ingin mengikuti jejak langkahnya dan menjadi Menteri Luar Negeri yang membawa Indonesia ke jenjang diplomasi yang lebih tinggi dari sebelumnya.

Cita-cita kamu sangat mulia ya, ingin membawa diplomasi Indonesia satu tingkat lebih tinggi! Tapi kalau boleh jujur, ada gak sih universitas atau prodi lain yang kamu perjuangin selain HI UI?

Sejak awal, aku selalu bermimpi untuk masuk HI UI. Namun, setelah melihat passing gradenya, aku mulai mencari jurusan lain sebagai safety net. Aku memilih jurusan Hubungan Internasional di Universitas Padjajaran sebagai pilihan kedua untuk SNBP, ilmu hukum Universitas Airlangga sebagai pilihan kedua di SNBT, serta coba masuk hubungan internasional di Universitas Brawijaya dari jalur prestasi dan hubungan internasional UGM dari jalur IUP. Aku mempersiapkan diri menghadapi SNBP dengan memperoleh total nilai raport SMA 88,8, sedangkan untuk SNBT aku mengikuti les Prosus Inten.

Bagaimana perasaanmu setelah gagal diterima di jalur tersebut?

Waktu ditolak SNBP, itu rasanya nyesek dan sedih banget, langsung FOMO, soalnya pacarku keterima Psikologi UI lewat SNBP, sedangkan aku diterima di Ilmu Hukum Universitas Airlangga. Aku lebih memilih HI UI karena menang ini jurusan dan universitas yang aku inginkan.

Untuk masuk jalur PPKB perlu banyak persiapan, mulai dari nilai yang bagus, prestasi, sama persetujuan dari pihak sekolah. Bagaimana persiapan kamu untuk hal-hal seperti ini?

Yang pertama adalah mendapatkan nilai bagus di SMA. Jujur, dapat nilai bagus di SMA aku itu lumayan susah, karena tuntutan belajar dan pekerjaan rumah yang tinggi. Aku harus mem-balance jadwal sekolah, mengerjakan PR, latihan untuk lomba, les, dan istirahat. Perihal perizinan dari pihak sekolah, sekolahku mendapatkan banyak formulir PPKB tahun ini, sehingga tidak ada pembatasan oleh sekolah terkait dengan siapa yang mau ikut.

Bagaimana perasaan kamu ketika mengetahui bahwa kamu berhasil diterima melalui jalur PPKB?

Aku bersyukur sekali dan senang sekali mengetahui bahwa aku diterima di jurusan dan universitas impianku.

Apakah ada pesan-pesan buat mereka yang mengikuti jalur PPKB untuk mencapai HI UI?

Dicoba aja, jangan takut untuk ambil kesempatan ini, karena kesempatan ini gak bakal datang dua kali. Persiapkanlah nilai raport dan esai terbaikmu.

Bening Anggiani Zawa Anjani

HIQuarters, Meet the Author!

HI Quarterly adalah majalah elektronik yang dikelola langsung oleh Divisi Hubungan Masyarakat Himpunan Mahasiswa Hubungan Internasional FISIP UI.

Redaksi HI Quarterly
Redaksi HI Quarterly

HI Quarterly adalah majalah elektronik yang dikelola langsung oleh Divisi Hubungan Masyarakat Himpunan Mahasiswa Hubungan Internasional FISIP UI.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *