Konsisten Melagukan Berita: Sebuah Ulasan Perjalanan Musik Efek Rumah Kaca sejak ‘Self Titled’ hingga ‘Sinestesia’ 

Sejak mulai bermusik pada dekade awal 2000-an, Efek Rumah Kaca (ERK) konsisten untuk terus membahas permasalahan sosial-politik di sekitar kita. Selama kurang lebih dua dekade berkarya, trio pop minimalis tersebut telah sukses menelurkan tiga buah album dan satu EP (mini album). Sebagai remaja yang tumbuh dewasa sembari mendalami kepingan-kepingan musik mereka, penulis akan memberikan sedikit ulasan terhadap tiga album pertama ERK yang bagi penulis tidak hanya menjadi satu medium yang monumental dalam mendalami musik sebagai sebuah kepingan seni, melainkan juga menjadi “baptis” pertama penulis dalam menumbuhkan kesadaran sosial-politik dalam ruang personal.
Penampilan Efek Rumah Kaca pada Soundsproject 2019 (Sumber: dokumentasi pribadi)

Selintas, mungkin yang terbesit di pikiran kita ketika mendengar “Efek Rumah Kaca” adalah sebuah sebuah proses yang menyebabkan terjadinya pemanasan global. Pada kesempatan kali ini, penulis tidak dulu membahas soal itu, melainkan Efek Rumah Kaca (ERK): grup band asal Jakarta dengan personil Cholil Mahmud (vokal dan gitar), Adrian Yunan (Bass), dan Akbar Sudibyo (Drum) yang mulai aktif bermusik sejak 2001 hingga sekarang. Sebagai band independen, mereka menawarkan warna musik yang kontras dari kebanyakan penampil arus utama pada masa itu yang mayoritas mengusung tema percintaan dalam lagu-lagu mereka. ERK berhasil menguliti berbagai permasalahan sosial di sekitar kita — yang pada masanya sangatlah tidak lumrah sebagai sebuah tema dan landasan artistik seni musik. Efek Rumah Kaca dengan berani mengambil tema-tema “lain” seperti politik, sosial, gaya hidup, psikologi, dan sebagainya yang mungkin lama tidak terdengar dan terlihat dari berbagai karya musisi ataupun seniman di bidang-bidang lain — setidaknya selama sepuluh tahun era Reformasi. Mendengarkan Efek Rumah Kaca bak membuka lembar demi lembar koran sambil menyeruput kopi di minggu pagi. Mereka adalah pewarta andal dengan keahlian melagukan setiap berita dan fenomena membuatnya bahkan lebih menarik ketimbang membaca koran atau portal berita di internet. Banyak fenomena — khususnya sosial-politik — yang menjadi tema dari berbagai karya yang telah dibuat trio pop minimalis tersebut. Misalnya, kasus pembunuhan Munir yang secara kronologis diceritakan dalam lagu “Di Udara” atau budaya konsumerisme yang perlahan menjadi sebuah gaya hidup di zaman modern yang dirangkum dalam lagu berjudul “Belanja Terus Sampai Mati”. Mendengarkan Efek Rumah Kaca adalah media penyadaran bahwa betapa republik ini masih dipenuhi berbagai persoalan yang tak kunjung terselesaikan. Didorong keinginan untuk memberikan apresiasi terhadap berbagai karya yang telah mereka telurkan, penulis akan membuat sebuah ulasan tentang tiga album pertama yang penulis nilai secara personal dan sederhana. Ulasan ini tidak lain dan tidak bukan adalah opini pribadi penulis.

  1. ‘Efek Rumah Kaca’ (self titled) (2007) Skor: 82/100
Sampul album “Efek Rumah Kaca” (Sumber: pinterest.com)

Mendengarkan album ini sekilas mengingatkan kita dengan album kedua Radiohead “The Bends” yang didominasi oleh suara gitar dan hentakan drum yang dinamis sebagaimana rock alternatif era 90-an. Namun, trek lain juga menyajikan petikan gitar minimalis ala “Terbunuh Sepi” dari grup band Slank yang menurut sang vokalis adalah “cetak biru” lagu-lagu Efek Rumah Kaca yang gelap dan mengawang-awang. Album pertama Efek Rumah Kaca pada tahun 2007 ini menjadi sebuah debut yang berhasil menarik perhatian. Bagaimana tidak, rasa-rasanya di masa-masa itu sangat jarang musisi yang membahas soal Munir ataupun kediktatoran Rezim Orde Baru dan tema-tema lain yang sangat amat “melenceng” dari resep lirik-lirik khas penampil arus utama. “Sebelah Mata” menjadi salah satu lagu ERK yang hingga kini digemari dan didengarkan orang. Tak ketinggalan juga “Di Udara” serta “Cinta Melulu” yang akan diingat sebagai sebuah plang pemisah antara musisi arus utama yang secara melulu membuat lagu-lagu cinta yang klise dan membosankan dengan musisi independen yang berani keluar dari cangkang dogmatis “lagu cinta-cintaan”. Tak hanya soal politik, eksplorasi yang tidak biasa oleh ERK juga menceritakan soal kompleksitas kondisi psikis manusia seperti pada lagu “Insomnia” dan “Melankolia” yang cocok menemani lamunan di sepertiga malam. Sebuah album debut yang menampilkan identitas ERK secara menyeluruh dan akan terus diingat sebagai album penting dalam skena independen musik Indonesia era 2000-an.

  1. “Kamar Gelap” (2008) Skor: 88/10

Sampul album “Kamar Gelap” (Sumber: genius.com)

Setahun kemudian, album kedua pun dirilis dengan tetap mempertahankan tema-tema dari lirik yang senada dengan album pertama ditambah eksperimentasi secara musikal yang membuat album ini terdengar lebih kompleks dan dinamis. Eksperimentasi dengan sentuhan musik Waltz, misalnya dalam lagu “Laki-laki Pemalu” yang patut diacungi jempol. Mendengarkan album ini layaknya menonton film dokumenter tentang berbagai persoalan khas masyarakat urban serta Indonesia secara keseluruhan. “Hujan Jangan Marah” misalnya yang mengisahkan tentang bagaimana curah hujan tinggi menyebabkan berbagai bencana. “Banyak Asap Disana’ yang mengisahkan tentang kehidupan para urbanisasi dan masyarakat kelas bawah di ibu kota yang susah payah mencari penghidupan. Ataupun “Kenakalan Remaja di Era Informatika” yang mewartakan banyak penyalahgunaan internet yang sering dijadikan media mengakses video-video dan konten syur. Tak ketinggalan “Kau dan Aku Menuju Ruang Hampa” yang bisa diinterpretasikan ke dalam berbagai makna misal percintaan ataupun doktrin-doktrin radikal yang tidak berdasar. Alhasil, dengan sedikit eksplorasi ERK sukses mempertahankan identitas mereka namun tetap dengan membawa penyegaran.

3. “Sinestesia” (2015) Skor: 81/100

Sampul album “Sinestesia” (Sumber: wikipedia.id)

Setelah hiatus meramu dapur rekaman selama delapan tahun, pada 2015 album ketiga dengan nama “Sinestesia” pun dirilis. Album ini kian membawa segudang eksperimentasi dan eksplorasi yang jauh berbeda dengan dua album sebelumnya. Di album ini, ERK mulai menggali lebih jauh genre-genre dan referensi lain yang bisa jadi menyegarkan atau juga menyebalkan bagi sebagian orang. Mengapa demikian? Album dengan lagu-lagu berdurasi nyaris 20 menit beserta sub-sub judul/fragmen khas Indonesia 70/80-an agaknya sedikit membosankan bagi mereka yang sudah terlanjur jatuh cinta dengan “keminimalisan” ERK. Bagi penulis, eksplorasi ERK di album ini patut diapresiasi sebab kendati dengan genre yang sedikit banyak berbeda dengan dua album presedennya, ERK tetap berhasil meramu sebuah lagu tanpa menghilangkan unsur “khas” ERK seperti pemilihan diksi, bahasa, petikan gitar, dan tentunya tema lagu. “Putih” misalnya yang terdiri dari fragmen “Tiada” dan “Ada” menceritakan proses seseorang dijemput ajalnya dan proses seorang manusia lahir ke dunia atau “Biru” dengan fragmen “Pasar Bisa Diciptakan” serta “Cipta Bisa Dipasarkan” yang menceritakan keberhasilan ERK membawa idealisme mereka dalam menciptakan pasar mereka sendiri. “Jingga” yang terdiri dari fragmen “Hilang”, “Nyala Tak Terperi”, dan “Cahaya, Ayo Berdansa” dengan tempo dan melodi yang dinamis, mengawang-awang ala Sigur Ros berhasil menaikan dan menurunkan emosi sambil mengingat-ngingat hilangnya aktivis ’98 serta penyakit mata yang nyaris membuat Adrian — sang basis — kehilangan penglihatannya. “Sinestesia”, menurut penulis, berhasil mengaduk-aduk emosi pendengarnya namun tak sedikit juga yang merindukan “keminimalisan” ERK.

Rilisan fisik tiga album pertama ERK (Sumber: koleksi pribadi penulis)

HIQuarters, Meet the Author!

Gibraltar Andibya Muhammad

Final year student who chooses to pursue his dream through writing and research. A Self-proclaimed free thinker who is very passionate in transnationalism, especially in the discussion of identity politics, populism. However, he too has an enormous interest in american studies and critical development.

Gibraltar Andibya Muhammad
Gibraltar Andibya Muhammad

Final year student who chooses to pursue his dream through writing and research. A Self-proclaimed free thinker who is very passionate in transnationalism, especially in the discussion of identity politics, populism. However, he too has an enormous interest in american studies and critical development.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *