[Manchester City: Simbol dari Segala Keburukan Sepakbola Modern]

Pada musim ini, klub sepak bola asal Inggris, Manchester City, berhasil menjuarai Liga Primer Inggris yang keempat kalinya secara berturut-turut. Klub yang awalnya dipandang sebagai klub underdog dan hipster ini nasibnya berubah 180 derajat setelah dibeli oleh Abu Dhabi United Group Investment and Development pimpinan Sheikh Mansour pada tahun 2008. Melalui tulisan ini, Erza dan Raka mengkaji lebih dalam mengenai klub Manchester City sebagai lambang dari praktik sportswashing berbagai nation-state yang dianggap “menodai” permainan sepak bola oleh para penggemar olahraga ini.

Klub sepak bola asal Inggris, Manchester City, berhasil menjuarai Liga Primer Inggris yang keempat kalinya berturut-turut setelah memenangkan 28 dari 38 pertandingan pada musim 2023–24. Awalnya, klub gaek yang didukung para punggawa bandBritpop”, Oasis, ini merupakan lambang underdog sejati di sepak bola Inggris. Secara historis, klub rival sekotanya, yaitu Manchester United merupakan “institusi” terpandang dan sejajar dengan klub-klub peraih banyak titel lain, seperti Liverpool atau Arsenal.Posisi City makin dibayangi oleh Manchester United pada era manajer Sir Alex Ferguson yang mendulang banyak gelar juara di tingkat domestik ataupun Eropa. 

Situasi waktu itu diibaratkan sebagai bumi dan langit dengan kondisi klub ini sekarang. Per 2024, Manchester City telah memenangkan liga Inggris sebanyak 7 kali dan bahkan menyabet juara 3 kali beruntun pada era manajer Pep Guardiola. Guardiola adalah pelatih ketiga pada era kepemilikan Abu Dhabi United Group Investment and Development pimpinan Sheikh Mansour yang menjadi titik balik dari nasib klub ini pada 2008. Citra yang dimiliki City dari sebelum era kepemilikan Abu Dhabi dan sekarang sudah sangat berubah dari klub underdog dan hipster, menjadi klub para glory hunters dan pemaklum sportswashing. Kontroversi pada klub ini makin tersorot setelah diajukannya tuduhan-tuduhan pelanggaran FFP atau Financial Fair Play yang terakumulasi sebanyak 115 kali pada musim 2023–24. 

Pada kajian hubungan internasional yang membahas interseksi budaya dan politik, istilah sportswashing tercatat menuai kepopulerannya sejak dekade 1990-an dan 2000-an ketika ekses kekayaan dari industri migas di negara-negara bekas Uni Soviet dan negara di kawasan Timur Tengah mulai mengalir dalam investasi pada industri olahraga. Hal ini bertujuan untuk memoles citra para pemilik modalnya yang reputasinya kurang baik di negara-negara tempat industri olahraga ini berada. Sportswashing didefinisikan oleh Simon Chadwick dalam karyanya “From utilitarianism and neoclassical sport management to a new geopolitical economy of sport  (2022),” sebagai:

“a means by which a country can deflect audiences’ attention away from less favourable perceptions of a country via a programme of investment in sport”

Dilansir dari artikel Planet Football, Manchester City sebagai contoh ideal sportswashing tercatat menghabiskan sebanyak 1,2 miliar pound sterling sejak pengambilalihan kepemilikan mereka pada 2008. Sejak tahun tersebut, pernyataan dari pihak liga menyatakan bahwa mereka tertuduh dan dituntut telah melakukan pelanggaran sebanyak 115 kali yang beragam, mulai dari isu gaji, pengabaian peraturan UEFA Financial Fair Play dan peraturan Profit and Sustainability Regulations milik liga, hingga penolakan kerja sama dalam investigasi. Konsekuensi dari pelanggaran ini ekuivalen dengan terciptanya kondisi financial doping bagi City yang membuat arena kompetisi terdistorsi bagi klub lain yang beroperasi secara “normal”. Miguel Delaney dalam artikelnya di The Independent berargumen bahwa  City, sebagai tim yang paling kaya, mempunyai keunggulan jauh di atas pesaingnya dalam beradaptasi dengan tantangan tak terduga, seperti pada era pandemi Covid-19 dan dipotongnya waktu liga pada Piala Dunia 2022 di Qatar. City menjuarai dua titel liga pada periode sulit ini secara nyaman daripada tim liga Inggris yang lain. Arsenal, yang muncul sebagai sebuah pesaing baru pada dua musim terakhir, harus menerima keniscayaan bahwa mereka akan tersalip oleh City karena adanya financial doping yang tidak sportif, terlepas dari bagaimana hal tersebut terjadi. Pada akhirnya, kelanjutan tren ini akan menormalisasi kepemilikan industri sepakbola oleh nation-states yang sejak awal sudah problematis dan membuat para fans kehilangan ketertarikannya.

HIQuarters, Meet the Author!

Muhammad Erza Aimar Rizky

Muhammad Erza Aimar Rizky atau biasa dipanggil Erza adalah mahasiswa S1 Ilmu Hubungan Internasional Universitas Indonesia. Selain menekuni dunia akademis, Erza aktif dalam Himpunan Mahasiswa Hubungan Internasional UI sebagai Wakil Kepala Divisi Penelitian dan Pengembangan.

Raka Sayyidinnas

Raka Sayyidinnas atau biasa dipanggil Raka adalah mahasiswa S1 Ilmu Hubungan Internasional Universitas Indonesia. Selain menekuni dunia akademis, Raka aktif dalam Himpunan Mahasiswa Hubungan Internasional UI sebagai Staf Divisi Penelitian dan Pengembangan.

Muhammad Erza Aimar Rizky and Raka Sayyidinnas
Muhammad Erza Aimar Rizky and Raka Sayyidinnas

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *