Pusaran Instabilitas Niger: Penjatuhan Rezim Bazoum

Niger, sebuah negara yang terletak di kawasan Sahel, Afrika Barat yang selama puluhan tahun didera oleh instabilitas kini kembali jatuh ke dalam babak permasalahan baru, yakni kudeta yang menggulingkan rezim Muhammad Bazoum. Kudeta yang dilancarkan oleh pihak militer pimpinan Jenderal Abdourahamane Tchiani pada 26 Juli 2023 silam ini sejatinya merupakan insiden kudeta kelima sepanjang sejarah negara tersebut, namun sama seperti kudeta terdahulu, Niger kini kembali terjerumus ke dalam ketidakpastian dan mengarahkan Niger ke dalam konflik dengan negara asing. Tulisan ini akan membahas bagaimana Niger bisa jatuh ke dalam ketidakpastian seperti sekarang ini dan bagaimana keadaan negara tersebut pasca berlangsungnya kudeta.

Beberapa waktu lalu, dunia internasional kembali dikagetkan oleh salah satu isu internasional yang memikat perhatian dunia. Bukan dari negara adidaya, maupun Barat, melainkan dari sebuah negara yang masih sangat asing didengar oleh masyarakat umum, yakni Niger. Niger merupakan salah satu negara yang memiliki posisi yang sangat strategis di Afrika Barat. Wilayah Niger terletak di Sahel yang merupakan perbatasan antara Afrika bagian Utara dan Selatan. Posisi strategis yang dimiliki oleh Niger membuat Amerika Serikat (AS) dan Prancis menempatkan pangkalan militer mereka di wilayah Sahel dalam rangka melawan kelompok terorisme seperti ISIS dan Al-Qaeda. Namun, posisi strategis yang dimiliki oleh Niger tidak selalu diiringi oleh dinamika politik yang stabil. Sejak kemerdekaannya pada tahun 1960, Niger telah mengalami lima kali kudeta militer yang mana kudeta militer kelima terjadi pada 26 Juli 2023. Dengan dipandang sebagai salah satu wilayah penting di Afrika Barat, mengapa kemudian Niger masih sering mengalami kudeta militer?

Tentara Niger dalam operasi melawan kelompok Islamis (sumber: AFP)

Walaupun Niger telah mengalami kudeta, hal ini sudah berlangsung beberapa kali semenjak kemerdekaannya dari Prancis pada tahun 1960. Saat ini, wilayah Sahel menjadi salah satu bagian dunia yang sedang menghadapi ketidakstabilan politik dan demokrasi. Beberapa kelompok teroris berhasil mengembangkan jaringannya dan telah melakukan serangkaian aksi. Jaringan-jaringan teroris seperti ISIS dan Al-Qaeda semakin hari terus berusaha untuk menguasai wilayah Sahel, terutama yang terdapat pada wilayah perbatasan Niger, Mali, dan Burkina Faso. Kondisi tersebut tentu membuat guncangan terhadap stabilitas politik Niger. Hal ini menyebabkan menurunnya kepercayaan aparat militer dan rakyat sipil terhadap pemerintahan yang dipimpin Muhammad Bazoum. Pada akhirnya, mereka memilih untuk menempuh jalan pemberontakan yang dianggap dapat mengembalikan situasi keamanan di Niger. Jalan pemberontakan ini akhirnya terus berkembang sehingga menimbulkan gerakan kudeta terhadap pemerintahan Muhammad Bazoum yang sebelumnya telah terpilih secara demokratis melalui pemilihan presiden 2021.

Kudeta yang berhasil dilancarkan pada bulan Juli silam melibatkan berbagai elemen militer seperti  pengawal presiden dan pasukan pertahanan dan keamanan (FDS) dan kemudian bersatu untuk membuat junta militer atas nama Dewan Nasional Perlindungan Tanah Air (CNSP). Kudeta terdengar hingga ke seluruh wilayah Niger dan terjadi demonstrasi dari tentara yang memberontak untuk menurunkan pemerintahan Bazoum. Demonstrasi yang dilakukan sesungguhnya tidak hanya melibatkan para tentara, melainkan juga rakyat sipil. Perpaduan kekuatan antara pihak militer dan sipil ini kemudian menjadi suatu perlawanan bagi pihak yang mengutuk keras kudeta yang ada. Upaya represif yang dilancarkan oleh junta militer dan publik terhadap kudeta membuat pihak yang kontra terhadap kudeta semakin tertekan. Hal ini diperkuat dengan penyampaian pidato dari Jendral Abdourahamane Tchiani sebagai pemimpin utama kudeta yang memproklamirkan diri sebagai kepala negara. Ia menegaskan bahwa negaranya akan bertahan jika terjadi intervensi militer dari pihak eksternal atau internal.

Jenderal Tchiani tampil di depan siaran televisi pemerintah Niger pasca kudeta (sumber : BBC)

Ketidakstabilan pasca-konflik di Niger direspons oleh negara lain dan aktor internasional lainnya. Dari sini, dapat dilihat bahwa intervensi asing memberikan pengaruh yang signifikan terhadap kudeta yang terjadi. Kudeta ini mendapat kecaman dari Komunitas Ekonomi Negara-negara Afrika Barat (ECOWAS) dengan adanya intervensi militer jika Bazoum tidak kembali ke pemerintahan. Sejumlah negara di ECOWAS juga membekukan hubungan diplomatik dengan Niger dan menutup perbatasan udara dan darat dengan Niger. Bukan hanya ECOWAS, Prancis sebagai negara yang memiliki hubungan baik dalam pemerintahan Bazoum, mendapat ancaman dari Junta untuk keluar dari Niger. Hal ini juga didukung dengan adanya protes anti-Prancis semenjak kudeta. Sebagai respons, Prancis dan negara Barat lainnya mulai mengevakuasi penduduknya dari Niger. AS sebagai mitra utama Niger tentu memberikan respons yang mendalam terkait dengan kudeta ini. Hal tersebut dibuktikan dengan kecaman keras yang disampaikan Menteri Luar Negeri AS, Antony Blinken, atas tindakan penggulingan kekuasaan yang dilancarkan oleh junta militer Niger. Ia turut memberikan dukungan terhadap keberlanjutan kepemimpinan Bazoum yang telah terpilih secara demokratis. Selain itu, AS juga berupaya untuk memulihkan tatanan konstitusional di Niger. Hal ini tentu tidak terlepas dari kepentingan AS di wilayah Niger, mengingat Niger merupakan salah satu wilayah yang menjadi akses pangkalan militer AS. Oleh karena itu, stabilitas di wilayah Niger merupakan hal yang sangat krusial bagi AS karena akan menentukan hubungan bilateral antara kedua negara tersebut di masa depan.

Konflik politik yang terjadi di Niger dapat dikatakan membawa ancaman tersendiri bagi politik internal dan eksternal negara Sahel tersebut. Dengan adanya kudeta ini, ketidakstabilan diprediksi masih akan berlanjut jika dilihat dari sejarah Niger yang sudah mengalami beberapa kali kudeta akibat adanya konflik kepentingan pihak militer. Dengan adanya revolusi ini, sangat dikhawatirkan keberlangsungan hidup masyarakatnya, khususnya dalam pertumbuhan ekonomi dan keadaan sosial politik Niger. Sampai saat tulisan ini dibuat, ECOWAS, negara-negara, dan pihak internasional masih berusaha untuk bernegosiasi dengan junta militer Niger dalam rangka menyelesaikan permasalahan yang muncul akibat kudeta ini.

REFERENSI

Armed Conflict Location & Event Data Project. (2023). Regional Overview Africa July 2023. Armed Conflict Location & Event Data Project. http://www.jstor.org/stable/resrep52694

Armed Conflict Location & Event Data Project. (2023). Fact Sheet: Military Coup in Niger. Armed Conflict Location & Event Data Project. http://www.jstor.org/stable/resrep52692

Nsaibia, H., Raleigh, C., Fuller, B., Kamal, D., Bozhinova, K., Pellegrini, S., Holcomb, F., Castro, B., Ghaplanyan, V., Sulz, M. J., Lay, T., & Opperman, J. (2021). The Sahel: Insurgency and fragile politics at the center of an unabated crisis. In E. Bynum, R. Kishi, S. Afkari, & S. Jones (Eds.), TEN CONFLICTS TO WORRY ABOUT IN 2021 (pp. 33–35). Armed Conflict Location & Event Data Project. http://www.jstor.org/stable/resrep28646.13

Balima, B. (2023, September 2). Huge protests in Niger call for French forces to leave after coup. Reuters. Retrieved September 25, 2023, from https://www.reuters.com/world/africa/huge-protests-niger-call-french-forces-leave-after-coup-2023-09-02/

Trtafrica. (2023, August 25). Niger coup: What we know one month on. TRT Afrika. Retrieved September 25, 2023, from https://www.trtafrika.com/africa/niger-coup-what-we-know-one-month-on-14688049

Yabi, G. (2023, August 31). The Niger Coup’s Outsized Global Impact. Carnegie Endowment for International Peace. Retrieved September 25, 2023, from https://carnegieendowment.org/2023/08/31/niger-coup-s-outsized-global-impact-pub-90463

HIQuarters, Meet the Author!

HI Quarterly adalah majalah elektronik yang dikelola langsung oleh Divisi Hubungan Masyarakat Himpunan Mahasiswa Hubungan Internasional FISIP UI.

Redaksi HI Quarterly
Redaksi HI Quarterly

HI Quarterly adalah majalah elektronik yang dikelola langsung oleh Divisi Hubungan Masyarakat Himpunan Mahasiswa Hubungan Internasional FISIP UI.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *