RELOAD, REBOOT, REORIENT: PENGGAMBARAN IDENTITAS “TIMUR TENGAH” PASCA PERISTIWA 9/11 DALAM VIDEO GAME CALL OF DUTY 4: MODERN WARFARE

Pasca fenomena 9/11, Amerika Serikat mulai menginisiasi kampanye militer “War on Terror” di wilayah Timur Tengah yang diimplementasikan dalam berbagai bentuk—mulai dari invasi langsung sampai dengan utilisasi media. Namun, nuansa dari kampanye ini ternyata lebih dalam dari sekedar tindakan melawan terorisme. Dalam tulisan ini, Bianca Hasian mengkaji lebih dalam mengenai upaya Amerika Serikat yang menggunakan “War on Terror” sebagai alat narasi politik yang berupaya untuk mereduksi identitas Timur Tengah, khususnya dalam video game militer seperti Call of Duty 4: Modern Warfare.

Peristiwa 11 September (atau disebut juga sebagai Tragedi 9/11) adalah peristiwa yang mengguncang seluruh dunia internasional. Serangkaian pembajakan pesawat terbang dan serangan bunuh diri yang dilakukan pada tahun 2001 oleh 19 militan yang terkait dengan kelompok ekstremis Islam Al-Qaeda terhadap target-target di AS, merupakan serangan teroris paling mematikan di tanah Amerika dalam sejarah Amerika Serikat. Tragedi tersebut memakan 2.997 korban jiwa di New York City, Washington, DC dan di luar Shanksville, Pennsylvania. Sebagai respon terhadap serangan teroris tersebut, Presiden ke-43 Amerika Serikat, George W. Bush, menyamakan serangan 9/11 sebagai “acts of war” dan mengartikan perang atau pertempuran selanjutnya sebagai “monumental struggle of good versus evil”. Istilah “War on Terror” mulai terwujud dalam pernyataan-pernyataan selanjutnya dari administrasi Bush, dan mencapai puncaknya dengan pidato presiden di hadapan sidang gabungan Kongres pada tanggal 20 September: “Our war on terror begins with Al-Qaeda, but it does not end there.”

Terlepas dari klaim yang dinyatakan untuk mempromosikan kebebasan, demokrasi, dan kontra terorisme, Global War on Terror pasca peristiwa 9/11 telah gagal mendorong apa yang diklaimnya sebagai justifikasi demokrasi atau kebebasan. Sebaliknya, intervensi-intervensi pada abad ke-21, terutama di dunia Timur Tengah, telah menyebabkan peningkatan terorisme baik di skala regional maupun internasional. Pasca serangan 9/11, Timur Tengah telah menyaksikan lonjakan korban sipil yang belum pernah terjadi sebelumnya sejak tahun 2001. Apa yang dimulai pasca 9/11 sebagai upaya untuk membasmi Al-Qaeda telah berkembang menjadi konflik yang tak berkesudahan melawan berbagai kelompok-kelompok teror yang terus berkembang. Data dari Brown University mencatat bahwa Amerika Serikat menjalankan operasi kontra teror di 78 negara (atau 39% negara di dunia). Tidak berhenti sampai di situ, data dari Brown University lanjut menunjukkan bahwa 38 juta orang telah menjadi pengungsi yang mencari tempat aman di negara lain, atau menjadi pengungsi internal di dalam negeri mereka sendiri.

Merujuk pada data di atas, grand strategy Amerika Serikat pada era Global War on Terror mulai dapat untuk diidentifikasi. Meskipun benar adanya ancaman nyata dari teroris, kepentingan utama Global War on Terror terletak pada perannya sebagai narasi politik yang kapabilitasnya untuk memvalidasi dan melegitimasi dominasi, kepemimpinan, dan tindakan sepihak AS, baik di dalam AS itu sendiri maupun di panggung global. 13 Seolah-olah ada pertanda Amerika Serikat melakukan pembalikan ke nilai-nilai Perang Dingin. Dalam pidatonya di hadapan sidang gabungan Kongres, Presiden Bush menyatakan bahwa “Every nation in every region now has a decision to make: Either you are with us or you are with the terrorists.” Pidato inilah yang kemudian menyalakan api respons militer di Afghanistan dan Irak terhadap kekuatan Al-Qaeda—yang sebenarnya tidak memiliki negara.

Media Amerika Serikat pun tak tinggal diam, sebagaimana mereka juga turut serta dalam upaya ‘memerangi terorisme’ bersama dengan pemerintahan Bush. Pasca 9/11, media mainstream Amerika Serikat memainkan peran yang signifikan dalam mempromosikan nilai-nilai baru untuk meningkatkan moral dan dukungan bagi militer AS. Penggambaran maskulinitas heroik dan moralitas Kristen berkulit putih menjadi sumber penghiburan bagi masyarakat Amerika yang bergulat dengan ketakutan dan keresahan pasca serangan 9/11. Tidak hanya media liputan, media hiburan video game pun turut digunakan oleh AS sebagai suatu bentuk propaganda. Langkah ini cukup strategis karena pengakuan akan pentingnya budaya populer dalam konteks politik dunia pada masa itu semakin meningkat, tak terkecuali video game yang jumlah konsumsi nya semakin meningkat seiring dengan masuknya AS ke era digital baru pasca 9/11.

Pasca 9/11, video game Amerika Serikat banyak yang mengangkat tema militer dan peperangan. Military war games menjadi sebuah genre yang cukup populer dalam skena permainan dan video game Amerika Serikat, dan salah satu video game paling populer dari genre ini adalah Call of Duty 4: Modern Warfare. Dirilis pada tahun 2007, Modern Warfare mengangkat latar yang berbeda dari instalasi Call of Duty sebelumnya, sebagaimana game ini berdeviasi dari latar waktu Perang Dunia II—yang konsisten dalam seri Call of Duty—dan justru mengambil latar waktu modern. 

Dalam Modern Warfare, pemain mengambil peran sebagai pahlawan militer maskulin Anglo-Amerika yang melawan musuh yang dikarakterisasikan secara tersirat—atau bahkan secara gamblang—sebagai masyarakat Timur Tengah. Protagonis dalam game ini bernama Soap MacTavish, seorang anggota SAS (Special Air Service), John Price, seorang kapten SAS, dan Paul Jackson, seorang anggota Marinir AS. Sepanjang alur cerita game ini, para protagonis ditugaskan untuk menumpas pergerakan dari dua antagonis utama, yakni Khaled Al-Asad, seorang pemimpin revolusi di Timur Tengah, dan Imran Zakhaev, seorang pemimpin organisasi ultranasionalis Rusia. Kedua antagonis ini bersekongkol untuk meluncurkan senjata pemusnah massal nuklir ke pesisir Timur AS. Demi menghentikan konspirasi tersebut, anggota SAS dan USMC menginvasi Kuwait, Irak, Azerbaijan, dan Rusia untuk membunuh musuh-musuh asing, mengumpulkan informasi intelijen musuh, dan menyelamatkan warga dan masyarakat sipil.

Meskipun game ini mendapatkan kesuksesan besar, baik dari segi penjualan maupun dari segi penilaian, banyak kritikus yang menilai bahwa game ini sangat kental akan propaganda militeristik Barat dan orientalisme terhadap Timur Tengah. Visual Timur Tengah dari game Call of Duty 4: Modern Warfare menghubungkan stereotip historis budaya Timur Tengah dan Arab dengan kemajuan era digital dan tantangan geopolitik AS pasca 9/11. Pencahayaan, warna, dan bahkan teks digunakan untuk menggambarkan Barat sebagai kuat, berpengaruh, dan memiliki keunggulan teknologi dan moral dibandingkan musuh-musuh mereka dari Timur Tengah. Selain itu, elemen-elemen ini digunakan untuk menampilkan tentara Barat sebagai sosok martir yang rela berkorban.

Pertama, pencahayaan aspek yang sangat signifikan dalam mempengaruhi suasana alur game. Dalam Modern Warfare, pencahayaan cenderung gelap demi menyesuaikan dengan tema dari game, namun berbagai efek pencahayaan mendorong stereotip geografis untuk menarasikan lingkungan game secara efektif. Jika diperhatikan, suasana dunia Timur, seperti Rusia dan Ukraina, memiliki pencahayaan yang cenderung gelap, berawan, atau kelabu. Sedangkan di Timur Tengah, terdapat suatu efek sepia yang menggunakan filter kuning. Teknik pencahayaan ini bukanlah kebetulan dan sudah ada sejak dulu dalam media hiburan lainnya, seperti film. 

Menurut Victor Fan, seorang ahli dalam studi film, metode pencahayaan ini disebut sebagai “third world filter”, yang bertujuan untuk menghubungkan sebuah lokasi dengan aspek-aspek tertentu seperti kemiskinan, ‘pra-modernitas’, dan ketiadaan hukum. Jurnalis media Jeremy Ullmann menambahkan bahwa warna biru, yang dianggap sebagai kebalikan dari warna kuning dalam teori warna, sering digunakan dalam film untuk melambangkan “masyarakat yang futuristik, bersemangat, dan progresif.” Melihat langit biru cerah saat pemain pertama kali berperan sebagai tentara Amerika, bahkan dalam latar Timur Tengah, mungkin bukan hal yang tidak terduga.

Penggunaan warna dalam visual game Modern Warfare benar-benar dimanfaatkan sebagai teknik penarasian siapa yang merupakan “the enemy”. Merah adalah warna simbolis dari Khaled Al-Asad dan teroris-teroris pengikutnya, dimana merah digambarkan sebagai warna gairah, kekerasan, bahaya, kekuatan, dan kemarahan. Kepalan tangan merah, yang mewakili revolusi Al-Asad, melanggengkan stereotip lama yang terkait dengan gerakan kekuatan kulit hitam di AS. Di era pasca 9/11, ketika kritik terhadap pemerintah dan militer kurang ditoleransi, penggunaan simbol-simbol seperti dari gerakan kekuatan kulit hitam membuat semua perlawanan dicap sebagai tindakan terorisme. 

Selain aspek pencahayaan dan warna, penggambaran karakter secara umum juga mempengaruhi perspektif pemain terhadap Barat dan Timur. Military war games seringkali menggambarkan karakter dari Timur Tengah sebagai musuh yang harus ditaklukkan. Dalam Modern Warfare, musuh dalam misi berjudul “The Coup” memiliki ciri-ciri stereotip Timur Tengah seperti kulit coklat, rambut di wajah, dan keffiyeh (syal Arab berwarna merah). Karakter-karakter ini terlibat dalam pertempuran dengan teriakan-teriakan berbahasa Arab. Khaled Al-Asad, antagonis yang merupakan pemimpin revolusioner dari Timur Tengah, digambarkan sebagai teroris yang stereotipikal; menentang kekuasaan Barat yang dianggap sebagai “ancaman” dan mendorong revolusi di Timur Tengah. Gambaran keseluruhan Timur Tengah dalam game ini adalah salah satu dari keasingan dan kekerasan, yang menampilkan penduduknya sebagai individu yang kejam, agresif, dan tidak berperasaan yang secara aktif berusaha menyebabkan penderitaan manusia. Pada tahap tertentu dalam “The Coup,” Khaled Al-Asad mendeklarasikan tujuannya untuk mengalahkan Barat di depan para tentaranya, membunuh Presiden Al-Fulani yang bersekongkol dengan Barat, yang memicu respons perayaan dengan mengangkat senjata dan teriakan bahasa Arab.

Dalam Modern Warfare, dapat dilihat juga bagaimana wilayah Timur Tengah direpresentasikan sebagai medan perang abadi di mana pemain terlibat dalam perang yang sedang berlangsung. Hal ini seolah menyiratkan pemain yang ikut bertarung dalam Global War on Terror. Peperangan yang terus menerus dalam Call of Duty mengubah gagasan perang dari tindakan luar biasa menjadi keadaan yang normal. Dalam Modern Warfare, Timur Tengah digambarkan sebagai ruang di mana kekerasan militer merupakan interaksi utama antara pemain dan penduduk, yang sebagian besar digambarkan sebagai teroris. Military war games seringkali menyederhanakan kota di Timur Tengah, mengubahnya menjadi wilayah tanpa anak dan wanita, dan sebagian besar ditempati oleh para pejuang gerilya. Konstruksi ini memungkinkan pemain untuk menghindari pertanyaan moral yang berkaitan dengan kerusakan tambahan dan terlibat dalam perang tanpa akhir dalam permainan. Bagian ini menekankan bahwa penggambaran Timur Tengah sebagai tempat perang abadi adalah hasil dari pengalaman bermain game itu sendiri, memperkuat gagasan tentang konflik militer yang berkelanjutan sebagai elemen yang alami dan kohesif, bukan sebagai kekuatan yang mengganggu kestabilan.


Semua pembingkaian yang dilakukan oleh video game seperti ini kemudian menghasilkan dampak yang amat negatif terhadap persepsi masyarakat awam terhadap Timur Tengah. Sebuah analisis kuantitatif oleh New York Times dari tahun 1990 hingga 2014 mengungkapkan bahwa 57% berita utama yang mengandung kata “Islam”, agama yang sering diasosiasikan dengan Timur Tengah, dinilai negatif, dan hanya 8% yang dinilai positif. Persepsi negatif masyarakat awam terhadap Timur Tengah akibat media mainstream, terutama pasca peristiwa 9/11, bukanlah suatu isu baru yang baru saja diamati saat ini. Namun, apa yang terjadi ketika media video game, yang memiliki sekitar 2,7 miliar pemain aktif hingga saat ini, digunakan oleh negara sebagai alat propaganda mereka? Video game memiliki pengaruh yang signifikan dalam membentuk persepsi perang bagi generasi muda pasca-perang. Video game, sebagai media hiburan massal, memainkan peran penting dalam menggambarkan perang modern, dan pemain-pemain mewakili demografi yang secara unik dapat menerima penggambaran tersebut.

Call of Duty 4: Modern Warfare, dan berbagai military war game lainnya, memiliki gambaran khusus terhadap Timur Tengah yang dapat mempengaruhi persepsi pemain terhadap masyarakat Timur Tengah itu sendiri. Modern Warfare berkontribusi pada pembentukan peta mental bagi individu yang mungkin tidak pernah secara fisik berada di wilayah tempat militer AS beroperasi, khususnya di Timur Tengah. Penulis berpendapat bahwa permainan video game semacam ini, yang menggambarkan Timur Tengah sebagai daerah yang tandus, tidak memiliki hukum, dan membutuhkan intervensi asing, secara efektif menormalkan dan menjustifikasi penjajahan oleh pasukan AS dalam konteks Global War on Terror. Pencantuman skenario yang melibatkan pasukan Amerika yang memiliki senjata nuklir, meskipun berpotensi tidak berbahaya dalam media hiburan, diperdebatkan untuk memperkuat persepsi negatif terhadap para pemimpin Muslim di Timur Tengah, terutama mereka yang skeptis terhadap pengaruh Barat. Kombinasi elemen visual seperti pencahayaan, warna, dan teks semakin memperkuat penggambaran amoralitas dan bahaya yang terkait dengan para pemimpin ini.

Selain itu, penulis juga berargumen bahwa penggambaran Timur Tengah dalam Modern Warfare dapat memperkuat stereotip negatif tentang Timur Tengah, menggambarkannya sebagai wilayah yang dilanda perang yang hanya ditentukan oleh konflik dan terorisme, dan hal ini dapat berpotensi memicu Islamofobia. Penggunaan narasi “us vs. them”, yang menggambarkan kombatan musuh sebagai sosok “teroris kejam” yang pantas untuk dilenyapkan, dapat membuat pemain tidak peka terhadap kekerasan dan membuat tindakan militer di dunia nyata lebih mudah untuk dibenarkan. Selain itu, Modern Warfare juga menyederhanakan konflik yang kompleks menjadi kerangka hitam-putih, mengabaikan konteks sejarah dan politik yang dapat menyebabkan kesalahpahaman dan pemahaman yang simplistik terhadap hubungan internasional.

HIQuarters, Meet the Author!

Bianca Hasian Hutagaol

Bianca Hasian Hutagaol, atau biasa dipanggil Bianca, adalah mahasiswa S1 Ilmu Hubungan Internasional Universitas Indonesia. Selain menekuni dunia akademis, Bianca aktif dalam organisasi mahasiswa UI MUN Club sebagai Staf Assistant Treasury.

Bianca Hasian Hutagaol
Bianca Hasian Hutagaol

Bianca Hasian Hutagaol, atau biasa dipanggil Bianca, adalah mahasiswa S1 Ilmu Hubungan Internasional Universitas Indonesia. Selain menekuni dunia akademis, Bianca aktif dalam organisasi mahasiswa UI MUN Club sebagai Staf Assistant Treasury.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *