Representasi: Permasalahan Penerapannya di Bawah Bendera Disney | KRONIKA

Baru-baru ini, Disney banyak menekankan nilai-nilai inklusif di dalam karya-karyanya. Namun, inklusivitas dalam karya-karya Disney mengundang banyak kritik karena beberapa tindakannya yang dianggap bertolak belakang dengan nilai inklusif yang ingin ditonjolkan tersebut. Disney pernah menghilangkan aktor kulit hitam John Boyega dalam poster Star Wars: The Force Awakens untuk pasar Tiongkok, melakukan whitewash dalam film Dr. Strange, dan tidak menggunakan aktor yang representatif di serial Moon Knight. Tidak hanya isu representasi, Disney juga melakukan pencampuradukan kultur yang dianggap sebagai cultural appropriation dan strategi queerbaiting seperti dalam serial Loki hanya untuk menarik perhatian penonton progresif.

Bakal terasa aneh banget kalau belum pernah mendengar tentang Disney dan karya-karya yang dihasilkannya. Berbagai judul klasik ternama seperti Cinderella, Bambi, The Jungle Book, dan The Lion King telah melejitkan nama rumah produksi ini—lantas menetapkannya sebagai sebuah ikon kultur yang tidak perlu dipertanyakan lagi. Dengan akuisisi hak untuk menggunakan properti berbagai franchise tersohor seperti Lucasfilm, Marvel, dan 20th Century Fox, Disney semakin kukuh menjajakkan namanya dalam jagat media hiburan. Where Dreams Come True: sejalan dengan slogannya, Disney terus berusaha untuk mengembangkan aksesibilitasnya agar dapat merangkul audiens yang semakin luas, terlepas dari warna kulit, kepercayaan yang dimiliki, latar belakang budaya, maupun orientasi seksual yang dimilikinya. Inklusivitas menjadi tagar yang belakangan ini kian gencar digunakan Disney dalam memproduksi titel-titel terbarunya. Namun demikian, catatan sejarah Disney yang marak dengan kontroversi dan identitasnya sebagai sebuah korporasi yang ekspansionis juga mengundang pertanyaan: apakah inklusivitas yang digembar-gemborkan tersebut merupakan sebuah tindakan yang tulus ataukah hanya merupakan manuver cash-grab semata?

Mempertanyakan Inklusivitas Disney

Disney dalam beberapa waktu terakhir memang mengkampanyekan sebuah gerakan inklusivitas di dalam internal perusahaan hingga dalam ranah produksi film. Akan tetapi, kampanye inklusivitas tersebut perlu untuk dikritisi lebih lanjut dalam penerapannya. Terdapat beberapa kasus dimana Disney justru melakukan tindakan yang bertolak belakang dengan jargon inklusivitasnya selama ini. Salah satu kasusnya adalah ketika perilisan trilogi sekuel Star Wars yang berjudul The Force Awakens pada tahun 2015. Media Barat mengapresiasi Disney karena telah menunjukkan bentuk inklusivitas dengan menjadikan John Boyega– yang merupakan aktor kulit hitam– sebagai salah satu karakter utama dalam film tersebut. Akan tetapi, Disney melakukan ‘modifikasi’ dengan menghilangkan foto John Boyega dalam poster film Star Wars yang ditujukkan untuk pasar Tiongkok.  Kasus ini pun telah membawa gelombang kecaman terutama dari komunitas kulit hitam terhadap Disney.[1]

(Poster kiri merupakan poster untuk pasar Tiongkok dan kanan merupakan pasar global)

Sumber: Child, Ben, ”Chinese poster for Star Wars: The Force Awakens minimises role of black actor,” Guardian.com, (2015).

Tindakan yang ditempuh Disney tersebut jauh dari kata inklusivitas dan bahkan dapat disebut sebagai sebuah tindakan ‘rasisme’. Hal ini disebabkan Disney telah menghilangkan suatu representasi dari  identitas minoritas demi mendapatkan keuntungan dari negara dengan penduduk terpadat. Kasus tersebut mengangkat sebuah keresahan melalui pertanyaan, “Apakah idealisme inklusivitas ini hanya merupakan komoditas belaka untuk memaksimalkan profit?”

Representasi yang tak utuh

Kadang representasi yang ingin ditunjukkan oleh Disney dapat dibilang salah sasaran. Ambil satu bagian spesifik dari Disney yang lagi booming, Marvel Entertainment. Masih bisa diinget, nih, contohnya waktu Doctor Strange yang pertama rilis di tahun 2016, Disney dapet banyak backlash karena ada satu karakter yang di-whitewash, yaitu The Ancient One.[2] Kalau di komiknya, The Ancient One (Yao) adalah karakter yang sedari lahir, tumbuh, besar, dan jadi tuanya di Himalaya. Tilda Swinton itu aktor yang jago, tapi buat meng-cast dirinya sebagai The Ancient One belum bisa dibilang sebagai sebuah langkah bijak. Di kasus lain yang cukup baru, serial Moon Knight di Disney+ mengintroduksi Dewan Ennead—yang singkatnya adalah perkumpulan dewa-dewi Mesir Kuno. Dari avatar-avatar yang ngerepresentasiin dewa-dewi tersebut, cuma ada dua yang diperanin oleh orang Mesir secara langsung. Bukannya gimana, tapi kalo misalnya meng-casting dewa-dewi Mesir Kuno bukannya bakal lebih afdol lagi kalau kasih kesempatan ke aktor-aktris Mesirnya langsung? Ada juga permasalahan pencampuradukan kultur dalam film-film Disney yang banyak dikritik oleh para pemirsanya. Contoh lawas bisa diambil dari film Aladdin, di mana Agrabah merupakan sebuah amalgamasi dari berbagai kultur Timur Tengah. Tetapi kalau mau melihat yang lebih anyar, bisa dilihat dari Moana dan Raya and The Last Dragon. Moana menggabungkan berbagai inspirasi dari kebudayaan Polinesia secara keseluruhan untuk mengonstruksi latarnya. Raya and the Last Dragon melakukan hal yang sama kepada budaya dan masyarakat Asia Tenggara. Banyak yang suka modus operandi Disney ini, namun banyak juga yang agak risih, bahkan sampai menyebutnya sebagai cultural appropriation.[3] Seperti kata seorang bijak di internet, “It definitely isn’t a documentary, but it isn’t a pile of farce either”. Penggambaran keris di Raya and the Last Dragon, contohnya, dalam menggambarkannya sebagai senjata menghiraukan kesakralan keris yang masih prevalen dianut masyarakat Indonesia. Lantas manuver ini dikritisi, misalnya dengan pernyataan bahwa “…but culture isn’t a collection of Easter eggs”.[4] Rasanya kurang adil saja kalau instalasi tertentu seperti Encanto berhasil mengangkat inspirasi yang terdedikasi ke satu komunitas saja (namun di saat yang bersamaan juga accessible untuk kelompok lain) di saat yang lainnya harus menghadapi semacam generalisasi dan misrepresentasi seperti itu.

Queerbaiting

Studio film sering banget menggunakan hint karakter-karakter queer buat menarik perhatian dari para penonton progresif, tetapi tidak mendeskripsikan dan mengkonfirmasi status queer karakter tersebut. Selain itu, studio juga tidak membuat plot cerita terkait hubungan asmara mereka secara layak dan jelas. Queerbaiting adalah istilah bagi perilaku tersebut. 

Sebagai salah satu studio terbesar, selama ini Disney telah melakukan queerbaiting dalam berbagai film mereka. Dalam franchise Marvel Cinematic Universe, film series Loki mengindikasikan karakter loki yang biseksual dan genderfluid tanpa konfirmasi lebih lanjut. Selain itu, Okoye dan Valkyrie memang merupakan tokoh Queer dalam komik. Namun, adegan dari dua tokoh queer tersebut dalam film Thor Ragnarok dipotong dengan alasan hal tersebut tidak pas untuk dimasukkan ke dalam film.[5] 

Film The Eternals merupakan upaya Disney untuk memperbaiki queerbaiting mereka. Film tersebut mengkonfirmasi seksualitas Phastos sebagai gay dan menampilkan adegan hubungannya dengan suaminya Ben. Keadaan rumah tangga mereka dan perhatian terhadap anak mereka juga ditampilkan dengan jelas. Selain itu, komitmen Disney pada inklusivitas juga dibuktikan dengan diperankannya karakter tunawisma Makkari oleh aktor Lauren Ridloff yang memang seorang tunawisma dalam dunia nyata.   

Sayangnya, dari sudut pandang film itu sendiri, The Eternals cukup sulit dikategorikan sebagai film yang meraih kesuksesan. Film tersebut mendapatkan nilai 47% tomatometer dan 6,3/10 IMDB. Terlalu banyak karakter dalam The Eternals sehingga beberapa karakter kunci justru tidak diperkenalkan dan dikembangkan secara baik. Hal tersebut menyebabkan sulitnya para penonton untuk mendapatkan ikatan emosional kepada karakter, bahkan ketika karakter tersebut mati, yakni Gilgamesh.[6] 

Kesimpulan

Eksistensi Disney dalam dunia perfilman sudah tidak dapat dipungkiri lagi. Seiring berjalannya waktu, Disney berupaya membuat film mereka lebih inklusif untuk menarik perhatian audiensi yang lebih luas. Namun, tindakan-tindakan Disney justru membuat inklusivitas mereka dipertanyakan. Disney pernah menghilangkan aktor kulit hitam John Boyega dalam poster Star Wars: The Force Awakens untuk pasar Tiongkok. Lalu, Disney juga melakukan whitewash dalam Doctor Strange. Kemudian, Disney menggunakan strategi queerbaiting untuk menarik penonton progresif. Baru-baru ini, Disney telah memperbaiki kesalahannya dalam The Eternals. Sayangnya, para penonton dan kritikus film tidak puas pada film tersebut. Tentunya Disney tidak dapat berlindung dari kegagalan filmnya sendiri dengan dalih progresivisme.

Catatan Kaki

[1] Ben Child, “Chinese poster for Star Wars: The Force Awakens minimises role of black actor,” Guardian.com, (2015)

[2] Kelly Lawler, “Whitewashing Controversy Still Haunts ‘Doctor Strange’,” USA Today (Gannett Satellite Information Network, 7 November 2016), https://www.usatoday.com/story/life/entertainthis/2016/11/07/doctor-strange-whitewashing-ancient-one-tilda-swinton-fan-critical-reaction/93416130/.

[3] Don Wallace, “‘Moana’ Is Turning Culture into Cash-Here’s Why It Matters for Hawai’i,” Honolulu Magazine,13 Oktober 2020, https://www.honolulumagazine.com/moana-is-turning-culture-into-cash-heres-why-it-matters-for-hawaii/.

[4] Shirley Li, “The Flawed Fantasy World of ‘Raya and the Last Dragon’,” The Atlantic (Atlantic Media Company,6 Maret 2021), https://www.theatlantic.com/culture/archive/2021/03/the-fantasy-southeast-asia-of-raya-and-the-last-dragon/618222/.

[5] Taylor Henderson, “Thor:Ragnarok Cut Valkryie’s Bisexual Scene from the Film,” PRIDE, 2 November 2017, https://www.pride.com/movies/2017/11/02/thor-ragnarok-cut-valkyries-bisexual-scene-film.

[6] Russ Milheim, “Eternals’ Bad Reviews Explained: 8 Biggest Criticisms,” The Direct, 13 Januari 2022, https://thedirect.com/article/eternals-bad-reviews-explained-criticisms.

HIQuarters, Meet the Author!

Divisi Penelitian dan Pengembangan HMHI UI

Divisi Penelitian dan Pengembangan Himpunan Mahasiswa Hubungan Internasional adalah divisi yang bertujuan untuk menghadirkan konten penelitian dan menjadi wadah untuk kreativitas dan pengembangan diri mahasiswa.

Divisi Penelitian dan Pengembangan HMHI UI
Divisi Penelitian dan Pengembangan HMHI UI

Divisi Penelitian dan Pengembangan Himpunan Mahasiswa Hubungan Internasional adalah divisi yang bertujuan untuk menghadirkan konten penelitian dan menjadi wadah untuk kreativitas dan pengembangan diri mahasiswa.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *