Revisiting Mean Girls: Menilik Bingkaian Media Populer terhadap Perempuan Muda

Mean Girls merupakan film layar lebar Hollywood yang menceritakan mengenai dinamika kehidupan anak perempuan masa SMA. Film ini sukses meraih pendapatan box office hingga lebih dari 130 juta dolar dan menjadi ikon budaya populer pada awal tahun 2000-an. Berbagai produk budaya Mean Girls seperti GIF dan meme disebarluaskan oleh para penggemar melalui berbagai media sosial, seperti Facebook dan Twitter (sekarang X). Dalam hal ini, penulis akan mengulik lebih dalam film Mean Girls sebagai fenomena sosial.

Dalam menganalisis film ini, penulis akan berfokus kepada tiga karakter utama yang telah disebutkan di atas, yakni: Cady Heron, Janis Ian, dan Regina George. Masing-masing dari ketiga karakter memegang peran tersendiri dalam film ini. Regina George memegang peranan Queen Bee—ungkapan untuk perempuan yang memegang status tertinggi dalam konteks sosial mereka—yang memegang kuasa sosial yang dimiliki untuk berada di puncak. Janis Ian mungkin dapat diklasifikasikan dalam trope ‘pembangkang’ karena berperan sebagai oposisi terhadap Regina Queen dan secara tidak langsung, menantang status quo. Terakhir adalah Cady Heron, karakter utama yang lugu dan mudah untuk dimanipulasi karena tidak familiar dengan budaya sosial SMA suburban Amerika. Pada awalnya Cady merupakan perempuan biasa, tetapi seiring dengan banyak temannya yang menggunakan dia untuk kepentingan mereka sendiri, Cady perlahan bertindak seperti Queen Bee.

Pertama, mari kita telisik pembingkaian karakter Regina George. Ia dipotret dengan tubuh ramping, rambut pirang, dan mata biru, sebuah standar kecantikan tradisional Barat. Selain itu, Regina juga memperoleh kuasa penuh atas kuasa sosial yang digambarkan sebagai ‘rezim otoriter’ atas seluruh perempuan di sekolah tersebut (Waters, 2004). Setelah itu adalah Janis yang dipotret sebagai stereotipikal perempuan goth—rambut diwarnai hitam, baju serba hitam, dan eyeliner hitam tebal. Goth seringkali diasosiasikan dengan radikal dan non-konformis, orang buangan dalam hierarki sosial sekolah tersebut. Meskipun secara kasat mata ia tidak tampak ‘jahat’, seiring berjalannya film, Janis memanipulasi Cady demi balas dendam terhadap Regina (Waters, 2004). Motif utama Janis untuk meruntuhkan hegemoni Regina adalah karena homofobia Regina. Sepanjang perkembangan film, Janis menampilkan dirinya sebagai teman yang peduli terhadap Cady yang disakiti oleh Regina. Terakhir adalah Cady, seorang anak baru yang lugu dan buta atas figurasi hierarki sosial di sekolah barunya. Kenaifan Cady membawanya kepada manipulasi oleh Regina dan Janis untuk agenda pribadi mereka. Seiring berjalannya film, Cady mulai mempelajari dinamika sosial dalam sekolah mereka dan mulai mengapropriasi gaya The Plastics (Waters, 2004). Dalam hal ini, Cady bertindak layaknya bunglon yang memposisikan dirinya di persimpangan antara berteman dengan Regina atau menghancurkan Regina. Pada saat rencana penghancuran Regina hampir usai, Cady ‘mengambil alih’ gelar Queen Bee dengan berperilaku semakin mirip dengan Regina.

Berdasarkan uraian di atas, dapat kita lihat bagaimana ketiga karakter utama di atas memainkan peran mereka untuk mencapai status sosial, imaji ‘kekerenan’, dan balas dendam. Apabila kita lihat dari bingkaian karakter, mean girl merupakan paralel dari badboy. Namun, mean girl gagal menciptakan penakziman yang sama seperti trope badboy. Trope badboy mengunggulkan nilai kebebasan yang kemudian menjadi citra maskulinitas baru yang dominan dalam budaya populer kontemporer. Sementara itu, penulis menilai mean girl menciptakan konstruksi agensi perempuan yang didasari oleh degradasi perempuan lain. Meskipun pada akhir cerita Cady berubah menjadi good girl, hal ini justru membuatnya menjadi karakter yang berdimensi tunggal dan membosankan. Dilema di atas—antara mean girl yang problematik dengan good girl yang membosankan menunjukan kurangnya representasi perempuan yang proper dalam media populer.

HIQuarters, Meet the Author!

Danendra Daffa Darmawan

Danendra Daffa Darmawan atau biasa dipanggil Danen adalah mahasiswa S1 Ilmu Hubungan Internasional Universitas Indonesia. Selain menekuni dunia akademis, Danen aktif dalam Himpunan Mahasiswa Hubungan Internasional UI sebagai Wakil Kepala Divisi Penelitian dan Pengembangan.

Alia Fatika Santosa

Alia Fatika Santosa atau biasa dipanggil Alia adalah mahasiswa S1 Ilmu Hubungan Internasional Universitas Indonesia. Selain menekuni dunia akademis, Alia aktif dalam Himpunan Mahasiswa Hubungan Internasional UI sebagai Staf Divisi Penelitian dan Pengembangan.

Danendra Daffa Darmawan and Alia Fatika Santosa
Danendra Daffa Darmawan and Alia Fatika Santosa

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *