Saya dan Wastra

Pada edisi kolaborasi kali ini, HI Quarterly dan Kronika berkesempatan untuk mendengarkan cerita dan penilaian dari Maria Regitta mengenai wastra dan budaya Indonesia secara keseluruhan. Maria menceritakan pengalamannya ketika mempelajari berbagai jenis wastra Indonesia yang tersebar ke berbagai pulau. Maria juga memberikan alasan dan reflektif pribadinya mengenai wastra yang ada di Indonesia.

Sejak kecil, Saya sudah memiliki kedekatan dengan wastra. Mungkin kebanyakan orang masih belum familiar dengan istilah tersebut, tetapi izinkan Saya untuk menjelaskan sekilas mengenai wastra. Wastra merupakan kain-kain tradisional Indonesia. Melihat adanya kata tradisional pada definisi tersebut, maka kita mendapatkan gambaran bahwa proses pembuatan kain-kain tersebut tentu memakan waktu yang cukup lama. Ada yang memakan waktu sekitar lima bulan bahkan hingga enam tahun untuk satu helai kain. Terkejut mendengarnya? Namun, begitulah keunikan dari negara kita ini.

Asal Mula Perjalanan Saya dengan Wastra

Bila ditanya hal apa yang membuat Saya dekat dengan wastra, Saya harus menjelaskan terlebih dahulu latar belakang keluargaSaya. Kedua nenek Saya merupakan orang-orang yang menghabiskan hampir keseluruhan hidupnya bergaul dengan wastra. Nenek saya yang satu mengajar seni budaya di sekolah dan sangat antusias ketika menyampaikan materi kain-kain Nusantara. Kemudian, nenek Saya yang satunya lagi menghabiskan waktunya untuk menjahit. Keduanya tidak pernah tidak menggunakan wastra dalam kegiatan sehari-harinya. Saya masih ingat setiap kali Saya melihat foto-foto masa muda mereka, mereka selalu menggunakan kain sebagai bawahan.

Kedekatan dengan wastra pun juga berlaku pada ibu Saya. Setiap kali ibu menghabiskan waktu liburan atau memiliki bisnis kerja ke luar kota, beliau tidak pernah lupa untuk mampir sejenak ke pabrik, toko kain, ataupun butik. Setiba di rumah, beliau biasanya meletakkan tas berisi belasan kain di sofa ataupun di atas ranjang. Disitulah rasa penasaran saya mulai muncul. Saya yang sering memperhatikan kebiasaan ibu Saya tersebut, yang kemudian membawa Saya berakhir mencoba untuk menggali karakteristik dari kain tersebut. Setidaknya kemampuan Saya dalam menganalisis pakaian dan tekstil sudah terbilang cukup baik mengingat saya memiliki minat besar dalam dunia fesyen.

Hari demi hari setiap usai sekolah, Saya menghabiskan waktu untuk merombak lemari ibu Saya yang penuh dengan wastra dari berbagai provinsi yang beliau sudah kunjungi. Tak hanya itu saja, Saya juga memperdalam hal-hal menarik seputar wastra Indonesia dengan membaca buku, menonton tayangan berita atau dokumenter mengenai budaya nusantara, mengunjungi museum maupun pabrik dan toko kain, hingga menghadiri seminar dan peragaan busana kain tersebut. Hingga suatu ketika saat Saya duduk di kelas 11, Saya mendapat tugas akhir semester 1 dari guru Bahasa Indonesia berupa penulisan karya tulis ilmiah. Saat itu, Saya merupakan siswa IPS, sehingga topik yang kami ambil lebih luas, bisa memasuki berbagai macam bidang ilmu. Disitu Saya mengangkat salah satu wastra Indonesia bernama tenun ikat Sumba sebagai topik karya tulis. Melalui proses yang panjang, Saya begitu bersyukur karena Saya mendapat dukungan dari berbagai pihak untuk tetap mengembangkan minat Saya. Saya pun juga aktif dalam kegiatan konservasi wastra di Museum Tekstil serta menjelajah beberapa provinsi untuk menggali informasi seputar kain-kain nusantara tersebut. 

Alasan Saya Berkontribusi pada Wastra

Setelah hampir 4 tahun mendedikasikan diri dalam mendalami kekayaan wastra Indonesia, ada beberapa alasan mengapa saya terus berkontribusi di bidang ini, yaitu:

  1. Terabaikannya Kekayaan Wastra Nusantara

Kita hidup di zaman yang kian progresif. Penuh akan inovasi dalam bidang keilmuan hingga teknologi. Segala macam produk baru muncul dan hadir di sekitar kita, mendorong kita untuk mengejar segala ketertinggalan. Akan tetapi, bagaimana halnya dengan pakaian atau busana? Saat ini, industri pakaian telah menjadi penyebab polusi nomor 2 di dunia. Disamping efisiensi yang ditawarkan dalam memproduksi jutaan pakaian secara singkat, tentunya hal ini tidaklah membawa kabar baik bagi kita. Tren yang kian berubah dari waktu ke waktu juga membuat kita mulai melupakan ciri khas dari kekayaan wastra nusantara.

Jika dibandingkan dengan produksi pakaian saat ini, tidak dapat dipungkiri bahwa sehelai kain tenun bisa diproduksi hanya dalam belasan buah saja. Hal ini dikarenakan prosesnya yang begitu panjang.  Sebut saja Tenun Ikat Sumba, kain tenun ini membutuhkan puluhan langkah dalam pembuatannya. Prosesnya dimulai dari mencari bahan baku yang kemudian dijadikan pewarna alami sampai dengan menjadikan kumpulan benang sebagai sehelai kain yang bernilai. Tidak hanya Tenun Ikat Sumba saja, Batik, Ulos, Tenun Gringsing, dan kain-kainnya juga membutuhkan proses yang panjang. Semua ini dilakukan dengan penuh ketelitian oleh para pengrajin. Sayangnya, kebanyakan masyarakat tidak memandang kain ini sebagai bagian dalam hidup. Motif dan warna pada kain-kain tersebut dianggap tidak cocok untuk dikenakan dengan pakaian saat ini. Akhirnya, para pengrajin pun kesulitan dalam menemukan generasi yang dapat melanjutkan dan mempertahankan seni wastra ini. Selain itu pula, penjualan tenun pun jadi kian ikut menurun.

Sumber: Dokumen Pribadi

2. Mendorong Pelestarian Bahan Baku

Sejak dahulu, wastra-wastra kita selalu menggunakan bahan baku dari alam untuk membuatnya. Bahan baku tersebut dapat berupa kapas, sutra, katun, tanaman indigo, tanaman nila, akar mengkudu, dan lain sebagainya. Untuk memperoleh bahan baku tersebut, tentunya dibutuhkan kesabaran dikarenakan bahan-bahan tersebut hanya dapat dipanen di musim-musim tertentu. Akan tetapi, dengan menurunnya daya tarik pembeli wastra serta lamanya musim panen, pembudidayaan bahan baku wastra pun juga ikut terancam. Pasalnya, para pengrajin mulai menggunakan pewarna buatan sebagai alternatif dari pewarna alam. Selain lebih efisien, pewarna buatan juga menghasilkan warna-warna yang cenderung cerah dan dirasa mampu memikat para pembeli. Tak hanya itu saja, orang-orang yang biasanya ditugaskan untuk mengumpulkan bahan baku, akhirnya menjadi malas dalam membudidayakan bahan baku yang biasa dipakai. Melihat kondisi tersebut, sudah selayaknya kita sebagai bangsa berpartisipasi dalam membeli dan mengenakan tenun-tenun dengan pewarna alam agar para pengrajin merasa dihargai atas perjuangannya yang penuh dengan kesabaran dalam memanfaatkan sumber daya alam sebagai bahan pewarna alami wastra-wastra kita.

Bahan Baku Alam Pembuatan Wastra
Sumber: Dokumen Pribadi

3. Memperbanyak Akses Informasi seputar Wastra

Selain membeli dan mengenakan wastra, Saya tidak pernah membatasi diri dalam mengeksplor keunikan setiap helai wastra. Berbagai macam sumber seperti dari buku, situs web, seminar, dan bahkan langsung dari para pengrajin Saya dapatkan demi berkontribusi dalam mempertahankan kekayaan kain-kain nusantara. Namun, sejauh ini, informasi yang Saya dapatkan masih terbatas. Terlebih lagi pada wastra-wastra yang sudah mengalami keterancaman punah, seperti Tenun Toraja.

Di tengah terbatasnya informasi, setidaknya ada beberapa alternatif yang Saya ambil. Pertama, Saya mencoba untuk bertemu dan berbincang dengan para antropolog. Kesempatan ini saya dapatkan berkat pengalaman sukarela dalam bidang konservasi tekstil kala itu. Kedua, Saya perlu menunggu adanya kesempatan apabila ada diskusi, seminar, maupun acara-acara yang membahas wastra kembali. Ketiga, apabila memungkinkan, Saya akan mengunjungi langsung tempat asal pembuatan wastra itu sendiri. Hal ini berguna agar Saya benar-benar bisa merasakan kehidupan wastra tersebut. Dengan demikian, Saya berharap dapat menyalurkan informasi-informasi baru seputar kekayaan wastra Indonesia yang dituangkan ke dalam bentuk karya tulisan ataupun media-media lainnya. Saya yakin nantinya, dengan langkah-langkah menyebarkan informasi tersebut, masyarakat dapat memandang betapa seriusnya budaya mereka sendiri untuk dilestarikan.

Refleksi

Tidak terasa kontribusi Saya terhadap wastra Indonesia telah berjalan cukup lama. Waktu demi waktu tidak pernah ada rasa berhenti untuk mendalami keunikan setiap wastra. Walaupun wastra Indonesia sedang berada di tengah tantangan zaman yang kian modern, namun bukan berarti kita sebagai bangsa Indonesia meninggalkan identitas sejati kita yang hadir dalam kekayaan budaya ini. Akhir kata, tetaplah bersatu dan pertahankan wastra Indonesia dan budaya Indonesia lainnya.

HIQuarters, Meet the Author!

Maria Regitta
Student at Universitas Indonesia

Maria Regitta is our contributor to HI Quarterly. Currently, Maria is majoring in International Relations at Universitas Indonesia. She loves to preserve Indonesian textile culture in her leisure time by exploring and studying deeper about them.

Maria Regitta
Maria Regitta

Maria Regitta is our contributor to HI Quarterly. Currently, Maria is majoring in International Relations at Universitas Indonesia. She loves to preserve Indonesian textile culture in her leisure time by exploring and studying deeper about them.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *