Seratus Hari Perang Israel-Hamas: Observasi Enam Sisi Stratejik 

Perang Israel-Hamas yang telah melewati fase seratus hari pertama tidak hanya menimbulkan gejolak dalam dimensi kemanusiaan, tetapi juga turut menimbulkan gejolak yang begitu panas dalam dimensi stratejik. Oleh karena itu, dimensi stratejik tidak dapat diabaikan begitu saja mengingat masifnya dampak yang ditimbulkan dari Perang Israel-Hamas sebagai suatu konflik bersenjata. Hal ini membuat dimensi stratejik menjadi dimensi yang patut diperhatikan dalam perkembangan konflik antara Israel-Hamas. Dalam tulisan ini, Chris Wibisana menganalisis secara lebih mendalam terkait dengan enam segi stratejik dari perang Israel-Hamas berdasarkan gejolak yang terjadi selama seratus hari pertama berlangsungnya perang ini. Lantas, apa saja enam sisi stratejik yang akan menjadi pembahasan utama dalam tulisan ini?

Peringatan: Tulisan ini merupakan opini dari Chris Wibisana dan tidak mewakili pandangan dari redaksi HI-Chronicles.

MENYAKSIKAN seratus hari perang Israel-Hamas (7 Oktober 2023–15 Januari 2024), orang tidak dapat menyangkal bahwa inilah episode politik internasional kontemporer paling menegangkan dan memicu frustrasi. Luasnya dimensi konflik yang bermula dari serangan kelompok militan Hamas ke pemukiman di selatan Israel telah menjangkau aspek-aspek yang hampir tak terbayangkan dalam seratus hari. 

Hampir-hampir tidak terbayangkan dalam kamus perang modern bahwa suatu perang dapat memperlihatkan serangan frontal ke kamp-kamp pengungsian dan instalasi medis, memicu krisis pengungsi dan krisis sandera yang terjadi bersamaan, hingga berhasil  membawa salah satu kombatan ke Mahkamah Keadilan Internasional di Den Haag. 

Sulit kiranya untuk menyangkal bahwa dimensi kemanusiaan menjadi pertaruhan dalam konflik ini. Di satu sisi, ada rasa kemanusiaan yang tergugat menyaksikan perempuan, anak-anak, dan lansia menjadi mayoritas korban serangan Israel di Gaza. Di sisi lain, tidak dapat disangkal bahwa 136 sandera yang ditahan Hamas menjadi satu-satunya mata uang yang diakui kabinet perang di Tel Aviv untuk menghentikan perang. 

Dengan kata lain, selama 136 orang tersebut tidak kembali, sumpah Perdana Menteri Benjamin Netanyahu untuk tidak menghentikan perang dan meneruskan gempuran menghancurkan Hamas tidak akan pernah ditarik. Penghancuran adalah kata akhir, berapapun waktu yang diperlukan, berapapun nyawa yang harus melayang, dan bagaimanapun caranya. 

Meski demikian, sebagai suatu konflik bersenjata, perang Israel-Hamas tetap mengandung dimensi-dimensi stratejik yang tidak dapat diabaikan begitu saja. Adalah fakta bahwa di samping dimensi kemanusiaan yang tergugat dengan menyaksikan puluhan ribu korban tewas dan luka-luka setiap harinya, terdapat berbagai dimensi lain yang tidak kalah penting menjadi determinan karakter konflik yang tengah dan akan berlangsung. 

Satu hal yang perlu digarisbawahi, setiap dimensi mempunyai derajat kepentingan yang sama, dan tidak dapat ditempatkan lebih atau kurang penting dari yang lain, sehingga betapapun seseorang (terlebih para pengkaji Ilmu Hubungan Internasional) tergugah untuk bersolidaritas dalam kemanusiaan dan keprihatinan, dimensi-dimensi stratejik perang juga perlu didalami secara jernih dan objektif, dengan mengakui bias terhadap sumber-sumber data dan perspektif, mengingat kontestasi narasi juga tengah berlangsung bersama desing senapan mesin dan letupan peluru-peluru kendali.

Tanpa berpretensi untuk menjelaskan semua dimensi-dimensi stratejik dan taktis dari perang yang telah berkecamuk selama 100 hari, tulisan ini akan menyorot enam segi stratejik yang layak diobservasi dan dikembangkan sebagai kajian akademis dari Perang Israel-Hamas 2023. Pertama, kombinasi paripurna strategi asimetri dan hibrida yang menjadikan perang ini sebagai salah satu konflik yang berpotensi dicatat sebagai grey-zone warfare di abad 21. Kedua, terbentuknya suatu ripple effect akibat intervensi aktor eksternal yang tidak sempat diantisipasi sebelumnya. 

Ketiga, titik jenuh psychological warfare yang mulai dialami Israel setelah hari ke-50 perang. Keempat, pertaruhan kekuatan hukum internasional untuk menghukum Israel sebagai tertuduh pelaku genosida. Kelima, dukungan moral melalui aksi-aksi simbolik solidaritas yang tidak fokus. Keenam, teka-teki masa depan “two-state solution” yang dipertaruhkan akibat dukungan pro-Palestina yang menggugah militansi Hamas di satu sisi, tetapi juga menjaga nyala daya juang Israel di sisi lain. 

Perang Hibrida Asimetris

Sebagai produk eskalasi pembalasan dari serangan Hamas pada 7 Oktober 2023, karakter pertama perang Israel-Hamas ialah pelibatan kombinasi strategi hibrida dalam suatu perang asimetris. Kehadiran dua sifat komplementer ini berasal dari disparitas status keaktoran antara pasukan bersenjata Israel sebagai kombatan yang merepresentasikan aktor negara, dengan Hamas sebagai kombatan yang merepresentasikan aktor non-negara. 

Pada aras stratejik, perang asimetris nyaris selalu menguntungkan kelompok dengan vektor kapabilitas relatif lebih kecil terhadap musuh dengan kapabilitas yang lebih besar. Dalam hal ini, praktis Hamas telah sangat diuntungkan, sekurang-kurangnya dengan tiga hal. 

Pertama, serangan kilat dan mematikan lewat Operasi Badai Al-Aqsa yang dilancarkan pada 7 Oktober 2023 memicu krisis politik domestik Israel yang tidak hanya mengguncang legitimasi Partai Likud, melainkan juga kredibilitas dan kepercayaan publik terhadap Perdana Menteri Benjamin Netanyahu. 

Kedua, taktik serangan yang bersifat sporadis dan tidak terkonsentrasi, tetapi dalam skala serangan yang tetap masif dan berulang, dengan sangat berhasil memicu IDF untuk mempraktikkan bumi-hangus di Gaza; suatu strategi yang semula diharapkan efektif, tetapi dalam jangka panjang dapat memicu kemunduran Israel secara permanen. Taktik iregular ini sekaligus merupakan instrumen yang tepat untuk mematahkan klaim serangan tepat-jitu (precise attack) yang berulang kali disampaikan Israel dalam konferensi pers. 

Ketiga, dengan mempertahankan konfigurasi asimetri paripurna (ketidakseimbangan dalam hal status keaktoran, kapabilitas material, dan strategi), strategi perang hibrida yang diterapkan Hamas berhasil mencapai tujuannya secara optimal: memerangkap Israel beserta daya serangnya yang besar ke dalam episode pertempuran panjang yang menggerogoti kekuatannya secara bertahap, atau yang juga disebut strategi attrition and exhaustion. Melalui cara ini, Hamas sebagai aktor nonnegara menguji resiliensi Israel, tidak hanya dalam hal sumber daya dan cadangan material perang, tetapi juga morel dan daya juang pasukan untuk mengungkap “terowongan” Hamas lebih jauh dengan bersedia turun gelanggang dalam perang berkepanjangan. Tidaklah berlebihan untuk mengatakan bahwa Israel tidak menyadari bahwa setiap butir peluru yang mereka tembakkan membawa pasukannya semakin dalam ke “terowongan” yang dicarinya selama ini.

Terbentuknya The Ripple Effect

Sementara kombinasi strategi hibrida dan attrition and exhaustion memperlihatkan hasil-hasil optimal, baik Israel maupun Hamas sebagai kombatan sekurang-kurangnya mempunyai letak kegagalan yang sama, yakni mencegah the ripple effect terjadi. Akibatnya, Perang Israel-Hamas bukan lagi sekadar konflik bersenjata terbatas, melainkan juga episode pembuka terhadap ketegangan yang meluas di kawasan Timur Tengah dan Afrika Utara. 

Bukti-bukti autentik yang menegaskan terciptanya ripple effect ialah peristiwa-peristiwa yang terpisah tetapi berpeluang terjalin dalam satu kelindan di seputar perang. Peristiwa-peristiwa tersebut antara lain terbunuhnya Saleh Al-Arouri, Deputi Kepala Biro Politik Hamas di Beirut, Lebanon, disertai ledakan di acara memorial Jenderal Qassem Soleimani di Iran pada hari-hari pertama Januari 2024. 

Hal tersebut diikuti serangan retaliasi Amerika Serikat dan Inggris di Yaman sebagai balasan atas serangan milisi bersenjata Houthi terhadap kapal-kapal dagang di Laut Merah. Ini menjadi sinyal kuat bahwa perang berpotensi meluas dan berkepanjangan di Timur Tengah. Sementara ketegangan memuncak dan perhatian terhadap Gaza terdistraksi dengan perang di kawasan, posisi aktor-aktor kunci kian dipertaruhkan. 

Amerika Serikat kini tengah mempersiapkan pergantian kepemimpinan dalam Pemilihan Umum di bulan November 2024 mendatang. Gerak maju Israel meneruskan strategi bumi-hangus yang semakin tidak mengenal ampun, sementara konsolidasi komando Hezbollah di Lebanon terus berjalan untuk menemukan momentum menjadi kombatan ketiga dalam Perang Israel-Hamas. 

Dengan melihat dampak perang menjadi semakin mengkhawatirkan, terutama bagi arus perdagangan di perairan sekitar dan Terusan Suez, perluasan terhadap ripple effect yang telah terbentuk, saat tulisan ini disusun, bukanlah suatu ketidakmungkinan dalam jangka pendek maupun jangka panjang. 

Titik Jenuh Psychological Warfare

Ambruknya gencatan senjata tujuh hari pada 1 Desember 2023 menandai babak lain dalam Perang Israel-Hamas, yakni kegagalan psychological warfare yang dilakukan oleh Israel melalui produk-produk propagandanya. Kegagalan ini disebabkan oleh sejumlah faktor, tetapi yang terutama, ialah terciptanya suatu titik jenuh, ketika narasi yang dihadirkan oleh Israel sama sekali tidak menghadirkan kebaruan—selain mengulang-ulang fakta yang telah berulang kali pula dibantah melalui kanal-kanal alternatif hingga memunculkan istilah “Intifada Digital” melalui media sosial. 

Kegigihan Israel untuk mempertahankan dan mengamplifikasi bangunan naratif yang konsisten dibangunnya sejak perang meletus pada 7 Oktober senantiasa meletakkan framing Hamas sebagai organisasi teroris yang melakukan kebiadaban di luar batas, meliputi pembunuhan anak-anak dan balita, pemerkosaan, hingga pembakaran hidup-hidup terhadap korban-korbannya. Hamas tergambarkan sebagai monster haus darah yang tidak hanya merongrong eksistensi Israel, melainkan juga mengancam nyawa seluruh orang Yahudi. 

Di sisi lain, propaganda Israel tidak sensitif dan tidak berhasil melawan pematahan dan pengungkapan distorsi yang dituduhkan kepadanya. Bangunan naratif menjadi jenuh karena fakta-fakta yang diketengahkan Israel tidak disertai bukti yang lebih meyakinkan dari sekadar video dan rekaman suara—yang sebagian bahkan dituduh artifisial dan dimanipulasi. 

Celakanya, publikasi terhadap video-video dan rekaman suara ini pulalah yang kemudian menjadi materi utama propagandanya di media sosial dan media arus utama Amerika Serikat dan Eropa Barat. 

Pada akhirnya, dengan ketiadaan fakta-fakta baru selain eskalasi yang terus-menerus, psychological warfare yang dipraktikkan Israel menempatkan propagandanya sebagai suatu instrumen manipulasi yang tidak efektif, sementara keterangan-keterangan dari “Kementerian Kesehatan Gaza tidak membedakan kalkulasi korban kombatan dan nonkombatan dalam permainan angka yang sulit diverifikasi. 

Dengan kata lain, penerapan strategi psychological warfare yang hanya mencapai keberhasilan suboptimal tersebut membaurkan citra yang hendak diupayakan Israel, antara kombatan perang, negara berdaulat, atau seorang kampiun manipulator yang gigih dan benar-benar tebal muka. 

Pertaruhan Hukum Internasional

Dengan eskalasi perang yang berkepanjangan dan korban sipil yang terus berjatuhan akibat taktik serangan tepat-jitu yang tidak kunjung terbukti, upaya menindak Israel secara konkret melalui serangan pembalasan dapat berakibat fatal. Pada titik kritis ini, di mana semua negara berharap-harap cemas jika strategi bumi-hangus di Gaza berujung dengan pembinasaan warga sipil, keberanian Afrika Selatan untuk menyidangkan Israel di Mahkamah Keadilan Internasional, Den Haag, menjadi sorotan. 

Dokumen pengajuan kasus setebal 84 halaman yang ditandatangani pada 28 Desember 2023 tersebut ditindaklanjuti dengan agenda dengar pendapat selama dua hari. Agenda pertama, yang telah dilaksanakan pada 11 Januari 2024, mengetengahkan perspektif Afrika Selatan sebagai pelapor. Tim advokat Afrika Selatan dipimpin oleh Menteri Kehakiman Afrika Selatan, Ronald Lamola, dan beranggotakan empat ahli hukum Afrika Selatan dan didukung dua ahli hukum King’s Counsel, yakni Vaughan Lowe dan Blinne Ni Ghralaigh. 

Selama hampir tiga jam, Afrika Selatan mendakwa Israel sebagai pelaku genosida yang berniat memusnahkan orang-orang Palestina di Gaza, menyebabkan cedera fisik dan mental, menciptakan kelaparan massal, melaksanakan evakuasi dan dislokasi paksa, serta menciptakan kondisi yang memungkinkan penghancuran fisik dilaksanakan terhadap orang-orang Palestina. Afrika Selatan, yang berpendirian teguh bahwa genosida merupakan tindak kejahatan terhadap kemanusiaan, memungkasi tuntutan dengan menyerukan Mahkamah untuk menindak Israel dan menghentikan perang. 

Sementara dalam agenda dengar pendapat hari kedua, 12 Januari 2024, Israel menjawab dakwaan Afrika Selatan dengan argumentasi yang tidak kalah tajam. Bagi negara bintang Daud itu, tuduhan Afrika Selatan berkarakter hipokrit, menunjukkan dunia benar-benar terbalik, karena Israel sebagai korban yang terpaksa bertempur dalam perang “yang tidak kami mulai dan tidak kami kehendaki”, kini didudukkan pada kursi pesakitan sebagai tersangka. Dalam pernyataan terbuka, Kementerian Luar Negeri Israel bahkan tidak segan-segan menyebut Afrika Selatan kini menjadi algojo hukum yang diperintah Hamas. 

Sementara persidangan masih terus berjalan, sejumlah dukungan terhadap Afrika Selatan maupun Israel terus mengemuka. Jumat siang waktu Belanda, Jerman telah menyatakan intensi untuk mendeklarasikan intervensi yang memungkinkannya menyampaikan pembelaan atas nama Israel. Demikianpun sebaliknya, Menteri Luar Negeri Republik Indonesia, Retno Marsudi, telah dijadwalkan untuk memberikan pernyataan lisan pada 19 Februari mendatang. 

Dengan kasus yang terus berjalan, bersamaan dengan operasi militer yang belum dihentikan, keluaran Mahkamah Keadilan Internasional menjadi aspek yang mempertaruhkan muruah hukum internasional untuk menegakkan keadilan. Bagi pelapor maupun terlapor, efek konkret yang memungkinkan aksi militer dihentikan bisa jadi tidak akan ada, tetapi reputasi sebuah negara yang pernah dihadapkan ke Mahkamah Den Haag tidak akan pernah kembali cemerlang, mengingat kejahatan yang dilakukannya niscaya abadi dalam catatan sejarah dan memori kolektif umat manusia. 

Dukungan Moral Bermata Ganda

Di samping aspek-aspek stratejik konvensional yang diperlihatkan dalam seratus hari perang, aspek stratejik nonkonvensional seperti pembentukan dukungan publik terhadap perang telah mengarahkan Israel pada kedudukan yang sangat tidak nyaman sebagai musuh bersama, terutama dengan kegagalan serangan tepat-jitu yang menyebabkan jatuhnya korban sipil, serta ketidakberhasilan pembebasan sandera yang belum sempat dibebaskan. 

Dalam hal ini, dukungan moral untuk Palestina, yang dinyatakan lewat aksi solidaritas di berbagai belahan dunia, menjadi bukti tak terbantahkan bahwa framing Israel sebagai korban tidak berhasil diterima sepenuhnya. Meski demikian, dukungan moral yang dilancarkan melalui demonstrasi maupun perang tagar di media sosial, nyatanya tidak bebas dari masalah. Solidaritas yang dinyatakan melalui tagar #FreePalestine, mempunyai peluang untuk diinterpretasikan secara berbeda, dengan implikasi yang berbeda pula. 

Satu pendapat dapat menginterpretasikan dukungan moral tersebut untuk menghentikan kekejaman Israel yang berlangsung tanpa mengenal batas target dan waktu. Dalam batas yang lebih jauh, cara pandang ini menuntut suatu resolusi konflik yang permanen dan penyelesaian yang berujung pada penghormatan kedaulatan Palestina sebagai sebuah negara. Interpretasi ini berupaya menyudahi kekerasan yang terjadi, dan membebaskan Palestina dari penindasan Israel sebagai negara berdaulat dan bermartabat. 

Di seberang pendapat ini, tagar #FreePalestine mendapatkan interpretasi yang lebih radikal: menyudahi eksistensi Negara Israel dan mengembalikan kedaulatan Palestina sebagai sebuah negara yang berkuasa dari Sungai Yordan hingga Laut Mediterania. Interpretasi ini, yang dinyatakan lewat slogan “From the River to the Sea, Palestine will be free”, menjadi sebuah dukungan moral bermata ganda. 

Bagi Hamas, seruan ini menjadi justifikasi absolut untuk tujuan menghancurkan Negara Israel; sebuah panggilan untuk mengejawantahkan cita-cita suci membasmi sang penindas dan mengembalikan kekuasaan kepada orang Palestina sebagai pemilik tanah yang sah. 

Bagi Israel, seruan ini adalah pertaruhan hidup dan mati, jatuh dan bangun sebuah negara; demikian kerasnya seruan ini menjadi penyulut semangat mempertahankan kedaulatan negara yang berdiri pada 14 Mei 1948 itu. Untuk mencegah orang Palestina merebut tanah dari sungai ke laut, perang tidak boleh berhenti, karena sesaat setelah perang berhenti, pada detik itulah, nasib Israel berada di ujung tanduk. 

Dengan kata lain, menyerukan slogan From the River to the Sea adalah bentuk dukungan penghancuran total: seruan memusnahkan lawan yang akan berujung pembinasaan mutlak, dan bukan seruan pembebasan. Masing-masing kombatan akan berjuang meremukkan tengkorak lawannya, hingga berlakulah pepatah Melayu: kalah jadi abu, menang jadi arang

Siapa Kalah Siapa Menang?

Dengan kompleksitas dimensi perang yang tidak diantisipasi sampai sejauh ini, persoalan kalah dan menang di antara kombatan utama yang terlibat, Israel dan Hamas, tampak bukan sekadar usaha untuk mendefinisikan kemenangan menurut konsep Clausewitzian tradisional: kemampuan memaksa pihak kalah untuk mengikuti kehendak pemenang. Dalam suatu lanskap perang di mana penghancuran dan pemusnahan lawan setuntas-tuntasnya lebih didukung daripada mengupayakan perdamaian sejati, sulit untuk membayangkan perang ini akan berakhir dalam waktu segera, pun dengan timbal-balik sesuai harapan. 

Dalam jangka waktu terdekat, asimetri strategi Israel dan Hamas akan menguntungkan Hamas sampai batas tertentu. Dengan ujian terhadap daya tahan dan resiliensi Israel untuk bisa keluar dari “terowongan” strategi attrition buatan Hamas, kemenangan yang dicapai tidak akan telak ataupun stalemate, sesederhana karena perang asimetris tidak memungkinkan hal itu terjadi. Kemunduran Israel hampir-hampir dapat dipastikan, tetapi vakum yang tertinggal tak serta-merta menjadi ruang gerak yang leluasa untuk Hamas melanjutkan manuver mengamankan Gaza.

Menarik untuk menganalisis lebih jauh bahwa kunci berakhirnya perang, bisa jadi, tidak terletak pada aktor-aktor kombatan yang telah bertempur seratus hari lamanya, melainkan pada pihak-pihak yang menyaksikan dari jauh: negara-negara yang menyalurkan asistensi humanitarian, negara-negara mediator tradisional (Qatar dan Mesir), serta Otoritas Nasional Palestina di Tepi Barat yang seharusnya mempunyai kewibawaan, namun memilih peran pasif dan simbolik sejak perang berkecamuk. 

Sementara penghancuran akan terus berlangsung, dan dalam beberapa bulan, jumlah korban sipil bukan tidak mungkin menembus 30 ribu jiwa, solusi jangka panjang bagi kemerdekaan Palestina memang hanya solusi dua negara, betapapun sulitnya ia tercapai, terlebih selama sayap kanan menguasai pemerintahan Israel. Mengamini cita-cita Pasal 9 dan 15 Piagam Hamas untuk menghancurkan Negara Israel—yang berarti mengenyahkan tempat berlindung sembilan juta orang warga negaranya—adalah taruhan yang terlalu besar untuk masa depan dunia, terlebih jika motif yang mendasarinya adalah pembalasan dendam sejarah yang telah membatu selama 7 dasawarsa. 

Cita-cita Hamas untuk menghancurkan Israel tidak akan menggentarkan negara bintang Daud, melainkan menjadi pemantik semangat para pejuang berpanji biru-putih untuk menegakkan kedaulatan dan mempertahankan nyala api warisan David Ben-Gurion hingga tetes darah terakhir. Bagi Israel, operasi pemberantasan terorisme dan pembebasan sandera, kini telah menjadi pertaruhan antara hidup dan mati, berkat dukungan seluruh dunia untuk Palestina. 

Untuk stabilitas kawasan dan regional yang lebih berumur panjang, pada akhirnya, dibutuhkan strategi koeksistensi untuk menghindari kehancuran lebih besar, sekaligus memastikan masa depan yang menyediakan halaman sama lebar dan sama panjang untuk Israel maupun Palestina, menuliskan sejarahnya masing-masing, dengan sejujur-jujurnya, dan dengan seadil-adilnya.

HIQuarters, Meet the Author!

Chris Wibisana

Chris Wibisana lahir di Jakarta, 01 Agustus 2003. Saat ini mahasiswa S-1 Departemen Ilmu Hubungan Internasional Fakultas Ilmu Sosial Ilmu Politik Universitas Indonesia. Kontributor reguler naskah sejarah untuk Tirto.ID sejak Mei 2021 dan kolumnis lepas di beberapa media massa.

Chris Wibisana
Chris Wibisana

Chris Wibisana lahir di Jakarta, 01 Agustus 2003. Saat ini mahasiswa S-1 Departemen Ilmu Hubungan Internasional Fakultas Ilmu Sosial Ilmu Politik Universitas Indonesia. Kontributor reguler naskah sejarah untuk Tirto.ID sejak Mei 2021 dan kolumnis lepas di beberapa media massa.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *