The Inuit against the World: Kompleksitas Isu Masyarakat Utara Bumi | KRONIKA

Masyarakat Inuit, penduduk pribumi Kanada dan beberapa wilayah di tetangganya, ternyata mendapatkan berbagai permasalahan yang dimiliki. Mulai dari isu perubahan iklim, penggunaan zat adiktif, dan lain-lain. Namun dibalik itu semua, salah seorang di antara mereka mulai bangkit dan membentuk sebuah organisasi yang mengedepankan hak dan kepentingan masyarakat Inuit, dan memberi harapan bagi masyarakat Inuit agar mereka hidup dalam kesejahteraan

Pada tahun 2021 hingga 2022, Sekolah Tarsakallak, sebuah institusi pendidikan dasar dan menengah yang terletak di Desa Aupaluk, tampaknya sedang dalam keadaan yang kurang baik. Bagaimana tidak, Elom Akpo, sang kepala sekolah, kerap kali memulangkan seluruh murid Tarsakallak sebagai akibat dari habisnya pasokan air penampungan sekolah. Akpo harus bersusah payah mencari-cari truk tangki air sekali atau dua kali dalam seminggu demi mengatasi krisis air ini agar mampu melanjutkan kegiatan belajar-mengajar seperti biasanya. Usahanya mau tidak mau perlu dipertahankan, mengingat Tarsakallak merupakan satu-satunya sekolah di Aupaluk—desa terkecil di antara empat belas komunitas Inuit lainnya dalam teritori Nunavik, Quebec, Kanada—yang tentu saja sangat bernilai tinggi bagi penduduk desa berjumlah 233 jiwa itu.[1] 

Sayangnya, permasalahan di atas bukanlah satu-satunya. Apabila melihat lebih jauh, daerah-daerah yang kebanyakan dihuni oleh kelompok minoritas memang seringkali diterpa berpuluh-puluh isu yang cukup memberatkan. Faktornya bermacam-macam, tetapi yang perlu ditekankan di sini adalah bahwa kelompok mayoritas—yang memegang kuasa penuh pada pemerintahan—agaknya tidak begitu mengambil pusing untuk mengentaskan beragam permasalahan tersebut. Mereka seakan tidak acuh terhadap keberadaan kelompok dengan identitas yang tidak berjumlah signifikan dalam tatanan masyarakat dalam suatu negara. Masyarakat Inuit, sebuah kelompok masyarakat adat-minoritas yang menghuni bumi bagian utara, menjadi target dari pengabaian berkelanjutan ini. Hari demi hari mereka lalui dengan harapan dibalut nihilisme akan eksisnya implementasi hak yang mungkin pada akhirnya membawa mereka pada kesejahteraan kolektif. Di kala peliknya kuk yang mereka emban, satu hal yang kemudian memberikan secercah cahaya: persatuan di bawah panji identitas bangsa Inuit. 

Masyarakat Inuit dan Beragam Masalah Yang Melingkupinya

“Inuit” adalah sebuah terma yang merujuk kepada sekumpulan masyarakat etnis yang mendiami wilayah Arktik dan sub-Arktik; mencakup Kalaallit Nunaat (sebutan masyarakat lokal untuk Greenland), Kanada utara, Alaska utara dan barat daya, serta Chukotka, Rusia. “Eskimo” merupakan sebutan lain bagi kelompok ini, namun penggunaannya mulai dihilangkan karena bernuansa peyoratif. Masyarakat Inuit telah hadir di kawasan Arktik sejak kurang lebih 4.000 tahun yang lalu. Sebagai penduduk asli benua Amerika, Inuit sesungguhnya sangat berkorelasi dengan bangsa-bangsa lain seperti suku-suku asli Amerika, suku Sami, dan suku Aleut. Secara kultural, masyarakat Inuit telah lama beradaptasi pada kondisi wilayah Arktik, yang ditandai oleh lingkungan ekstrem berkat musim dingin yang terjadi terus-menerus sepanjang tahun dan minimnya sumber pangan nabati.[2] Kondisi demikianlah yang juga menjadikan masyarakat Inuit paham betul akan berbagai pengetahuan lokal terkait lingkungan alam mereka. Hal ini terbukti penting dalam menyokong basis-basis pengetahuan baru bagi sains modern untuk memberantas ancaman-ancaman nontradisional, terutama perubahan iklim.[3]

Akan tetapi ironisnya, perubahan iklim juga menjadi momok paling mengerikan bagi eksistensi masyarakat Inuit berikut keseluruhan aset kultural mereka. Penghangatan iklim diduga merupakan katalisator bagi sulitnya masyarakat Inuit—yang sangat bergantung pada aktivitas berburu—dalam mencari sumber makanan. Beberapa tempat yang sebelumnya selalu ditutupi es sepanjang waktu, sekarang ini mulai tidak menunjukkan lapisan es yang berarti, bahkan tidak ada sama sekali. Kondisi seperti itu tentu tidak memungkinkan bagi hewan-hewan buruan Inuit, salah satunya beruang kutub, untuk muncul. Di lain sisi, pemanasan global juga turut berkontribusi pada terganggunya sarana dan prasarana sehari-hari masyarakat Inuit. Permafrost yang sebelumnya dijadikan sebagai tanah berpijak di wilayah pesisir, perlahan-lahan mencair sehingga akhirnya memaksa para warga untuk berpindah lebih jauh ke wilayah pedalaman.[4] Tidak hanya itu, perubahan iklim ternyata juga berpengaruh terhadap makin terancamnya pengetahuan lokal masyarakat Inuit mengenai tata cara hidup tradisional mereka. Fluktuasi temperatur udara dan cuaca yang diakibatkan perubahan iklim global menumpulkan pengetahuan lokal Inuit serta cara pandang mereka terhadap lingkungan alam sekitar.[5] Hal ini sangat berbahaya, mengingat masyarakat Inuit menyimpan segudang pengetahuan mengenai kawasan Arktik yang amat krusial bagi penanggulangan isu perubahan iklim. Nahasnya, pengetahuan lokal mereka pun telah lebih dahulu terancam oleh targetnya sendiri.

Belum cukup sampai di situ, masyarakat Inuit turut menghadapi sejumlah permasalahan lain yang makin saja meruwetkan kompleksitas isu yang sebelumnya telah ada. Studi etnografis yang dijalankan oleh Elspeth Ready dan Peter Collings di Kangiqsujuaq, Nunavik pada rentang tahun 2013 hingga 2014 merupakan salah satu tinjauan yang cukup baik dalam menggambarkan permasalahan yang seringkali dihadapi oleh komunitas Inuit.[6] Dengan total 107 responden, Ready dan Collings mendaftar sejumlah masalah yang mengancam komunitas Inuit di desa tersebut, di antaranya adalah (1) penyalahgunaan zat-zat adiktif, (2) minimnya ketersediaan lapangan pekerjaan, (3) biaya hidup yang terlalu mahal, (4) lunturnya budaya tradisional, (5) konflik interpersonal, (6) penyimpangan sosial, (7) kurangnya kuota paus beluga, (8) mahalnya biaya perburuan, dan (9) masalah terkait pengasuhan anak. Masalah penyalahgunaan zat adiktif menempati peringkat pertama dengan total 49 responden, serta menjadi faktor bagi timbulnya beragam permasalahan lain. Ready dan Collings tidak menemukan kekhawatiran yang cukup berarti dari para responden mengenai perubahan iklim. Namun, pada bagian kesimpulan, mereka menggarisbawahi bahwa kondisi lingkungan yang lestari tetap menjadi faktor utama bagi keberlangsungan hidup responden, baik dari segi sosial ekonomi maupun kesehatan mental.[7] Kondisi lingkungan lestari tentu saja akan tercapai apabila perubahan iklim mampu diatasi.

Suar Kegelisahan Inuit Melalui Inuit Circumpolar Council

Mendapati beragam ancaman tersebut, seorang Iñupiaq yang berasal dari Alaska, Eben Hopson, mendirikan sebuah organisasi nonpemerintahan yang bernama Inuit Circumpolar Council (ICC) pada tahun 1977. Tujuan dibentuknya organisasi ini adalah untuk menyokong pemenuhan hak serta kepentingan masyarakat Inuit, baik dalam ranah internal maupun internasional. Selain itu, ICC juga berupaya untuk mendukung penyusunan kebijakan jangka panjang yang mampu memproteksi lingkungan alamiah Arktik, serta menjaga hak asasi manusia terkait masyarakat adat, terkhusus Inuit, di seluruh wilayah mereka. Hingga saat ini, ICC telah berhasil memainkan perannya dalam mewadahi aspirasi dari sekitar 180.000 masyarakat Inuit yang tersebar di tiga negara berbeda.[8] Berbekal kesamaan identitas, nilai, norma, serta diskursus etnis, masyarakat Inuit melegitimasi ICC sebagai aktor yang mampu berperan lebih jauh dalam menyampaikan suara dalam rangka meningkatkan kesejahteraan mereka.

Signifikansi ICC dalam sepak terjang perjuangan pemenuhan hak masyarakat Inuit terlihat jelas pada keterlibatan organisasi tersebut dalam berbagai forum serta institusi domestik dan internasional. Berdasarkan keputusan Majelis Umum ICC, kampanye yang dijalankan organisasi ini membawakan dua belas isu Inuit untuk diperjuangkan dalam forum-forum global. Adapun ICC menargetkan advokasinya kepada empat entitas, yaitu Arctic Council, PBB, pemerintah, serta forum-forum masyarakat sipil.[9] 

Gambar: Semesta politik yang dilingkupi Inuit Circumpolar Council. Terdapat dua belas isu prioritas yang dibawakan ICC pada setiap kegiatan advokasinya.

ICC sangat berperan aktif dalam mengedepankan hak serta kepentingan masyarakat Inuit pada keempat entitas tersebut. Hal ini terbukti dengan adanya keterlibatan penuh ICC pada konsultasi terkait komunitas masyarakat adat dalam Arctic Council, penyusunan UNDRIP dan hukum internasional lainnya dalam PBB, serta perancangan draf Kerangka Kebijakan Arktik dan Wilayah Utara dengan pemerintah Kanada.[10] Tidak hanya itu, ICC juga kerap melayangkan protes terhadap pemerintah atas berbagai hal yang mengancam eksistensi mereka. Sebut saja ketika ICC mengkonfrontasi Amerika Serikat yang dianggap bertanggung jawab penuh atas pelanggaran hak asasi manusia masyarakat Inuit. Protes tersebut disampaikan dalam konferensi pembahasan Protokol Kyoto pada tahun 2003 yang dihadiri oleh 140 perwakilan negara dari seluruh dunia. Menurut ICC, keputusan Amerika Serikat untuk menolak pengesahan Protokol Kyoto berikut pemotongan emisi karbon dioksidanya sangat berpengaruh terhadap pemanasan global yang nantinya berujung pada makin terancamnya kehidupan masyarakat Inuit.[11] 

Sebagai organisasi nonpemerintah belaka, ICC tidak terlalu memiliki power yang cukup untuk benar-benar menekan aktor-aktor negara. Kapasitas organisasi tersebut hanyalah sebatas advokasi serta sosialisasi yang dilaksanakan secara lintas batas. Pada forum-forum besar, mereka hanya diberikan kesempatan untuk menyampaikan aspirasi saja, yang belum tentu didengarkan oleh para perwakilan negara yang memiliki kepentingan lain. Hal tersebut kemudian memperlihatkan bahwa sampai sejauh ini, keberadaan masyarakat adat tidak begitu dianggap oleh para elite negara. Seringkali kelompok-kelompok minoritas etnis ini dikorbankan untuk meraup keuntungan serta memuaskan kepentingan pihak-pihak yang berkuasa. Perilaku demikian menimbulkan biaya yang amat tinggi, bukan hanya bagi kelompok adat saja, namun juga bagi kelompok masyarakat lainnya. Seturut dengan pemaparan di atas, masyarakat adat, termasuk Inuit, memegang kunci bagi perkembangan ilmu pengetahuan modern terkait pencegahan perubahan iklim. Apabila kelompok tersebut sama sekali tidak disediakan akomodasi, dunia akan kehilangan sumber informasi bagi kelestarian lingkungan alam. Menjaga masyarakat adat, selain mengelola perlindungan hak asasi manusia, juga berarti menjaga kelangsungan manusia.

Menuju Masyarakat Adat Yang Lebih Sejahtera

Masyarakat Inuit menghadapi permasalahan yang sangat kompleks. Jika ditinjau secara menyeluruh, perubahan iklim dan timpangnya kondisi sosial memang menyumbang faktor terbesar bagi sulitnya warga Inuit dalam mencapai kesejahteraan seperti yang diperoleh masyarakat lainnya. Satu hal yang diperlukan untuk meningkatkan keadaan mereka, yaitu kesadaran yang juga turut didukung oleh aksi nyata dari para stakeholders terkait, terutama bagi para pembuat kebijakan.

Di atas itu semua, tidak dapat dinegasikan bahwa masih banyak dari kita yang belum sepenuhnya paham tentang dasar-dasar esensial masyarakat adat berikut beragam dinamika yang dihadapi mereka. Pandangan masyarakat zaman sekarang pada umumnya terlalu terpaku pada konsepsi negara yang telah ter-”black box”-kan sehingga kerap tidak mengacuhkan aspirasi dari kelompok-kelompok “marginal”. Harus diingat bahwa keberadaan masyarakat adat— termasuk aset-aset yang mereka kandung—sepatutnya diakomodasi dan turut dilibatkan dalam konsiderasi kebijakan. Karena bagaimanapun juga, mereka tetaplah manusia—sama seperti kelompok masyarakat lainnya—yang sama-sama berkeinginan untuk memperoleh kesetaraan akses terhadap berbagai hal, fasilitas yang memadai, serta pengakuan akan identitas mereka.

Catatan Kaki

[1] Frédérik-Xavier Duhamel, “No Water, No School: How Water Delivery Issues Disrupt Learning for Inuit Children in Nunavik,” CBCnews (CBC/Radio Canada, 9 April 2022), https://www.cbc.ca/news/canada/montreal/nunavik-water-interruptions-shut-down-schools-1.6409109.

[2]  I. Circumpolar Council dan Karla Jessen Williamson, “Inuit,” Encyclopedia Britannica, 9 Februari 2022. https://www.britannica.com/topic/Inuit-people.

[3] Danielle Bochove, “How the Inuit Are Reshaping Arctic Climate Science,” Bloomberg.com (Bloomberg), diakses 15 April 2022, https://www.bloomberg.com/features/2022-pond-inlet-arctic-inuit-climate-science/.

[4] Paul Brown, “Global Warming Is Killing Us Too, Say Inuit,” The Guardian (Guardian News and Media, 11 Desember 2003), https://www.theguardian.com/environment/2003/dec/11/weather.climatechange.

[5] Chris Baraniuk, “The Inuit Knowledge Vanishing with the Ice,” BBC Future (BBC), diakses 1 April 2022, https://www.bbc.com/future/article/20211011-the-inuit-knowledge-vanishing-with-the-ice.

[6]  Perlu peninjauan lebih lanjut mengenai keterwakilan hasil dari penelitian Ready dan Collings ini karena ditakutkan terlalu bersifat reduksionis mengingat bervariasinya kondisi kultural serta subkultural pada setiap kelompok Inuit. Pemilihan penelitian mereka dalam tulisan opini ini hanya sebatas gambaran kasar saja.

[7]  Elspeth Ready dan Peter Collings, “All the problems in the community are multifaceted and related to each other: Inuit concerns in an era of climate change,” Am J Hum Biol. 2021; 33:e23516, diakses pada 15 April 2022, https://doi.org/10.1002/ajhb.23516.

[8] ICC Greenland, “About ICC,” Inuitorg, diakses pada 15 April 2022, https://inuit.org/en/.

[9] ICC, “ICC’s Political Universe,” Inuit Circumpolar Council Canada, diakses pada 15 April 2022, https://www.inuitcircumpolar.com/about-icc/icc-political-universe/.

[10] Ibid.

[11] Paul Brown, loc.cit.

HIQuarters, Meet the Author!

Jason Kusuma

Jason Kusuma adalah seorang mahasiswa S-1 Departemen Ilmu Hubungan Internasional, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Universitas Indonesia. Kegemarannya adalah mengapresiasi keindahan dalam bentuk apa pun, terutama yang terdapat pada kesenian, kebudayaan, dan alam. Ketertarikan Jason saat ini terkonsentrasi pada kajian mengenai identitas sosial manusia, kehidupan sosial-budaya masyarakat Orient, serta kelindan-kelindan yang terjadi di antara mereka.

Jason Kusuma
Jason Kusuma

Jason Kusuma adalah seorang mahasiswa S-1 Departemen Ilmu Hubungan Internasional, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Universitas Indonesia. Kegemarannya adalah mengapresiasi keindahan dalam bentuk apa pun, terutama yang terdapat pada kesenian, kebudayaan, dan alam. Ketertarikan Jason saat ini terkonsentrasi pada kajian mengenai identitas sosial manusia, kehidupan sosial-budaya masyarakat Orient, serta kelindan-kelindan yang terjadi di antara mereka.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *