This Is A Spiritual Journey: Penggambaran Citra India à la Barat oleh Wes Anderson Melalui Film “The Darjeeling Limited” (2007)

Sepanjang sejarah dunia hiburan, karya-karya seni telah berkontribusi dalam pembentukan atau penggambaran citra suatu entitas atau aktor, dan film menjadi salah satu yang marak menjadi perbincangan akibat jaringan dan daya jangkaunya yang luas. Namun, industri perfilman—yang didominasi oleh Barat—seringkali digunakan sebagai instrumen yang bertujuan untuk membingkai, mendefinisikan, serta meliyankan identitas atau kedirian non-Barat dengan atribut-atribut tertentu. Dalam tulisan ini, Tarisha Arinindya berupaya untuk membongkar praktik orientalisme yang kental dalam perfilman Barat, khususnya dalam film-film seperti “The Darjeeling Limited” karya Wes Anderson.

Dalam hubungan internasional konvensional, negara sangat bergantung pada kekuatan militer untuk mempertahankan eksistensi negerinya. Kekuatan militer menjadi landasan yang dianggap paling mampu untuk menopang beban dan melindungi kesatuan negara. Namun, dengan segala kompleksitas dan perkembangan yang telah terjadi di era sekarang, negara mulai berusaha untuk menciptakan citra atau persona yang ‘sempurna’ untuk mengharumkan martabatnya di kancah internasional, khususnya di hadapan masyarakat global. Salah satu sektor yang mulai menjadi pusat perhatian pemerintahan negara adalah sektor budaya, yang juga meliputi musik, film, serta hal-hal lainnya yang berkaitan dengan kesenian. Budaya menjadi suatu sektor yang menarik bagi masyarakat global karena terkesan lebih ‘humanis’ atau tidak mengancam apabila dibandingkan dengan kesan yang dimiliki kekuatan militer. Film—dengan berbagai komponen seperti dialog, efek warna, serta atribut dan properti yang terkandung di dalamnya—menjadi salah satu bentuk kesenian yang paling memukau hati masyarakat global.

Strategi ‘humanis’ ini terlihat jelas pada Amerika Serikat. Sejak berakhirnya Perang Dunia I, Amerika Serikat gencar meningkatkan jaringan untuk menyebarkan propaganda melalui radio kabel atau televisi. Rencana ini baru mendapatkan dukungan finansial yang memadai dari Kongres di tahun 1947-an, sehingga propaganda dan ekspor budaya Amerika Serikat mulai menjalar ke berbagai belahan dunia sampai ke era Perang Dingin. Menurut The Numbers, jumlah produksi film di Amerika pada tahun 1980-an mencapai 180 film lebih. Seiring berjalannya waktu, jumlah produksi terus meningkat hingga tercatat terdapat 1.298 film yang diproduksi di Amerika Serikat hanya pada tahun 2023. Tingginya angka tersebut menunjukkan gencarnya penopang kebijakan Amerika Serikat dalam mendukung kelancaran produksi film untuk membantu penyempurnaan citra dan identitasnya di mata internasional. Citra yang dibawakan para pembuat film Amerika Serikat sangat bertopang konsep-konsep yang berfokus pada ‘kesempurnaan’ Amerika Serikat, seperti konsep white superiority atau white savior, American Dream, serta patriotisme. Konsep cerita ini sering terlihat dalam industri perfilman AS, misalnya dalam serial film “Rambo: First Blood” (1982) dan “Rambo: First Blood, Part II” oleh George P. Cosmatos, “Top Gun” (1986) oleh Tony Scott, “The Great Gatsby” (2013) oleh Baz Luhrmann, atau bahkan “The Avengers” (2012) oleh Stan Lee. Film-film ini diproduksi untuk mengonstruksikan kesempurnaan AS dan menggaet perhatian masyarakat global.

Namun, pembentukan identitas ini tak hanya dikonstruksikan oleh pemerintah untuk menggambarkan kesempurnaan negaranya sendiri, melainkan juga untuk mendefinisikan negara atau aktor-aktor lain di dalam hubungan internasional. Dari lensa poskolonialisme, film dapat dikatakan sebagai salah satu instrumen negara Barat untuk mendefinisikan, membingkai, serta mengurung negara bekas koloninya ke dalam ruang imaji Barat, termasuk mendefinisikan identitas atau citra negara bekas koloni sesuai standarisasi Barat. Salah satu film yang mengandung propaganda Amerika Serikat secara tersirat adalah “The Darjeeling Limited” (2007), yang merupakan film garapan Wes Anderson, sutradara asal Amerika Serikat.

“The Darjeeling Limited” (2007) adalah sebuah film drama dan komedi yang mengisahkan tiga laki-laki bersaudara asal Amerika Serikat yang bertemu di India untuk berlibur setelah sekian lama tidak bercengkrama. Dari yang tertua sampai yang termuda, nama dari ketiga laki-laki bersaudara ini adalah Francis Whitman, Jack Whitman, dan Peter Whitman. Jack dan Peter mengunjungi India atas undangan kakaknya, Francis, yang telah menyiapkan seperangkat susunan acara untuk mereka lakukan selama sebulan ke depan, seperti mengunjungi destinasi wisata dan kuil di India, serta yang terakhir menemui ibu mereka, Patricia Whitman. Namun, ketiga saudara ini sama-sama memendam perasaan yang seharusnya mereka utarakan demi rekonsiliasi hubungan keluarga ini. Film ini memiliki premis yang sederhana, yaitu dinamika dan kompleksitas hubungan dalam sebuah keluarga yang dialami oleh banyak orang.

Pada film tersebut, ketiga laki-laki bersaudara ini memiliki suatu susunan acara yang disusun oleh kakak tertuanya, Francis. Salah satu rencana kegiatan yang terdapat dalam susunan acara milik Francis adalah mengunjungi kuil-kuil di India. Dalam salah satu dialognya di menit ke-6, Francis berkomentar mengenai kuil-kuil India dan mengatakan:

“I want to make this trip a spiritual journey, where we seek the unknown and learn about it … I had Brendan make us an itinerary. He’s going to place an updated schedule under our doors every morning of all the spiritual places and temples that we need to see, and expedite hotels, and transportation, and everything.”

Diksi-diksi dalam dialog tersebut yang mendapat penebalan, ‘spiritual’ dan ‘unknown’, menunjukkan perasaan yang dimiliki oleh Francis terhadap kuil-kuil di India. Francis merasa bahwa kuil-kuil ini ‘asing’ baginya dan ia menginginkan saudara-saudaranya untuk turut mempelajari spiritualitas dan keasingan tersebut. Di beberapa adegan selanjutnya, terlihat bagaimana ketiga karakter utama, Francis, Jack, dan Peter, mencoba memantaskan diri mereka dengan tradisi spiritual yang ada di kuil-kuil India, seperti mengenakan atribut-atribut ibadah dan mengikuti langkah-langkah beribadah sebagaimana berlaku di dalam kuil. Kebudayaan India didefinisikan sebagai ‘asing’ karena sesuatu yang universal bagi ketika lelaki bersaudara ini (Francis, Jack, dan Peter) adalah identitas yang mereka miliki sendiri, yaitu identitas sebagai warga kelahiran Amerika Serikat. Pemilihan diksi ‘asing’ oleh Anderson menggambarkan imajinasi Anderson sebagai warga Amerika Serikat, bahwa terdapat dikotomi biner yang jelas antara Amerika Serikat dengan India sehingga kebudayaan atau identitas yang datang dari India terkesan misterius dan asing.

Pemilihan diksi yang melanggengkan stereotip dan legasi kolonialisme tidak berhenti di sana. Setelah melalui perjalanan yang cukup panjang, Francis, Jack, dan Peter berniat untuk kembali ke negara asalnya. Di sebuah adegan yang berlatarbelakang di bandara, terdapat sebuah percakapan antara Jack dan Peter yang dapat digarisbawahi:

“I love the way this country smells. I’ll never forget it. It’s kinda spicy.”

Pada konteks historisnya, India memang merupakan negara dengan tanah yang kaya akan rempah-rempah, bahkan mendapat julukan sebagai “The Land of Spices.” Kendati demikian, fakta tersebut tidak menjadi justifikasi bagi Barat untuk melanggengkan stereotip serta mendefinisikan India, yang terlihat jelas dalam dialog Jack. Jack, sebagai turis asal Amerika Serikat, memiliki impresi tersendiri terhadap India, bahwa negeri ini berkaitan erat dengan aroma ‘pedas’ atau rempah-rempah lainnya yang memiliki aroma kuat. Melalui dialog ini saja, Jack telah memasangkan atribut-atribut tertentu kepada India dan melanggengkan stereotip mengenai India, yaitu negara yang khas akan rempah-rempah pedas. Impresi India dalam pemikiran Jack mengonstruksikan citra tertentu mengenai negeri tersebut dan menunjukkan asumsi stereotipikal yang dimiliki seorang warga Amerika Serikat terhadap India.

Pada adegan yang sama, Jack mengkhawatirkan seekor ular yang ia beli—yang telah diambil oleh seorang pegawai kereta karena dianggap membahayakan keselamatan pengunjung lain di dalam kereta. Ia mengekspresikan kekhawatirannya melalui pernyataan berikut:

“He didn’t really kill our snake, did he? I mean, it’s got to be against his religion. I bet he just sent him out into the desert, which is actually closer to his natural habitat.”

Jack membeli seekor ular berbisa ketika mengunjungi sebuah pasar di sekitar kuil di India dan membawanya naik ke atas kereta tanpa sepengetahuan pegawai. Ketika ular tersebut berhasil keluar dari kandang, pegawai kereta terpaksa menyita ular tersebut dari mereka dan menyingkirkannya. Namun, pemilihan diksi Jack dalam mengekspresikan kekhawatirannya menarik untuk ditilik lebih dalam. Hal ini disebabkan karena Jack menyebutkan, “… It’s got to be against his religion.” Dialognya menggambarkan asumsi pribadi Jack mengenai pegawai kereta asal India tersebut, bahwa pegawai kereta itu memeluk suatu kepercayaan yang ‘seharusnya’ melarangnya membunuh seekor hewan. Mengapa Jack berasumsi demikian? Membunuh seekor hewan yang membahayakan pengunjung bukanlah tidak mungkin dilakukan oleh seorang pegawai untuk menjunjung tinggi martabat perusahaan. Maka dari itu, aman untuk berasumsi bahwa dialog tersebut menyiratkan makna lain, yaitu apabila pegawai kereta tersebut benar-benar membunuh ularnya, maka tindakan tersebut—menurut Jack dan rasionalitas yang ia anut—termasuk tindakan yang tidak rasional dan nirempati.

Dalam sebagian besar adegan, Francis, Jack, dan Peter menggunakan kemeja, setelan jas formal, dan tas koper yang terkesan rapi. Sebaliknya, mayoritas orang India, seperti Rita—seorang pekerja di dalam kereta yang mereka tumpangi selama perjalanan—justru digambarkan mengenakan pakaian ‘adat’ India. Tidak hanya itu, figuran-figuran yang digambarkan sebagai warga lokal India yang berlalu-lalang atau mengemis di jalanan juga menggunakan gaya berpakaian yang sama dengan Rita. Hanya terdapat segelintir orang India yang digambarkan berpakaian seperti Frank, Jack, atau Peter; yaitu orang-orang India yang ada di sebuah restoran dalam kereta. Perbedaan penggambaran gaya berpakaian ini bersifat repetitif dan dapat dilihat di sepanjang film. Bahkan, Anderson juga menyertakan sebuah adegan dimana Francis, Jack, dan Peter dengan setelan jas formalnya berada dalam satu bingkai yang sama dengan warga lokal India—yang sangat memperjelas dikotomi biner antara AS dan India. Penggambaran gaya berpakaian warga lokal India oleh Anderson ini menyiratkan imaji Anderson mengenai perbedaan kelas sosial dan relasi kuasa di India—bahwa orang-orang India yang tergolong kelas menengah ke atas dan turis-turis dari Amerika Serikat seperti Francis, Jack, dan Peter mengenakan kemeja dan mampu makan di restoran, sementara orang-orang India kelas bawah menjadi pekerja biasa atau mengemis di jalanan dengan pakaian tradisional India.

Pendefinisian identitas India di dalam film ini juga terlihat dalam hidangan-hidangan serta etika dalam makan yang bervariasi di dalam beberapa adegan film. Ketika Francis, Jack, dan Peter tengah makan di restoran kereta, makanan yang disajikan oleh pelayan asal India berupa makanan utama dan makanan penutup. Makanan utamanya adalah olahan daging sapi, ikan, dan domba, serta beberapa makanan penutup seperti biskuit, pudding, dan kue. Meja makan di restoran ini juga dilengkapi peralatan makan yang lengkap, seperti sendok, garpu, pisau, dan tisu. Di dunia nyata, olahan domba à la India memang merupakan salah satu olahan domba terbaik di dunia. Kendati demikian, dalam film ini pula, terdapat adegan lainnya yang menggambarkan seorang anak kecil asal India yang memakan kayu mentah-mentah sembari berdiri di atas batu. Penggambaran adegan ini menebalkan jarak antara AS dengan India, bahwa warga AS memiliki etika tertentu dalam makan, yaitu dengan peralatan tertentu dan memakan hidangan secara matang, sementara anak kecil asal India tersebut menjadi representasi bahwa India masih menjadi negara yang terbelakang dan liar karena masih ada warganya yang memakan sesuatu mentah-mentah.

Selain itu, Anderson juga secara tegas menciptakan visualisasi perbedaan identitas antara “us” (Francis, Jack, dan Peter) dengan “them” (warga lokal India) melalui adegan pemakaman. Pada salah satu adegan, Francis, Jack, dan Peter menghadiri pemakaman seorang anak kecil asal India yang meninggal akibat terbentur kayu ketika tenggelam di sungai. Pemakaman yang mereka hadiri bertiga ini mengingatkan mereka pada pemakaman ayahnya di Amerika, setahun sebelum perjalanan ke India terjadi. Dari kedua pemakaman ini, terlihat beberapa atribut yang sangat berbeda antara AS dan India. Dari pemakaman ayahnya, pakaian yang digunakan oleh Francis, Jack, Peter, serta Patricia adalah jas dan mantel hitam. Kendaraan yang mereka gunakan ketika menuju ke pemakaman adalah mobil limosin yang identik dengan kekayaan dan kemewahan. Sementara itu, pemakaman anak kecil di India ini terkesan lebih sakral dan suci dengan pakaian serba putih, hiasan bunga marigold, serta ritual pembakaran mayat yang intens. Di pemakaman ini, terlihat warga lokal menaiki berbagai macam transportasi, dimulai dari truk, sampai dengan gerobak yang ditarik oleh seekor sapi. Melalui adegan ini, Anderson secara jelas mendefinisikan spiritualitas dan keasingan adat-adat India melalui imajinasi para karakter utamanya. Seperti halnya dialog Francis di awal film, adegan ini juga menyiratkan bahwa kegiatan pemakaman ini merupakan suatu hal yang asing dan berbeda dari cara-cara yang dilakukan di kampung halamannya, di Amerika Serikat.

Tak hanya melalui dialog, karakteristik pemeran, serta properti, di sepanjang film “The Darjeeling Limited” (2007), Anderson juga memainkan efek warna yang turut andil dalam penggambaran citra India. Secara geografis, wilayah negara India terletak dekat dengan garis khatulistiwa. Namun, hal ini ditunjukkan secara berlebihan dan repetitif oleh Anderson di sepanjang film dengan saturasi kekuning-kuningan yang terlalu tinggi mencolok. Sementara itu, pada adegan yang berlatar belakang di Amerika Serikat, efek yang digunakan cenderung kebiru-biruan, yang seringkali bermakna lebih sejuk dan menenangkan. Warna kuning di dalam film ini mendominasi langit-langit India, mengindikasikan cuaca ekstrim, udara yang panas, dan hawa lingkungan yang tidak menyejukkan. Kontrasnya penggambaran antara India dan Amerika Serikat ini, lagi-lagi, menebalkan stereotip akan India dan melanggengkan dikotomi biner antara Amerika Serikat dengan India.

Secara keseluruhan, film “The Darjeeling Limited” (2007) garapan Wes Anderson berhasil memanjakan mata dan telinga audiens dengan gaya artistiknya. Meskipun sepenuhnya fiksi, bukanlah tidak mungkin apabila nilai-nilai yang dibawakan Anderson di dalam filmnya menjadi panutan bagi orang banyak. Film ini mendoktrin penonton secara halus mengenai identitas dan citra India—yang dieksekusi mengikuti imajinasi seorang sutradara kelahiran Amerika Serikat. Anderson juga secara repetitif telah meliyankan India melalui berbagai komponen dalam filmnya, termasuk dialog, properti film, dan efek video, serta menggambarkan perbedaan kontras antara India dan Amerika Serikat. Dengan kata lain, India tidak berkesempatan untuk menegosiasikan posisinya dan mendefinisikan identitasnya sendiri pada masyarakat global. Dapat disimpulkan bahwa, Wes Anderson— yang secara tidak langsung seorang perwakilan dari Amerika Serikat—turut andil dalam melanggengkan legasi kolonialisme Barat yang berupa stereotip terhadap India.

HIQuarters, Meet the Author!

Tarisha Arinindya

Tarisha Arinindya atau kerap disapa Tata adalah mahasiswa S1 Ilmu Hubungan Internasional. Di luar dunia akademis, Tata turut aktif berpartisipasi dalam komunitas mahasiswa di lingkup fakultas, yaitu Teater Paradoks dan Kino Club FISIP UI.

Tarisha Arinindya
Tarisha Arinindya

Tarisha Arinindya atau kerap disapa Tata adalah mahasiswa S1 Ilmu Hubungan Internasional. Di luar dunia akademis, Tata turut aktif berpartisipasi dalam komunitas mahasiswa di lingkup fakultas, yaitu Teater Paradoks dan Kino Club FISIP UI.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *