Yang Terjadi Sebelum Chloe Kelly: Sejarah Sepak Bola Perempuan Inggris

Tim nasional sepak bola perempuan Inggris berhasil menjuarai Piala Eropa 2022—gelar pertama mereka selama eksistensinya. Selalu ada cerita di balik kesuksesan. Ternyata, sepak bola perempuan sempat dikucilkan selama puluhan tahun dan baru menggeliat menjadi profesional di akhir 1990-an. Inilah kisahnya.

Stadion Wembley bergemuruh ketika sepakan Chloe Kelly melewati garis gawang yang dijaga oleh Merle Frohms. Benar, kiper VfL Wolfsburg tersebut berhasil menahan tembakan pertama Kelly, tapi sodokan kedua urung ia selamatkan. 

Alih-alih, Kelly langsung berlari ke pinggir lapangan dan melepas jerseinyameskipun sempat tertahan sedikit karena potensi offside. Sebuah selebrasi ikonik yang menerima rekognisi dari Brandi Chastain. Di depan 87.192 pasang mata di stadion—rekor penonton Piala Eropa terbanyak—dan jutaan pasang mata lewat siaran langsung, Inggris akhirnya berhasil mengangkat trofi Piala Eropa, pertama kalinya tim nasional perempuan Inggris meraih titel kejuaraan. Ia telah pulang. It came home.

Sumber: Michael Regan/Getty Images

Laga final Piala Eropa 2022 antara Inggris melawan Jerman kemarin mencatatkan rekor. Sebanyak 17,4 juta orang menyalakan televisinya, atau menonton via streaming, untuk menyaksikan laga tersebut. Inggris vs. Jerman telah menjadi laga sepak bola perempuan dengan jumlah penonton televisi terbanyak dalam sejarah penyiaran Inggris.

Ini merupakan berita baik yang sebetulnya mengikuti berbagai hal baik pula. Pada Maret 2021, Liga Super Perempuan (Women’s Super League, WSL, merupakan liga utama sepak bola perempuan di Inggris) telah bersepakat dengan media penyiaran BBC dan SkySports untuk menyiarkan siaran langsung WSL dalam beberapa musim ke depan. Angka yang disepakati dilaporkan sebesar 8 juta poundsterling—angka yang memecahkan rekor. Direktur Sepak Bola Perempuan Federasi Sepak Bola Inggris (FA), Kelly Simmons, menyatakan kesepakatan ini sebagai a landmark deal.”

Namun, angka-angka fantastis ini tidak datang begitu saja. Kita tidak perlu menarik jarum jam terlalu jauh dari momen ketika Leah Williamson mengangkat trofi untuk mengetahui jatuh bangun sepak bola perempuan Inggris. Hingga tahun 1971 (lima tahun setelah tim nasional pria Inggris menjuarai Piala Dunia 1966), FA melarang sepak bola dimainkan oleh perempuan di stadion-stadion yang berafiliasi dengan federasi sepak bola Inggris.

Padahal, sepak bola perempuan sendiri sudah menarik minat warga Inggris. Semenjak menjadi terorganisasi di tahun 1880-an dan 1890-an, beberapa kota di Inggris sudah menyelenggarakan liga-liganya tersendiri, dengan klub lokalnya masing-masing. Setelah Perang Dunia I berakhir, pertumbuhan sepak bola perempuan semakin kencang, apalagi yang melibatkan Dick, Kerr Ladies, sebuah tim pabrik dari Preston. Dick, Kerr Ladies kerap memainkan laga internasional, seperti tur ke kota-kota di Prancis. Sepulang dari tur tersebut, euforia telah terbangun dan sebuah laga amal boxing day melawan St Helens di Stadion Goodison Park dihadiri oleh 53.000 penonton. Rekor tersebut tidak akan dipecahkan hingga 92 tahun kemudian. Uang yang dihasilkan juga tidak main-main. Pendapatan dari tiket yang terkumpul sejumlah 3.000 poundsterling, atau setara sekitar 140.000 poundsterling hari ini. Pertandingan tersebut dimenangkan Dick, Kerr Ladies dengan skor 4-0.

Setahun kemudian, justru FA yang melarang sepak bola perempuan. Alasannya, sepak bola dianggap “quite unsuitable” untuk perempuan, dan uang yang dihasilkan oleh pertandingan sepak bola perempuan dipertanyakan muaranya. Begini isi keputusan tersebut:

“Complaints having been made as to football being played by women, Council felt impelled to express the strong opinion that the game of football is quite unsuitable for females and should not be encouraged. 

Complaints have also been made as to the conditions under which some of the matches have been arranged and played, and the appropriation of receipts to other than charitable objects. The Council are further of the opinion that an excessive proportion of the receipts are absorbed in expenses and an inadequate percentage devoted to charitable objects.

For these reasons the Council requests the Clubs belonging to the Association to refuse the use of their grounds for such matches.”

(Wrack, 2021)

Intinya, stadion-stadion yang berafiliasi dengan FA dilarang menggelar laga sepak bola yang dimainkan oleh perempuan. Dengan begitu, sulit bagi sepak bola perempuan dimainkan di venuevenue akbar yang menarik penonton. Hal ini kemudian menghambat pertumbuhan sepak bola perempuan di Inggris. Pihak-pihak yang terafiliasi dengan FA pun dilarang terlibat dalam sepak bola perempuan. Jimmy Broad, ekspemain Stoke City, dihukum ketika ia melatih tim perempuan Chelmsford.

Peran media sangat krusial dalam perkembangan sepak bola Inggris. Liga Primer Inggris, semisal, muncul sebagai hasil investasi konglomerat media BSkyB. Sepak bola perempuan Inggris ketika itu sulit mendapat media coverage. Bahkan, sebatas produksi jersei bertanding juga sulit didapatkan. Kehadiran federasi sepak bola perempuan Inggris (ELFA) juga tidak bertahan lama—bubar pada tahun 1931. Akhirnya, pertandingan-pertandingan sepak bola perempuan mengalami stagnasi—laga yang dijalankan hanya sebatas laga amal level lokal. 

Tahun 1940-an dan 1950-an diwarnai dengan munculnya klub-klub baru seperti Manchester Ladies dan Manchester Corinthians. Tahun 1960-an, mulai terjadi pertumbuhan signifikan klub sepak bola perempuan yang berujung pada pembentukan Women’s FA (WFA) pada 1969 di mana 44 klub hadir di pertemuan perdananya. Tekanan semakin kuat untuk FA menarik larangannya. Pada 1971, larangan stadion menyelenggarakan sepak bola perempuan pun ditarik. Namun, ketika itu tata kelola sepak bola perempuan Inggris masih dilakukan oleh sukarelawan WFA saja. Tahun 1993, FA mengambil alih tata kelola sepak bola perempuan.

Ketika Inggris lolos ke Piala Dunia 1995, mereka tidak punya ruang rapat di hotel dan bus transportasi ke tempat latihan dan stadion tempat berlaga. Barulah pada 1998, sosok krusial dalam perkembangan sepak bola perempuan Inggris muncul: Hope Powell. Sepertinya namanya, Powell memberikan secercah harapan baru dengan berbagai reformasi dan perjuangannya menuntut profesionalisasi sepak bola perempuan—mulai dari fasilitas, kontrak, hingga jalur untuk bermain di tim nasional.

Baru pada 2010-an gelombang profesionalisasi muncul ketika WSL dibentuk pada 2011 sebagai liga semiprofesional. Baru pada musim 2018-19 WSL melakukan restrukturisasi menjadi liga profesional penuh di mana Arsenal menjuarai liga dengan Vivianne Miedema sebagai pencetak gol terbanyak.

***

Momen Williamson mengangkat trofi tidak hadir begitu saja. Sebelum trofi diangkat, ada pelarangan, ada tata kelola berantakan bertahun-tahun, ada perbaikan, dan ada profesionalisasi. Semuanya merupakan proses panjang yang tidak mudah dan mahal. Lebih dari itu, kemauan untuk memulai proses tersebutlah yang krusial.

Melihat euforia dan semakin besarnya antusiasme warga Indonesia terhadap sepak bola perempuan sudah sepatutnya diikuti dengan kebijakan yang sama antusiasnya oleh pemegang kepentingan. Melihat apa yang dilalui oleh sepak bola perempuan di Inggris, bukan tidak mungkin, jika dengan proses yang serius, sepak bola perempuan Indonesia dapat mencapai hal-hal baik. Sebagai penikmat sepak bola, kita dapat mulai menonton sepak bola perempuan baik Indonesia maupun liga top Eropa. 

Referensi:

Alif, Rafi. “Akar Neoliberal dalam Sepak Bola Inggris.” Kontekstual, (n.d.), https://kontekstual.com/akar-neoliberal-dalam-sepak-bola-inggris/ 

“Euro 2022: England win over Germany watched by record television audience of 17.4m.” BBC, 1 Agustus 2022, https://www.bbc.com/sport/football/62375750 

Downey, Sophie. “Hope and glory: 10 moments that changed women’s football in England.” The Guardian, 30 Juli 2022, https://www.theguardian.com/football/2022/jul/30/10-moments-that-changed-womens-football-in-england

Harpur, Charlotte et al. “Banned, ignored… adored: How England fought to become women’s Euro 2022 champions.” The Athletic, 1 Agustus 2022, https://theathletic.com/3464251/2022/07/31/england-women-euro-2022/ 

Skillen, Fiona et al. “‘The game of football is quite unsuitable for females and ought not to be encouraged’: a comparative analysis of the 1921 English Football Association ban on women’s football in Britain and Ireland.” Sport in History, Vol. 42, No. 1 (2022): pp. 49-75.

Wrack, Suzanne. “’A huge step forward’: WSL announces record-breaking deal with BBC and Sky.” The Guardian, 22 Maret 2021, https://www.theguardian.com/football/2021/mar/22/a-huge-step-forward-wsl-announces-record-breaking-deal-with-bbc-and-sky

Wrack, Suzanne. A Woman’s Game: The Rise, Fall, and Rise Again of Women’s Football (UK: Guardian Faber Publishing, 2022).

Wrack, Suzanne. “ How the FA banned women’s football in 1921 and tried to justify it.” The Guardian, 13 Juni 2022, https://www.theguardian.com/football/2022/jun/13/how-the-fa-banned-womens-football-in-1921-and-tried-to-justify-it

HIQuarters, Meet the Author!

Rafi Alif

Rafi Alif adalah mahasiswa HI UI angkatan 2019 dan kebetulan menggemari sepak bola.

Rafi Alif
Rafi Alif

Rafi Alif adalah mahasiswa HI UI angkatan 2019 dan kebetulan menggemari sepak bola.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *